Kategori
Tanpa kategori

Mineral Megaskopis

  1. Deskripsi Mineral Megaskopis
    1. Diskontinous
      1. Olivin (Mg,Fe)2 Si 04

Olivine sebenarnya adalah sebuah nama untuk seri antara dua anggota end, fayalitdan forsterit . fayalit adalah anggota yang kaya zat besi dengan formula murni Fe 2SiO 4 . forsterit adalah anggota magnesium kaya dengan formula murni Mg 2 SiO 4 .The dua mineral membentuk serangkaian mana besi dan magnesium yang menggantikan satu sama lain tanpa banyak berpengaruh pada struktur kristal. Fayalit karena kandungan zat besi yang memiliki indeks bias lebih tinggi, lebih berat dan memiliki warna lebih gelap dari forsterit. Jika tidak, mereka sulit untuk membedakan dan hampir semua spesimen dari dua mineral mengandung besi dan magnesium. Demi kesederhanaan dan pengakuan masyarakat umum, mereka sering diperlakukan sebagai salah satu mineral, olivin. Olivine, namun tidak secara resmi diakui sebagai mineral.

Megaskopis
Warna hijau terkadang cokelat
Belahan  Tidak ada
Pecahan  konkoidal
Kilap gelas
Gores putih
Berat Jenis 3,27 – 3,37
Kekerasan 6,5-7

  1. Piroksen (Mg,Fe,Ca) Si O3

Berwarna cukelat dan hitam;skla kekerasan 6;bentuk prismatik pendek,menyerat,kilap agak buram;belahan baik,saling memotong tegak lurus dengan bentuk sayatan segi delapan.;Asosiasi batuan ultrabasa s/d basa;Sering terubah –> Khlorit.

 

Megaskopis
Warna coklat tua sampai hitam, putih
Belahan 2 arah
Pecahan kolom
Kilap kaca
Gores putih
Berat jenis 2,9-3,6
Kekerasan 5-6,5
Derajat kejernihan translucent-opak
Kemagnetan paramagnerik
Daya tahan brittle

  • Hornblenda Na Ca2 (Mg,Fe,Al)3 (Al,Si)8 O22 (OH)22
Megaskopis
Warna Hitam, Hijau tua kehitaman
Belahan Tidak Sempurna dengan sudut antara 60-900
Pecahan tidak rata
Kilap kaca
Gores abu-abu pucat, abu-abu putih
Berat jenis 3,28-3,41
Kekerasan 5,0-6,0
Derajat kejernihan Translucent-opak
Habit heksagonal/ granular, kristal prismatik, terkadang massive, berserat, bladed, columnar .
Warna Lapuk Hitam putih

  1. Biotit
Megaskopis
Warna Hitam atau coklat
Belahan Sempurna
Pecahan tidak rata
Kilap kaca dan mutiara
Gores putih
Berat Jenis 2,7-3,3
Kekerasan 2,5-3
Derajat kejernihan transparans sampai opak
Habit Lembaran

  1. Deret Kontinue
  1. Anortit
Megaskopis
Warna Putih,  keabu-abuan, kemerah-merahan
Belahan sempurna (001), good (010), poor (110)
Pecahan tidak rata sampai konkoidal
Kilap kaca
Gores Putih, bening keabu-abuan
Berat jenis 2,72-2,75
Kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan transparan sampai translusent
Kembaran common
Daya tahan brittle
Habit anhedral sampai subhedral granular

  1. Bitownit
Megaskopis
Warna abu-abu, coklat muda agak putih, putih kekuningan, ada yang tidak berwarna
Belahan 1 arah
Pecahan konkoidal
Kilap lilin
Gores putih
Berat jenis            2,74-2,76
Kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan Opak
Habit
Sifat Partikel plastis

  1. Labradorit
Megaskopis
Warna Abu-abu,coklat, kehijauan,kebiruan,
Belahan Sempurna (001), Kurang Sempurna (010), tidak sempurna
Pecahan tidak rata sampai konkoidal
Kilap kaca sampai mutiara
Gores putih
Berat Jenis 2,68 – 2,72
Kekerasan 6-6,5
Kembaran Albit
Derajat kejernihan translusen sampai transparan

  1. Andesin
Megaskopis
Warna putih, abu-abu,hijau, kuning, kemerahan
Belahan sempurna di (001) dan baik di (010)
Pecahan konkoidal
Kilap kaca sampai mutiara
gores putih
Berat Jenis 2,68 – 2,72
kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan transparan sampai translucent
habit massive atau granular
daya tahan brittle

  1. Oligoklas

Megaskopis
Warna Putih buram, putih keabu-abuan, bercorak kuning, hijau atau cokelat
Belahan 1 arah, sempurna{001}, kurang sempurna{110}, tidak sempurna{110},
Pecahan Konkoidal
Kilap kaca
Gores putih
Berat Jenis 2,64-2,68
Kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan Tranlucent- transparan

  1. Albit
Megaskopis
Warna Putih abu-abu, kebiruan, kehijauan, kemerahan
Belahan 1 arah
Pecahan Tidak rata (konkoidal)
Kilap kaca
Gores putih
Berat jenis 2,62-2,65
Kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan Translusen-opak
Daya tahan rapuh
Habit divergent agregats, granular, cleavable massive

  1. K- Feldspar (K-Al-Silikat)
Megaskopis
Warna pink, putih, abu-abu, kuning kecoklatan
Belahan baik
Pecahan
Kilap kaca
gores putih
Berat Jenis 2,55-2,76
kekerasan 6
Derajat kejernihan translucent
Daya Tahan brittle

 

  1. Muskovit (K-Al-Cr-Silikat)
Megaskopis
Warna abu-abu terang, putih hingga tak berwarna
Belahan 1 arah
Pecahan micaeous
Kilap kaca
Gores putih
Berat jenis 2,76-3
Kekerasan 2-2,5
Derajat kejernihan translucent
Habit massive atau granular

  1. Kuarsa (SiO2)
Megaskopis
Warna Bening-putih, merah muda coklat
Belahan tidak ada
Pecahan konkoidal
Kilap kaca
Gores putih
Berat jenis 2,6-2,7
Kekerasan 7
Derajat kejernihan transparan
Habit massive atau granular

  1. Deskripsi Mineral Mikroskopis

    1. Kelompok mineral mafik
      • Kelompok olivin
  • Olivin ( orthorombik 2V=700-900 )

Nikol sejajar                                                 Nikol silang

Warna mineral : abu-abu kehijauan                Warna interferensi       : kuning

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : kuat (diatas orde II)

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : jarang didapat

Belahan           : tidak terlihat dibagian tipis

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Abu2 agak kehijauan-transparan
  • Relief tinggi
  • Bentuk poligonal/prismatik
  • Pecahan tak beraturan, tanpa belahan
  • WI orde II
  • Pada bidang pecahan/rekahan sering teralterasi menjadi serpentin
  • Data Optik:   Biaxial (+), a=1.63-1.65, b=1.65-1.67, g=1.67-   1.69, bire=0.0400, 2V(Calc)=88, 2V(Meas)=46-98. Dispersi relatif lemah.

 

 

  • Fayalite ( orthorombik 2V=470-540 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : coklat                                   Warna interferensi       : hitam keabuan

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : –

Belahan           : tidak terlihat dibagian tipis

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna : tidak berwarna sampai kekuningan atau netral
  • Bentuk : euhedral,  kristal anhedral
  • Relief : sangat tinggi
  • Pleokroisme : lemah
  • Indeks bias : n mineral > n balsam
  • Belahan : tidak sempurna dalam satu arah (010)
  • Birefringence : kuat
  • Kembaran : –
  • Sudut pemadaman : paralel
  • Orientasi optis : length slow
  • Sumbu optis : dua (biaxial)
  • Tanda optis : negatif


  1. Kelompok Piroksen
  • Pigeonite ( monoclinic 2V = 00-400 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : lemah sampai kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : Polisintetik

Belahan           : baik

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

Pigeonite tidak berwarna  atau netral. Bentuknya kristal anhedral. Relief tinggi. Pleokroismenya lemah. Indeks bias mineral n mineral > n balsam. Belahannya dalam dua arah (110) pada sudut 87o dan 93o. Birefringencenya sedang, bervariasi dari yang terbawah sampai yang teratas orde kedua. Kembaran mineral ini polisintetik. Sudut pemadamannya bervariasi dari 22o-45o. Orientasi optisnya slower ray. Sumbu optisnya dua (biaxial) dan tanda optis positif.


 

  • Aegerin-Augite ( monoclinic 2V=Ca. 60 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : hijau                                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : umum

Belahan           : ada

Relief              : sedang

Sifat Optik Yang Khas :

Augite mmpunyai rumus kimia (Ca, Na)(Mg, Fe, Al)(Al, Si)2 O6.  Augite hampir tidak mempunyai warna (colorless). Augite berbentuk kristal prismatik pendek dengan relief tinggi. Pleokroisme mineral ini  tidak ada sampai lemah dan Indeks biasnya n mineral > n balsam.  Belahan augite adalah (110) dalam dua arah pada sudut 87o dan 93o. Satu arah dalam sayatan longitudinal, pararel. Kembaran mineral ini umum, polisintetis, kombinasi polisintetik yang dikenal sebagai struktur herringbone. Birefringencenya sedang, kira-kira ditengah orde kedua.   Sudut pemadaman augite bervariasi dari 360-400(C^X).  Tanda rentang optik augite length fast kadang-kadang length slow dan Sumbu optis dua (biaxial) serta tanda optisnya positif.


 

  • Hypersthene ( orthorombic 2V=630-900 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : hijau, pink, coklat                 Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : –

Belahan           : ada

Relief              : sedang sampai tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

Hypersthene memiliki warna netral sampai hijau muda atau merah muda Bentuk dari kristal subhedral prismatik. Relief dari mineral ini tinggi dan pleokroismenya lemah. Indeks bias Hypersthene n mineral > n balsam dengan belahan pararel dengan (110), (010) dan (100). Birefringencenya agak lemah, kuning sampai merah orde pertama. Hypersthene tidak memiliki kembaran. Sudut pemadamannyaparallel. Orientasi optis mineral ini length slow  Sumbu optisnya dua (biaxial) dan tanda optisnya negative.

  • Augite ( 2V=580-620)

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : hijau, ungu                           Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : umum

Belahan           : ada

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik, sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah 90o
  • Gelapan miring, augit 45-54o
  • TO (+) sb2
  • Terdapat belahan, tidak terdapat pleokroisme

 

 

 

 

 

 

 

  • Diopsite(CaMgSi2O6)

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna atau netral

Bentuk : Kristal subhedral

Relief : Tinggi

Pleokroisme : Lemah

Indeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : Dalam dua arah (110) pada sudut 87odan 93o

Bias rangkap : Sedang, bervariasi dari yang terbawah sampai yang teratas orde keII

Kembaran : Polisintetik

Sudut pemadaman : Bervariasi dari 37osampai 44o(C^Z)

Orientasi optis : Slower ray

Sumbu optis : Dua (biaxial)

Tanda optis : Positif

Keterangan : Spesimen mineralDiopside

Bisa sangat mencolok dalam penampilan, dan menarik bagi kolektor mineral.

 

  • Anthophyllite (Mg,Fe)7(OH)2(Si4O11)2

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna atau warna muda

Bentuk : Kristal prismatik panjang dan columnar sampai fibrous

Relief : Tinggi

Pleokroisme : Lemah

Indeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : (110) dalam dua arah pada sudut 54ᵒdan 126ᵒ.Umum.

Bias rangkap : Sedang, teratas sampai terbawah orde-ll

Kembaran : Tidak ada

Sudut pemadaman : Paralel / simetris

Orientasi optis : Length slow

Sumbu optis : Dua (biaxial)

Tanda optis : Positif dan negatif

Keterangan : MenyerupaiTremolite-actinolit danCummingtonite , tetapi dapat dibedakan dari sudut pemadamnya yang paralel.Terakterasi menjaditalcdan sebagian yang terbentuk yang terbentuk disebut hidrusanthopyliteAnthipyliteadalahciri batuanmetamorf dan mineral sekunder dalam peridotit dandunite.

  • Tremolite Actinolite (Ca2(Mg Fe)3(OH)2(SiO4O11)2)

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna sampai hijau muda

Bentuk : Kristal prismatik panjang dan columnar sampai fibrous

Relief : Tinggi

Pleokroisme : Lemah

Indeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : (110) dalam dua arah dalam sudut 56ᵒ dan  124ᵒ

Pararel dengan panjang Bias rangkap : Kuat,ordeII palingatas

Kembaran : Sedang sampai agak kuat. Orde ll

Sudut pemadaman : Dalam sayatan Longitudinal bervariasi dari 10ᵒsampai 20ᵒ(pararel-simetri)

Orientasi optis : Length slow

Sumbu optis : Dua (biaxial)

Tanda optis : Negatif

Keterangan :Tremolithmerupakan amphibole yang tidak berwarna,edenitemenyerupaitremoliteTetapi mempunyai sudut pemandaman yang besar. Tremolitactinoliteteralterasi menjaditalc Tremolite-actionoliteterdapat dalam metamorf kontak  scist  dan gneissdan batu gamping metamorf, juga didapatkann sebagain pengganti pyroxene dalam batuan beku.

  • Cummingtonite (Mg,Fe)7(OH)2(Si4O11)2

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna sampai hijau muda

Bentuk : Kristal prismatik panjang dan columnar sampai fibrous

Relief : Agak tinggi

Pleokroisme : LemahIndeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : (110) dalam dua arah pada sudut 56o  – 124oParaleldenganpanjang

Bias rangkap : Sedang sampai agak kuat, terbawah atau ditengah orde kedua

Kembaran : Polisentrik

Sudut pemadaman : Dalaam sayatan langitudinal bervariasi dari 15o  – 20o

Orientasi optis : Length slow

Sumbu optis : Dua(biaxial)

Tanda optis : Positif

Keterangan :Cummingtonitekadang mempunyai grunerite, tetapicummingtoniteMempunyai sudut pemadaman yang lebih besar dan indeks bias yang lebih kecil dan tanda optisnyayang positif. Dibedakan dengan tremolitedari tanda optisnya yang positif dan di bedakan dengananthophyllite

Dari sudut pemadamannya yang miring.Umum dijumpai pada batuan metamorf.

  • Grunerite (Fe7Si8O22(OH)2)

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna

Bentuk : Columnar sampai fibrous aggregate

Relief : Agak tinggi

Pleokroisme : Lemah

Indeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : Dalam dua arah (110) pada sudut 56odan 124o Pararel dan panjang

Bias rangkap : Agak kuat

Kembaran : Kadang polisintetik

Sudut pemadaman : Dalam sayatan longitudinal bervariasi dari 10o  – 150

Orientasi optis : Length slow

Sumbu optis : Dua (biaxial)

Tanda optis : Negatif

Keterangan : Ini adalah endmember besi dari serigrunerite-cummingtonite. Membentuksebagaiberserat, columnar atauagregatkristalbesar.Kristal monoklinprismatik.Kilapnyaadalahkacasampaimutiaradenganwarnamulaidarihijau,coklatkeabu-abugelap.

 

  • Kelompok Amfibol
  • Hornblende (monoclinic 2V=640-800)

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : coklat, merah, kuning           Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : sedang (orde II)

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : umum

Belahan           : ada

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna kehijauan/kecoklatan,
  • Relief tinggi,
  • Pleokroisme kuat (dikroik/trikroik),
  • Belahan 1 arah atau 2 arah 120o,
  • Bentuk prismatik (biasanya memanjang),
  • Gelapan miring 12-30o


 

  • Biotite ( monoclinic 2V=00-250 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : coklat, hijau, orange             Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      n mineral > n balsam               Kembaran                    : jarang dijumpai

Belahan           : ada

Relief              :sedang sampai  tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna coklat, kemerahan, kehitaman
  • Bentuk berlembar
  • Pleokroisme kuat
  • Gelapan sejajar
  • Umumnya teralterasi dengan klorit dan mineral – mineral lempung
  • Data Optik: Biaxial (-), a=1.565-1.625, b=1.605-1.675, g=1.605-1.675, bire=0.0400-0.0500, 2V(Calc)=0, 2V(Meas)=0-25. Dispersion r > v or r < v.


 

  1. II) Kelompok Mineral Felsik
  2. Kelompok Plagioklas
  • Anortite

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : Berwarna                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      :                                               Kembaran                    : umum

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

 

 


 

  • Bytownite ( triclinic 2V=790-880 )

 

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : umum

Belahan           : sempurna

Relief              : sedang

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna : tidak berwarna
  • Bentuk : kristal subhedral sampai anhedral
  • Relief : sedang
  • Pleokroisme : –
  • Indeks bias : n mineral < n balsam
  • Belahan : (001) sempurna, (010) kurang sempurna, dan (110) tidak sempurna


 

  • Labradorite (triclinic 2V=w60-900)

 

          

 

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : albite

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna : tidak berwarna
  • Bentuk : kristal euhedral sampai anhedral
  • Relief : rendah
  • Pleokroisme : –
  • Indeks bias : n mineral < n balsam
  • Belahan : (001) sempurna, (010) kurang sempurna, dan (110) tidak sempurna
  • Birefringence : lemah, abu-abu atau putih orde pertama
  • Kembaran : albite
  • Sudut pemadaman : kembar albite bervariasi dari 27½0sampai 390. Pada (001) = -70– (- 1v0, pada (010) = -160-(-290)
  • Orientasi optis : –
  • Sumbu optis : dua (biaxial)
  • Tanda optis : positif


 

  • Andesine (triclinic 2V=760-900)

 

     

 

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : albite

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

 

  • Warna : tidak berwarna
  • Bentuk : kristal euhedral sampai anhedral
  • Relief : rendah
  • Pleokroisme : –
  • Indeks bias : n mineral < n balsam
  • Belahan : (001) sempurna, (010) kurang sempurna, dan (110) tidak sempurna
  • Birefringence : lemah, abu-abu atau putih orde pertama
  • Kembaran : albite. Sudut sayatan rhombic bervariasi dari +30sampai –20dalam andein
  • Sudut pemadaman : kembar albite bervariasi dari 130sampai 27½0. Pada (001) = 00-(-70), pada (010) = 00-(-160)
  • Orientasi optis : m


  • Oligoclase ( 2V=820-900 )

 

        

 

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : albite

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna : tidak berwarna
  • Bentuk : kristal euhedral, subhedral dan anhedral
  • Relif : rendah
  • Pleokrisme : –
  • Indeks bias : n mineral < n balsam
  • Belahan : (001) sempurna, (010) kurang sempurna, dan (110) tidak sempurna
  • Birefringence : lemah atau agak lemah, abu-abu atau putih orde pertama
  • Kembaran : albit
  • Sudut pemadaman : kembar albit bervariasi dari 00-120pada (001) = 00-30 pada (010) = 00-(+150)
  • Orientasi optis : –
  • Sumbu optis : dua (biaxial)
  • Tanda optis : positif atau negatif


 

  • Albite ( 2V=770-820)

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : Berwarna                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : polisintetik

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

Memiliki rumus senyawa kimia NaAlSi3 O8, Sodium aluminum silicate. Albi memiliki belahan sempurna dalam searah dan baik untuk arah lainnya. Membentuk prisma yang nyaris sempurna. Pecahannya conchoidal. Warna dari albit ini biasanya putih (Albite berasal dari akar klata yang sama dengan albino) atau tak berwarna, dapat juga berbayang biru, kuning, oranye dan cokelat. Kekerasan 6 – 6.5. Kilap kaca, ceratnya putih dan  kristal-kristalnya jernih sampai kabur dan hanya kadang-kadang transparan.


 

  1. Kelompok Alkali Feldspar
  • Microcline ( triclinic 2V=770-840 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral :Berwarna                               Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : polisintetik

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

Warna tidak berwarna, tetapi berkabut(altrasi). Bentuk kristal subhedral sampai anhedral. Relief rendah. Tidak mempunyai pleokroisme. Indeks bias n mineral < n balsam. Belahan paralel yang sempurna dengan (001). Paralel yang kurang sempurna dengan (010). Paralel yang tidak sempurna dengan (110). Birefringence lemah, abu-abu dan putih orde pertama. Kembaran polisintetic, dalam dua arah(albit dan periclin). Sudut pemadaman pada (001) = +50, pada (010) = +50. Orientasi optik faster ray. Tidak punya Sumbu optik. Tanda optik  negative.


 

  • Sanidine ( monoclinic 2V=00-120 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral :                                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : polisintetik

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna colorless
  • Bentuk tabular
  • Relief rendah
  • Gelapan miring 5o – 15o
  • Tidak terdapat pleokroisme
  • Umumnya teralterasi dengan mineral – mineral lempung dansericite


 

  • Anorthoclase ( 2V=t30-540 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : berwarna                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : polisintetik

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

Warna tidak berwarna. Bentuk fenokris, kristal subhedral. Relief : rendah. Tidak punya leokroism. Indeks bias n mineral < n balsam. Belahan paralel yang sempurna dengan (001). Paralel yang kurang sempurna dengan (010). Kembaran polisintetic. Sudut pemadaman pada (001) = 10-40, pada (010) = +40-100. Orientasi optis dua (biaxial). Tanda optis negative.


 

  • Orthoklas (K,Na) AlSi3O8 (2V = 69o – 72o)

 

       

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : berwarna                              Warna interferensi       : tidak berwana

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : Nm<Ncb                               Kembaran                    : kembaran melintang

Belahan           : satu arah

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Pada sayatan 001 terlihat kembaran carlsbad
  • WI abu2 terang orde I
  • TO sumbu 2 (-)
  • Colorles tapi agak keruh, relief rendah :  nalpha= 1.514 – 1.526, nbeta= 1.518 – 1.530, ngamma = 1.521 – 1.533
  • Bentuk : Umumnya sebagai anhedral sampai euhedral pada batuan beku.
  • Tidak terdapat pleokroisme

 


 

  • Muskovit ( monoclinic 2V=300-400 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : pink, hijau                            Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : jarang ditemukan

Belahan           : sempurna

Relief              : sedang

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna colorless
  • Biaxial negatif
  • Warna colorless
  • Bentuk berlembar
  • Pleokroisme kuat
  • Gelapan sejajar
  • Bentuk dan sifat optik lain mirip biotit


 

  • Kuarsa ( hexagonal)

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : abu-abu orde 1

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : jarang ditemukan

Belahan           : tidak sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Colorless, relief rendah
  • Bentuk tak beraturan, dalam batuan umumnya anhedral
  • Tidak punya belahan
  • Gelapan bergelombang
  • Warna interferensi abu2 orde1
  • TO sumbu I (+)
  • n= 1.544
    ne= 1.553
  • Orientasi optik:  sumbu optik terletak pada sumbu c, perpanjangan kristal memotong ujung-ujung sumbu yang berlengan pendek.
  • Komposisi: kandungan dasarnya berupa SiO2, meskipun bekas kandungan mineral dari Ti, Fe, Mn, Al, kemungkinan dapat ditemukan.
  • Sifatnya tidak mudah terubah dan sangat stabil pada lingkungan yang mudah mengalami pelapukan

 

  • Kelompok Mineral Non Magmatik
  • Kalsit (Heksagonal)

Nikol sejajar                                                    Nikol silang

Warna mineral : berwarna                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      :                                               Kembaran                    : jarang ditemukan

Belahan           : sempurna

Relief              : tinggi

  • Sifat Fisik.

Secara megaskopis mineral ini berwarna putih, kuning,dan merah; kekerasan 3 skala mohs; cerat putih; pecahan uneven/irrengular ; densitas 2.711 g/cm3; belahan 1 arah; kilap kaca, dapat ditembus oleh cahaya.

  • Sifat Kimia.

Komposisi kimia yang penting C, Ca, O; merupakan anggota dari Calcite grup mineral; mengandung unsur karbonat; rumus kimia CaCO3. Mineral ini kaya terhadap kandungan kalsium sehingga dalam proses pelarutan dengan mineral asam ia sangat cepat beraksi

  • Sifat Optik.

Sistem kristal trigonal, termasuk dalam kelas hexagonal scalenohedral, optik nω = 1.640 – 1.660 nε = 1.486.

  • Lingkungan Pembentukan.

Terbentuk di laut, sebagai nodul dalam batuan sedimen, selain itu juga bisa terbentuk pada urat-urat hydrothermal sebagai mineral gang di dalam berbagai batuan beku.


 

  • Klorit (monoklin)

Nikol sejajar                                                    Nikol silang

Warna mineral : hijau, biru, berwarna            Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      :                                               Kembaran                    : umum

Belahan           : sempurna

Relief              : sedang sampia tinggi

  • Sifat Fisik

Secara umum mineral ini berwarna hijau , kekerasan 2 – 2,5 skala mohs; kilap tanah/lilin; pecahan sub-conchoidal ; densitas 2.6 – 3.3 g/cm3; belahan 2 arah; tidak dapat ditembus oleh cahaya; cerat tidak mempunyai warna, bentuk prismatik

  • Sifat Kimia

Komposisi kimia yang penting Al, H, O, Si; mengandung unsur silikat dan aluminum; rumus kimia Al2Si2O5(OH)4..

  • Sifat Optik

Sistem kristal monoclinic, kelas kristal pedial, pleokroisme lemah tidak tampak, mempunyai surface relief rendah, optik (α = 1.570-1.66, β= 1.57-1.67, γ = 1.57-1.67).

  • Lingkungan Pembentukan.

Terbentuk karena alterasi dari metamorfosa tingkat rendah dan alterasi hidrotermal dari mineral besi, magnesium silikat. Sebagian besar di temukan pada betuan beku maupun metamorf.

BAB III
Kesimpulan dan Penutup

  1. Kesimpulan

Deskripsi optis pada mineral merupakan hal yang vakum dalam pembelajaran mineral optik, bahwa dalam menentukan ciri-ciri suatu mineral optik kita harus dapat mendeskripsikan ciri-ciri optik yg menbedakan mineral dengan mineral lain, diantaranya warna, bentuk, indeks bias, relief, dalam nikol sejajar, sedangkan dalam nikol silang yaitu bias rangkap, orientasi, pemadaman, dan kembaran.

Mineral optik merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang mineral yang terkandung pada suatu batuan.Mineral optik membahas tentang mineral- mineral pada batuan dalam bentuk monomineral. Salah satu tujuan mempelajari mineral optik ialah untuk untuk mengetahui cara menentukan sifat-sifat optik mineral, serta mengenal mineral secara mikroskopik.

  1. Penutup

Semoga makalah dapat bermanfaat bagi khalayak umum, penulis juga mengharapkan kepada pembaca agar memberikan kritik dan sarannya. Terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Kategori
Tanpa kategori

Konsep Pembentukan Bumi di Alam Semesta

A. Teori Pembentukan Bumi di Alam Semesta

Terdapat berbagai macam teori-teori pembentukan bumi di alam semesta yang akan diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :

  1. Teori oleh Georges-Louis Leclerc

Tahun 1778 mengemukakan bahwa dahulu kala terjadi tumbukan antara matahari dengan sebuah komet yang menyebabkan sebagian massa matahari terpental keluar. Massa yang terpental inilah yang menjadi planet (Wikipedia, 2015).

  1. Teori Kabut oleh Imanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1755 dan Piere Simon LaPlace (1749-1827) pada tahun 1796

Menurut Kant, pada awalnya alam raya merupakan gumpalan kabut (nebula) yang mengandung debu dan gas, terutama gas helium dan hidrogen. Kabut bergerak dan berputar dengan kecepatan yang sangat lambat sehingga lama kelamaan suhunya menurun dan massanya terkonsentrasi. Kemudian perputarannya menjadi lebih cepat sehingga membentuk sebuah cakram dengan massa terpusat di tengah-tengah cakram. Cincin-cincin kemudian memadat dan membeku sehingga terbentuk planet-planet, sedangkan massa pada bagian pusat membeku membentuk matahari. (Gombez, 2012).

Menurut LaPlace, tata surya berasal dari kabut panas yang berpilin membentuk bola besar. Kemudian terjadi proses pendinginan dan pengkerutan sehingga bola mengecil membentuk cakram yang berputar makin cepat. Selanjutnya sebagian massa gas pada bagian luar cakram menjauh dari gumpalan intinya dan membentuk cincin-cincin. Cincin ini kemudian membentuk gumpalan padat sehingga terbentuklah planet-plenet dan satelit, sedangkan bagianmassa gas yang ditinggalkan di bagian pusat piringan pada inti membentuk matahari. (Gombez, 2012).

  1. Teori Apungan oleh Alfred Lothar Wegener (1912)

Teori ini dipopulerkan pertama kalinya dalam bentuk buku pada tahun 1915 yang berjudul Dje Ensfehung der Konfjnenfe und Ozeane (Asal Usul Benua dan Lautan). Buku tersebut menimbulkan kontroversi besar di lingkungan ahli-ahli geologi, dan baru mereda pada tahun enampuluhan setelah teori Apungan Benua dari Wegener ini semakin banyak mendapatkan dukungan (Geopustaka, 2012).

Wegener mengemukakan teori tersebut dengan pertimbangan sebagai berikut (Geopustaka, 2012) :

  • Terdapat kesamaan yang mencolok antara garis kontur pantai timur benua

Amerika Utara dan Selatan dengan garis kontur pantai barat Eropa dan Afrika. Kesamaan pola garis kontur pantai tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Benua Amerika Utara dan Selatan serta Eropa dan Afrika dahulu adalah daratan yang berimpitan. Berdasarkan fakta bahwa formasi geologi di bagian-bagian yang bertemu ini mempunyai kesamaan (Geopustaka, 2012).

  • Benua-benua yang ada sekarang ini, dahulunya adalah satu benua yang disebut Benua Pangea

Benua Pangea tersebut pecah karena gerakan benua besar si seltan baik ke arah barat maupun ke arah utara menuju khatulistiwa. Daerah Greeland sekarang ini bergerak menjauhi daratan Eropa dengan kecepatan 36 m/tahun, sedangkan Kepulauan Madagaskar menjauhi Afrika Selatan dengan kecepatan 9 m/tahun. Dengan peristiwa tersebut maka terjadilah hal-hal sebagai berikut (Geopustaka, 2012):

  1. Teori Kontraksi oleh Descartes

Teori ini menyatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengerut disebabkan terjadinya proses pendinginan sehingga di bagian permukaanya terbentuk relief berupa gunung, lembah, dan dataran (Geopustaka, 2012).

Teori Kontraksi didukung pula oleh James Dana (1847) dan Elie de Baumant (1852). Keduanya berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadinya proses pendinginan pada bagian dalam bumi yang mengakibatkan bagian permukaan bumi mengerut membentuk pegunungan dan lembah-lembah (Geopustaka, 2012).

  1. Teori Bintang Kembar oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956

Menurut teori bintang kembar, awalnya ada dua buah bintang yang berdekatan (bintang kembar), salah satu bintang tersebut meledak dan berkeping-keping. Akibat pengaruh gravitasi dari bintang kedua, maka keping-keping ini bergerak mengelilingi bintang tersebut dan berubah menjadi plnet-planet. Sedangkan bintang yang tidak meledak adalah matahari. Teori ini mempunyai kelemahan karena berdasarkan analisis matematis yang dilakukan oleh para ahli menunjukan bahwa momentum anguler dalam sistem tata surya yang ada sekarang ini tidak mugkin dihasilkan oleh peristiwa tabrakan dua buah bintang (Gombez, 2012).

  1. Teori Ledakan Maha Dahsyat ( Big Bang) George Gamow, Ralph Alpher danRobert Herman Pada tahun 1948

Dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos keluar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi dari volume yang sangat kecil. Alam semesta lahir dari singularitas fisis dengan keadaan ekstrem. Teori Big Bang ini semakin menguatkan pendapat bahwa alam semesta ini pada awalnya tidak ada tetapi kemudian sekitar 12 milyar tahun yang lalu tercipta dari ketiadaan (Gombez, 2012).

Peristiwa ini dikenal dengan Ledakan Maha Dahsyat ”Big Bang”, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Jagat raya tercipta dari suatuketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Pada awalnya alam semesta ini berupa satu massa maha padat. Massa mahapadat ini dapat dianggap satu atom mahapadat dengan ukuran maha kecil yang kemudian mengalami reaksi radioaktif dan akhirnya menghasilkan ledakan maha dahsyat (Gombez, 2012).

  1. Teori Konveksi oleh Arthur Holmes dan Harry H

Menurut Teori Konveksi yang dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess dan dikembangkan lebih lanjut Robert Diez, dikemukakan bahwa di dalam bumi yang masih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus konveksi ke arah lapisan lava sampai ke permukaan bumi di mid oceanic ridge (punggung tengah samudra), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit bumi yang baru sehingga menggerser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua (Geopustaka, 2012).

Bukti dari adanya kebenaran teori ini ysitu terdapatnya mid oceanic, seperti mid Atlantik Ridge, dan Pasific-Atlantik Ridge di permukaan bumi.

Bukti lainnya didasarkan pada penelitian umur dasar laut yang membuktikan semakin jauh dari punggung tengah samudra, umur batuan semakin tua. Artinya, terdapat gerakan yang berasal dari mid oceanic ridge ke arah yang berlawanan disebabkan oleh adanya arus konveksi dari lapisandi bawah kulit bumi (Geopustaka, 2012).

  1. Teori Planetisimal Hypothesis

Di kemukakan oleh, Forest Ray Moulton, seorang ahli astronomi Amerika bersama rekannya T.C Chamberlain, seorang ahli geologi, yang mengatakan matahari terdiri dari massa gas bermassa besar sekali, pada suatu saat didekati oleh sebuah bintang lain yang melintas dengan kecepatan tinggi di dekat matahari. Pada waktu bintang melintas di dekat matahari dan jarak keduanya relatif dekat, maka sebagian massa gas matahari ada yang tertarik ke luar akibat adanya gravitasi dari bintang yang melintas tersebut. Sebagian dari massa gas yang tertarik ke luar ada yang pada lintasan bintang dan sebagian lagi ada yang berputar mengelilingi matahari karena gravitasi matahari. Setelah bintang melintas berlalu, massa gas yang berputar mengelilingi matahari menjadi dingin dan terbentuklah cincin yang lama-kelamaan menjadi padat dan disebut planetisimal. Beberapa planetisimal yang terbentuk akan saling tarik – menarik dan bergabung menjadi satu dan pada akhirnya membentuk planet, termasuk Bumi (Wikipedia, 2015).

  1. Teori Tidal

Dua orang ilmuwan Inggris, James Jeans dan Harold Jeffreys, pada tahun 1918 mengemukakan teori tidal. Mereka mengatakan pada saat bintang melintas di dekat matahari, sebagian massa matahari tertarik ke luar sehingga membentuk semacam [cerutu]. Bagian yang membentuk cerutu ini akan mengalami pendinginan dan membentuk planet – planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus (Wikipedia, 2015).

  1. Teori Kuiper

Gerald P. Kuiper mengemukakan bahwa pada mulanya ada nebula besar berbentuk piringan cakram. Pusat piringan adalah protomatahari, sedangkan massa gas yang berputar mengelilingi promatahari adalah protoplanet. Dalam teorinya, dia juga memasukkan unsur – unsur ringan, yaitu hidrogen dan helium. Pusat piringan yang merupakan protomatahari menjadi sangat panas, sedangkan protoplanet menjadi dingin. Unsur ringan tersebut menguap dan mulai menggumpal menjadi planet – planet (Wikipedia, 2015).

  1. Teori Whipple

Fred L. Whipple, seorang ahli astronom Amerika mengemukakan pada mulanya tata surya terdiri dari gas dan kabut debu aneh yang mengandung nitrogen yang sedikit kosmis yang berotasi membentuk semacam piringan. Debu dan gas yang berotasi menyebabkan terjadinya pemekatan massa dan akhirnya menggumpal menjadi padat, sedangkan kabutnya hilang menguap ke angkasa. Gumpalan yang padat saling bertabrakan dan kemudian membentuk planet – planet (Wikipedia, 2015).

Sumber

 

Kategori
Tanpa kategori

Prinsip Stratigrafi

A. Pendahuluan

Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi (litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas penyebaran lapisan batuan.

Ilmu stratigrafi muncul untuk pertama kalinya di Britania Raya pada abad ke-19. Perintisnya adalah William Smith. Ketika itu dia mengamati beberapa perlapisan batuan yang tersingkap yang memiliki urutan perlapisan yang sama (superposisi). Dari hasil pengamatannya, kemudian ditarik kesimpulan bahwa lapisan batuan yang terbawah merupakan lapisan yang tertua, dengan beberapa pengecualian. Karena banyak lapisan batuan merupakan kesinambungan yang utuh ke tempat yang berbeda-beda maka dapat dibuat perbandingan antara satu tempat ke tempat lainnya pada suatu wilayah yang sangat luas. Berdasarkan hasil pengamatan ini maka kemudian Willian Smith membuat suatu sistem yang berlaku umum untuk periode-periode geologi tertentu walaupun pada waktu itu belum ada penamaan waktunya. Berawal dari hasil pengamatan William Smith dan kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang susunan, hubungan dan genesa batuan yang kemudian dikenal dengan stratigrafi.

Berdasarkan dari asal katanya, stratigrafi tersusun dari 2 (dua) suku kata, yaitu kata “strati“ berasal dari kata “stratos“, yang artinya perlapisan dan kata “grafi” yang berasal dari kata “graphic/graphos”, yang artinya gambar atau lukisan. Dengan demikian stratigrafi dalam arti sempit dapat dinyatakan sebagai ilmu pemerian lapisan-lapisan batuan. Dalam arti yang lebih luas, stratigrafi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang aturan, hubungan, dan pembentukan (genesa) macam-macam batuan di alam dalam ruang dan waktu.

  • Aturan: Tatanama stratigrafi diatur dalam “Sandi Stratigrafi”. Sandi stratigrafi adalah aturan penamaan satuan-satuan stratigrafi, baik resmi ataupun tidak resmi, sehingga terdapat keseragaman dalam nama
  • Hubungan: Pengertian hubungan dalam stratigrafi adalah bahwa setiap lapisan batuan dengan batuan lainnya, baik diatas ataupun dibawah lapisan batuan tersebut. Hubungan antara satu lapis batuan dengan lapisan lainnya adalah “selaras” (conformity) atau “tidak selaras” (unconformity).
  • Pembentukan (Genesa): Mempunyai pengertian bahwa setiap lapis batuan memiliki genesa pembentukan batuan tersendiri. Sebagai contoh, facies sedimen marin, facies sedimen fluvial, facies sedimen delta, dsb.
  • Ruang: Mempunyai pengertian tempat, yaitu setiap batuan terbentuk atau diendapkan pada lingkungan geologi tertentu. Sebagai contoh, genesa batuan sedimen: Darat (Fluviatil, Gurun, Glacial), Transisi (Pasang-surut/Tides, Lagoon, Delta), atau Laut (Marine: Lithoral, Neritik, Bathyal, atau Hadal)
  • Waktu: Memiliki pengertian tentang umur pembentukan batuan tersebut dan biasanya berdasarkan Skala Umur Geologi. Contoh: Batugamping formasi Rajamandala terbentuk pada kala Miosen Awal; Batupasir kuarsa formasi Bayah terbentuk pada kala Eosen Akhir.

B. Hukum-Hukum Stratigrafi

  1. Uniformitarianisme

The Present is the key to the past.” (James Hutton, 1785) Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang terlihat sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi masa lampau. Uniformitarianisme adalah peristiwa yang terjadi pada masa geologi lampau dikontrol oleh hukum-hukum alam yang mengendalikan peristiwa pada masa kini. Contoh :pembentukan endapan sediment di muara sungai yang membentuk delta, akan menghasilkan 3 bagian yang berbeda kemiringan lapisan batuan, maka bila dijumpai tipe endapan yang terdiri dari top set, bottom set, dan fore set, menunjukkan adanya proses pengendapan di muara sungai. Jadi penentuan paleogeografi bisa ditentukan berdasar pembacaan data yang terekam pada batuan. Dengan mudah kita dapat menentukan kedalaman lingkungan sediment laut berdasar keberadaan fosil organisme,terumbu karang, yang menunjukan laut dangkal, dan endapan diatome untuk laut dalam.

2. Original Horizontality

Sedimen yang baru terbentuk cenderung mengikuti bentuk dasarnya dan cenderung untuk menghorizontal, kecuali cross bedding. Hal ini karena pengaruh sedimen dikontrol oleh hukum gravitasi dan hidrolika cairan.

3. Superposisi

Dalam keadaan yang tidak terganggu, lapisan paling tua akan berada dibawah lapisan yang lebih muda. Hal ini secara logis dapat dijelaskan bahwa proses pengendapan mulai dari terbebtuknya lapisan awal yang terletak di dasar cekungan, selanjutnya ditutup oleh lapisan yang terendapkan kemudian, yang tentu lebih muda dari ditutupinya.

4. Cross Cutting Relationship

Hukum ini menyatakan bahwa “Batuan yang terpotong mempunyai umur geologi yang lebih tua daripada yang memotong.” Prinsip-prinsip Cross-cutting Relationship :

  • Cross-cutting Relationship Stratigrafi, terjadi jika erosi permukaan atau ketidakseragaman memotong batuan yang lebih tua, struktur geologi atau bentuk-bentuk geologi yang lain.
  • Cross-cutting Relationship Struktural, dimana suatu retakan yang memotong batuan yang lebih tua
  • Cross-cutting Relationship Sedimentasi, terjadi jika suatu aliran telah mengerosi endapan yang lebih tua pada suatu tempat. Sebagai contoh suatu terusan atau saluran yang terisi oleh pasir.
  • Cross-cutting Relationship Paleontologi, terjadi jika adanya aktivitas hewan dan tumbuhan yang tumbuh. Sebagai contoh ketika jejak hewan yang terbentuk atau terendapkan pada endapan berlebih.
  • Cross-cutting Relationship Geomorfologi, terjadi pada daerah yang berliku atau bergelombang (sungai, dan aliran di sepanjang lembah).

5. Faunal Succesion

Fosil (fauna akan berbeda pada setiap perbedaan umur geologi, fosil yang berada pada lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan atasnya. Fosil-fosil yang dijumpai pada perlapisan batuan secara perlahan mengalami perubahan kenampakan fisiknya (ekibat evolusi) dalam cara yang teratur mengikuti waktu geologi. Demikian pula suatu kelompok organism secara perlahan digantikan oleh kelompok organism lain. Suatu perlapisan tertentu dicirikan oleh kandungan fosil tertentu. Suatu perlapisan batuan yang mengandung fosil tertentu dapat digunakan untuk koreksi antara suatu lokasi dengan lokasi yang lain.

6. Lateral Continuity

Pengendapan lapisan batuan sedimen akan menyebar secara mendatar, sampai menipis atau menghilang pada batas cekungan dimana ia diendapkan. Lapisan yang diendapakna oleh air terbentuk terus-menerus secara lateral dan hanya membaji pada tepian pengendapan pada masa cekungan itu terbentuk.

7. Law of Inclusion

Suatu tubuh batuan yang mengandung fragmen dari batuan yang lain selalu lebih muda dari tubuh batuan yang menghasilkan fragmen tersebut. Batuan yang menjadi inklusi batuan lain terbentuk lebih dahulu daripada yang mengingklusinya. Hampir sama seperti prinsip cross-cutting. Suatu fragmen (yang direkatkan) dalam batuan sedimen selalu lebih tua dari semen (perekatnya).

8. Kompleksitas

Kondisi tektonik yang lebih kompleks menunjukkan bahwa telah terjadi gangguan tektonik lebih dari satu kali pada daerah tersebut. Hal ini menunjukkan daerah tersebut berumur lebih tua dibanding lapisan batuan yang berstruktur lebih sederhana.

9. Hukum “V”

Pola penyebaran singkapan batuan dipengaruhi oleh kemiringan lapisan batuan dan topografi. Hubungan antara kemiringan lapisan batuan dan topografi daerah dirumuskan dengan Hukum “V”

Hukum ” V” (V Rule) Hubungan antara lapisan yang mempunyai kemiringan dengan bentuk topografi berelief akan menghasillcan .suatu pola singkapan yang beraturan, diamana aturan tersebut dikenal dengan hukum “V”. Aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Lapisan horizontal akan membentuk pola singkapan yang mengikuti pola garis kontur.
  2. Lapisan dengan kemiringan yang berlawanan dengan arah kemiringan lereng maka kenampakan lapisan akan memotong lembah dengan pola singkapan membentuk huruf “V” yang berlawanan dengan arah kemiringan lembah.
  3. Pada lapisan tegak akan membentuk pola singkapan berupa garis lurus dimana pola singkapan ini tidak dipengaruhi oleh keadaan topografi.
  4. Lapisan yang miring searah dengan arah kemiringan lereng dimana kemumgan lapisan lebih besar danpada kemiringan lereng akan membentuk pola smgkapan dengan huruf “V” mengarah sama (searah) dengan arah kemiringan lereng.
  5. Lapisan dengan kemiringan yang searah dengan kemiringan lereng dimana besar kemiringan lapisan lebih kecil dari kemiringan lereng , maka pola singkapannya akan membentuk huruf “V” yang berlawanan dengan arah kemiringan lereng /lembah.
  6. Lapisan yang kemiringan nya searah dengan kemiringan lembah dan besarnya kemiringan lapisan sama dengan kemiringan lereng/lembah maka pola singkapan tampak .

10. Hukum korelasi fasies (walther,1894)

Bila tidak ada selang waktu pengendapan dan tidak ada gangguan struktur, maka dalam satu daur/siklus pengendapan yang dapat dikenal secara lateral juga merupakan urutan vertikalnya.

11.Fasies sedimenter (selley,1978).

Suatu kelompok litologi dengan ciri ciri yg khas (fisik,kimia, bilologi) dan merupakan hasil dari suatu lingkungan pengendapan tertentu yang berkembang secara lateral dan vertikal.

12. Aplikasi Stratigrafi

Tujuan utama semua hukum stratigrafi adalah untuk penentuan umur relatif, yaitu untuk memperkirakan batuan mana yang terbentuk lebih dulu dan batuan mana yang terbentuk terakhir. Juga penentuan umur absolutkapan tepatnya batuan itu terbentuk?”. Ini bisa diketahui melalui metode radiometri/datting dengan mengukur kadar unsur radioaktif batuan sehingga diketahui umur batuan secara tepat.

Daftar Pustaka

  • Noor, Djauhari. 2009. Pengantar Geologi. Bogor: Graha Ilmu.
  • Pambudi, Setyo. 2013. Sedimentologi-Stratigrafi.Yogyakarta:STTNAS.
  • 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Jakarta: IAGI Indonesia.
Kategori
Tanpa kategori

Identifikasi mineral megaskopis dan mikroskopis pada deret bowen

Klik disini

Kategori
Tanpa kategori

Batuan Metamorf

A.Kejadian Batuan Metamorf

Batuan metamorf adalah batuan ubahan yang terbentuk dari batuan asalnya seperti batuan beku, batuan sedimen atau batuan metamorf itu sendiri, berlangsung dalam keadaan padat, akibat pengaruh peningkatan suhu (T) dan tekanan (P), atau pengaruh kedua-duanya yang disebut proses metamorfisme dan berlangsung di bawah permukaan.

Proses metamorfosis meliputi :
– Rekristalisasi.
– Reorientasi
– pembentukan mineral baru dari unsur yang telah ada sebelumnya.

Proses metamorfisme membentuk batuan yang sama sekali berbeda dengan batuan asalnya, baik tekstur maupun komposisi mineral. Mengingat bahwa kenaikan tekanan atau temperatur akan mengubah mineral bila batas kestabilannya terlampaui, dan juga hubungan antar butiran/kristalnya. Proses metamorfisme tidak mengubah komposisi kimia batuan. Oleh karena itu disamping faktor tekanan dan temperatur, pembentukan batuan metamorf ini jika tergantung pada jenis batuan asalnya.

B. Jenis metamorfisme

  1. Metamorfisme thermal (kontak), terjadi karena aktiftas intrusi magma, proses yang berperan adalah panas larutan aktif.
  2. Metamorfisme dinamis, terjadi di daerah pergeseran/pergerakan yang dangkal (misalnya zona patahan), dimana tekanan lebih berperan dari pada panas yang timbul. Seringkali hanya terbentuk bahan yang sifatnya hancuran, kadang-kadang juga terjadi rekristalisasi.
  3. Metamorfisme regional, proses yang berperan adalah kenaikan tekanan dan temperatur. Proses ini terjadi secara regional, berhubungan dengan lingkungan tektonis, misalnya pada jalur “pembentukan pegunungan” dan “zona tunjaman” dsb.

jenis metamorfisme

C. Tekstur batuan metamorf

Tekstur batuan metamorf ditentukan dari bentuk kristal dan hubungan antar butiran mineral.

  1. Homeoblastik, terdiri dari satu macam bentuk :
    “Lepidoblastik”, mineral-mineral pipih dan sejajar .
    “Nematoblastik”, bentuk menjarum dan sejajar.
    “Granoblastik”, berbentuk butir.
  2. Heteroblastik, terdiri dari kombinasi tekstur homeoblastik

tekstur batuan metamorf

D. Struktur batuan metamorfik

  1. Struktur batuan metamorf
    Struktur pada batuan metamorf yang terpenting adalah “foliasi”, yaitu hubungan tekstur yang memperlihatkan orientasi kesejajaran. Kadang-kadang foliasi menunjukkan orientasi yang hampir sama dengan perlapisan batuan asal (bila berasal dari batuan sedimen), akan tetapi orientasi mineral tersebut tidak ada sama sekali hubungan dengan sifat perlapisan batuan sedimen. Foliasi juga mencerminkan derajat metamorfisme.
  2. Jenis-jenis foliasi di antaranya :
    • Gneissic : perlapisan dari mineral-mineral yang membentuk jalur terputusputus, dan terdiri dari tekstur-tekstur lepidoblastik dan granoblastik.
    • Schistosity, perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari selangseling tekstur lepodoblastik dan granoblastik.
    • Phyllitic, perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari tekstur lepidoblastik.
    • Slaty, merupakan perlapisan, umumnya terdiri dari mineral yang pipih dan sangat luas.

Beberapa batuan metamorf tidak menunjukkan foliasi, umumnya masih menunjukkan tekstur “granulose” (penyusunan mineral)berbentuk butir, berukuran relatif sama), atau masif. Ini terjadi pada batuan metamorf hasil metamorfisme dinamis, teksturnya kadang-kadang harus diamati secara langsung dilapangan misalnya; “breksi kataklastik” dimana fragmen-fragmen yang terdiri dari masa dasar yang sama menunjukkan orentasi arah ; “jalur milonit”, yaitu sifat tergerus yang berupa lembar/bidang-bidang penyerpihan pada skala yang sangat kecil biasanya hanya terlihat dibawah mikroskop.

E. Beberapa batuan metamorf yang penting

  1. Berfoliasi
    • Batu sabak (Slate)
      Berbutir halus, bidang foliasi tidak memperlihatkan pengelompokan mineral. Jenis mineral seringkali tidak dapat dikenal secara megakopis, terdiri dari mineral lempung, serisit, kompak dan keras.
      SlateFourColors
    • Sekis (Schist)
      Batuan paling umum yang dihasilkan oleh metamorfosa regional. Menunjukkan tekstur yang sangat khas yaitu kepingan-kepingan dari mineral-mineral yang menyeret, dan mengandung mineral feldspar, augit, hornblende, garnet, epidot. Sekis menunjukkan derajat metamorfosa yang lebih tinggi dari filit, dicirikan adanya mineral-mineral lain disamping mika.
      batu sekis
    • Filit (Phyllite)
      Derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate, dimana lembar mika sudah cukup besar untuk dapat dilihat secara megaskopis, memberikan belahan phyllitic, berkilap sutera pecahan-pecahannya. Juga mulai didapati mineral-mineral lain, seperti turmalin dan garnet.
      Phyllite
    • Gneis (Gneiss)
      Merupakan hasil metamorfosa regional derajat tinggi, berbutir kasar, mempunyai sifat “bended” (“gneissic”). Terdiri dari mineral-mineral yang mengingatkan kepada batuan beku seperti kwarsa, feldspar dan mineral-mineral mafic, dengan jalur-jalur yang tersendiri dari mineral-mineral yang pipih atau merabut (menyerat) seperti chlorit, mika, granit, hornblende, kyanit, staurolit, sillimanit.
      gneis
    • Amfibolit
      Sama dengan sekis, tetapi foliasi tidak berkembang baik, merupakan hasil metamorfisme regional batuan basalt atau gabro, berwarna kelabu, hijau atau hitam dan mengandung mineral epidot, (piroksen), biotit dan garnet.
      AmphiboliteUSGS
  2. Tak berfoliasi
    • Kwarsit
      Batuan ini terdiri dari kwarsa yang terbentuk dari batuan asal batupasir kwarsa, umumnya terjadi pada metamorfisme regional.
      kuarsit
    • Marmer/pualam (Marble)
      Terdiri dari kristal-kristal kalsit yang merupakan proses metamorfisme pada batugamping. Batuan ini padat, kompak dan masive dapat terjadi karena metamorfosa kontak atau regional.
      marmer
    • Grafit
      Batuan yang terkena proses metamorfosa (Regional/thermal), berasal dari batuan sedimen yang kaya akan mineral-mineral organik. Batuan ini biasanya lebih dikenal dengan nama batu bara.
      grafit-resmi
    • Serpentinit
      Batuan metamorf yang terbentuk akibat larutan aktif (dalam tahap akhir proses hidrotermal) dengan batuan beku ultrabasa.
      serpentine-76-b

4.6. Klasifikasi
Untuk mengindentifikasi batuan metamorf, dasar utama yang dipakai adalah strukturnya (foliasi atau tak berfoliasi), dan kandungan mineral utamanya atau mineral khas metamorf (lihat tabel 4.1 dan 4.2). Sedangkan klasifikasi secara umum dapat mempergunakan gambar 4.2.

klasifikasi batuan metamorf-vertmetamorf klasifikasiklasifikasi

Sumber
https://www.thinglink.com/scene/619127461094883328

http://www.pitt.edu/~cejones/GeoImages/6MetamorphicRocks/Slate.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Phyllite

http://www.zodized.in/2014/11/jenis-jenis-batuan.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Amfibolit

http://fastrans22.blogspot.co.id/2013/04/batuan-metamorfosa-full-pic.html

Kategori
Tanpa kategori

Sifat-Sifat Fisik Mineral

Sifat-Sifat Fisik Mineral

Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan  penyusun atom-atom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia tersendiri. Dengan mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat dikenal, sekaligus kita mengetahui susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu (Graha,1987)

Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan adalah:

  1. Kilap (luster)
  2. Warna (colour)
  3. Kekerasan (hardness)
  4. Cerat (streak)
  5. Belahan (cleavage)
  6. Pecahan (fracture)
  7. Bentuk (form)
  8. Berat Jenis (specific gravity)
  9. Sifat Dalam
  10. Kemagnetan
  11. Kelistrikan
  12. Daya Lebur Mineral

Kilap

Merupakan kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral saat terkena cahaya (Sapiie, 2006)

Kilap ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi  jenis:

a.    Kilap Logam (metallic luster): bila mineral tersebut mempunyai kilap atau kilapan seperti logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap logam:

  • Gelena
  • Pirit
  • Magnetit
  • Kalkopirit
  • Grafit
  • Hematit

b.    Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas:

  • Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti intan.
  • Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan kalsit.
  • Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai sutera pada umumnya terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat, misalnya pada asbes, alkanolit, dan gips.
  • Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti damar misalnya pada spharelit.
  • Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti lemak atau sabun, misalnya pada serpentin,opal dan nepelin.
  • Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung misalnya pada kaolin, bouxit dan limonit.

Kilap mineral sangat penting untuk diketahui, karena sifat fisiknya ini dapat dipakai dalam menentukan mineral secara megaskopis. Untuk itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lainnya, walaupun kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena batas kilap yang satu dengan yang lainnya tidak begitu tegas (Danisworo 1994).

Warna

Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi tidak dapat diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral dapat berwarna lebih dari satu warna, tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan pengotoran padanya. Sebagai contoh, kuarsa dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walau demikian ada beberapa mineral yang mempunyai warna khas, seperti:

  • Putih                 :  Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O), Gypsum (CaSO4.H2O), Milky Kwartz (Kuarsa Susu) (SiO2)
  • Kuning              : Belerang (S)
  • Emas                 : Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Ema (Au)
  • Hijau                 :  Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit (Cu CO3Cu(OH)2)
  • Biru                    :  Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2 (Si6O18))
  • Merah                : Jasper, Hematit (Fe2O3)
  • Coklat                : Garnet, Limonite (Fe2O3)
  • Abu-abu           : Galena (PbS)
  • Hitam                : Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit

Kekerasan

Adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu mineral dapat membandingkan suatu mineral terentu yang dipakai sebagai kekerasan yang standard. Mineral yang mempunyai kekerasan yang lebih kecil akan mempunyai bekas dan badan mineral tersebut. Standar kekerasan yang biasa dipakai adalah skala kekerasan yang dibuat oleh Friedrich Mohs dari Jeman dan dikenal sebagai skala Mohs. Skala Mohs mempunyai 10 skala, dimulai dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk mineral terkeras .

 

Skala Kekerasan Mohs

Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 Talc H2Mg3 (SiO3)4
2 Gypsum CaSO4. 2H2O
3 Calcite CaCO3
4 Fluorite CaF2
5 Apatite CaF2Ca3 (PO4)2
6 Orthoklase K Al Si3 O8
7 Quartz SiO2
8 Topaz Al2SiO3O8
9 Corundum Al2O3
10 Diamond C

Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini diberikan kekerasan dari alat penguji standar :

Alat Penguji Derajat Kekerasan Mohs
Kuku manusia 2,5
Kawat Tembaga 3
Paku 5,5
Pecahan Kaca 5,5 – 6
Pisau Baja 5,5 – 6
Kikir Baja 6,5 – 7
Kuarsa 7

 

Cerat

Cerat adalah warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat dapat diperoleh apabila mineral digoreskan pada bagian kasar suatu keping porselin atau membubuk suatu mineral kemudian dilihat warna dari bubukan tersebut. Cerat dapat sama dengan warna asli mineral, dapat pula berbeda. Warna cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna mineralnya berubah-ubah. Contohnya :

  • Pirit :  Berwarna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna hitam.
  • Hematit :  Berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.
  • Augite :  Ceratnya abu-abu kehijauan
  • Biotite :  Ceratnya tidak berwarna
  • Orthoklase  :  Ceratnya putih

Warna serbuk, lebih khas dibandingkan dengan warna mineral secara keseluruhan, sehingga dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi mineral (Sapiie, 2006).

Belahan

Balahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah diri pada satu atau lebih arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang mampu membelah yang oleh sini adalah bila mineral kita pukul dan tidak hancur, tetapi terbelah-belah menjadi bidang belahan yang licin. Tidak semua mineral mempunyai sifa ini, sehingga dapat dipakai istilah seperti mudah terbakar dan sukar dibelah atau tidak dapa dibelah. Tenaga pengikat atom di dalam di dalam sruktur kritsal tidak seragam ke segala arah, oleh sebab itu bila terdapat ikatan yang lemah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui bidang-bidang tersebut. Karena keteraturan sifat dalam mineral, maka belahan akan nampak berjajar dan teratur (Danisworo, 1994).

Contoh mineral yang mudah membelah adalah kalsit yang mempunyai tiga arah belahan sedang kuarsa tidak mempunyai belahan.  Berikut contoh mineralnya:

a. Belahan satu arah, contoh : muscovite.

b. Belahan dua arah, contoh   : feldspar.

c. Belahan tiga arah, contoh    : halit dan kalsit.

Pecahan

Pecahan adalah kecenderungan mineral untuk terpisah-pisah dalam arah yang tidak teratur apabila mineral dikenai gaya. Perbedaan pecahan dengan belahan dapat dilihat dari sifat permukaan mineral apabila memantulkan sinar. Permukaan bidang belah akan nampak halus dan dapat memantulkan sinar seperti cermin datar, sedang bidang pecahan memantulkan sinar ke segala arah dengan tidak teratur (Danisworo, 1994).

Pecahan mineral ada beberapa macam, yaitu:

  • Concoidal: bila memperhatikan gelombang yang melengkung di permukaan pecahan, seperti kenampakan kulit kerang atau pecahan botol. Contoh Kuarsa.
  • Splintery/fibrous: Bila menunjukkan gejala seperti serat, misalnya asbestos, augit, hipersten
  • Even: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan halus, contoh pada kelompok mineral lempung. Contoh Limonit.
  • Uneven: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan yang kasar, contoh: magnetit, hematite, kalkopirite, garnet.
  • Hackly: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan kasar tidak teratur dan runcing-runcing. Contoh pada native elemen emas dan perak.

Bentuk

Mineral ada yang berbentuk kristal, mempunyai bentuk teratur yang dikendalikan oleh system kristalnya, dan ada pula yang tidak. Mineral yang membentuk kristal disebut mineral kristalin. Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas disebut amorf (Danisworo, 1994).

Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas, misalnya:

a.    Bangun kubus                     : galena, pirit.

b.    Bangun pimatik                  : piroksen, ampibole.

c.    Bangun doecahedon         : garnet

Mineral amorf misalnya          : chert, flint.

Kristal dengan bentuk panjang dijumpai. Karena pertumbuhan kristal sering mengalami gangguan. Kebiasaan mengkristal suatu mineral yang disesuaikan dengan kondisi sekelilingnya mengakibatkan terjadinya bentuk-bentuk kristal yang khas, baik yang berdiri sendiri maupun di dalam kelompok-kelompok. Kelompok tersebut disebut agregasi mineral dan dapat dibedakan dalam struktur sebagai berikut:

  • Struktur granular atau struktur butiran yang terdiri dari butiran-butiran mineral yang mempunyai dimensi sama, isometrik. Dalam hal ini berdasarkan ukuran butirnya dapat dibedakan menjadi kriptokristalin/penerokristalin (mineral dapat dilihat dengan mata biasa). Bila kelompok kristal berukuran butir sebesar gula pasir, disebut mempunyai sakaroidal.
  • Struktur kolom: terdiri dari prisma panjang-panjang dan ramping. Bila prisma tersebut begitu memanjang, dan halus dikatakan mempunyai struktur fibrous atau struktur berserat. Selanjutnya struktur kolom dapat dibedakan lagi menjadi: struktur jarring-jaring (retikuler), struktur bintang (stelated) dan radier.
  • Struktur Lembaran atau lameler, terdiri dari lembaran-lembaran. Bila individu-individu mineral pipih disebut struktur tabuler,contoh mika. Struktur lembaran dibedakan menjadi struktur konsentris, foliasi.
  • Sturktur imitasi : kelompok mineral mempunyai kemiripan bentuk dengan benda lain. Mineral-mineral ini dapat berdiri sendiri atau berkelompok.

Bentuk kristal mencerminkan  struktur dalam sehingga dapat dipergunakan untuk pemerian atau pengidentifikasian mineral (Sapiie, 2006).

Berat Jenis

Adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air, misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat miberal dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut.

Sifat Dalam

Adalah sifat mineral apabila kita berusaha untuk mematahkan, memotong, menghancurkan, membengkokkan atau mengiris. Yang termasuk sifat ini adalah

  • Rapuh (brittle): mudah hancur tapi bias dipotong-potong, contoh kwarsa, orthoklas, kalsit, pirit.
  • Mudah ditempa (malleable): dapat ditempa menjadi lapisan tipis, seperti emas, tembaga.
  • Dapat diiris (secitile): dapat diiris dengan pisau, hasil irisan rapuh, contoh gypsum.
  • Fleksible: mineral berupa lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah dan sesudah bengkok tidak dapat kembali seperti semula. Contoh mineral talk, selenit.

Blastik: mineral berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan dapat kembali seperti semula bila kita henikan tekanannya, contoh: muskovit.

Kemagnitan

Adalah sifat mineral terhadap gaya magnet. Diatakan sebagai feromagnetic bila mineral dengan mudah tertarik gaya magnet seperti magnetik, phirhotit. Mineral-mineral yang menolak gaya magnet disebut diamagnetic, dan yang tertarik lemah yaitu paramagnetic. Untuk melihat apakah mineral mempunyai sifat magnetik atau tidak kita gantungkan pada seutas tali/benang sebuah magnet, dengan sedikit demi sedikit mineral kita dekatkan pada magnet tersebut. Bila benang bergerak mendekati berarti mineral tersebut magnetik. Kuat tidaknya bias kita lihat dari besar kecilnya sudut yang dibuat dengan benang tersebut dengan garis vertical.

Kelistrikan

Adalah sifat listrik mineral dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu pengantar arus atau londuktor dan idak menghantarkan arus disebut non konduktor. Dan ada lagi istilah semikonduktor yaitu mineral yang bersifat sebagai konduktor dalam batas-batas tertentu.

Daya lebur mineral

Yaitu meleburnya mineral apabila dipanaskan, penyelidikannya dilakukan dengan membakar bubuk mineral dalam api. Daya leburnya dinyatakan dalam derajat keleburan.

Kategori
Tanpa kategori

Mineral Silikat

Mineral silikat

  1. Pengertian

Mineral silikat adalah mineral yang paling mendominasi permukaan bumi. Hampir 95 persen mineral yang pernah ditemukan  di kerak bumi merupakan mineral silikat yang terdiri dari feldspar dan kuarsa. Kehadirannya yang melimpah menyebabkan mineral silikat menjadi kelompok mineral paling utama dari mineral-mineral pembentuk batuan.

Silicate adalah mineral yang tersusun atas silica dan alumunium silica. Melimpahnya mineral ini sebagai dampak akibat melimbahnya unsure oksigen, silicon dan alumunium di kerak bumi ( O= 47 persen, Si=28 persen dan Al=8 persen). Ion silica (Si+4) dan ion oksigen (O-2) saling berikatan membentuk tetrahedral silica (SiO4)-4

Dalam penggabungannya, ikatan yang terjadi dalam tetrahedral silicat anatara ion silica dan oksigen adalah ikatan setengah kovalen, dan setengah ionic.

Mineral silikat dikelompokkan berdasarkan pada cara penggabungan tetrahedra silika dan pola penggunaan bersama ion oksigen dalam struktur kristal. Tetrahedra dapat terbentuk independen tunggal dalam beberapa mineral, namun pada beberapa mineral lain mereka dapat pula bergabung dengan tetrahedra lain dengan cara berbagi satu, dua, tiga, atau keseluruhan empat anion oksigen. Kemungkinan penggabungan tersebut memberikan berbagai bentuk struktur mineral silikat. Struktur silikat semakin kompleks bila jumlah oksigen yang dipergunakan bersama unit SiO4-di dekatnya juga bertambah. Ketika jumlah oksigen bersama bertambah, struktur semakin terbuka dan semakin berkurang densitasnya, semakin banyak tempat untuk masuknya ion-ion besar, seperti kation Na+dan K+serta anion (OH)-.

  1. Struktur dan klasifikasi silikat

Berdasarkan cara penggabungan tetrahedra silika dan pola penggunaan bersama ion oksigen, silikat dibedakan dalam 6 kelompok, yaitu:

  1. Nesosilicates
  • Pengertian dan ciri

Neso= pulau, adalah mineral silikat yang dicirkan oleh tetrahedra silika tunggal yang tidak saling membagi ion oksigen dengan tetrahedra silika lainnya. Dengan kata lain tetrahedral silika yang belum bergabung satu sama lain, hanya berupa gugus-gugus silika yang terdiri dari 1 atom oksigen, dikelilingi 4 atom Si. Perbandingan ion silika (Si4+)  terhadap ion oksigen (O2-) dalam bangun tetrahedra adalah 1 : 4. Perbandingan ini mencerminkan rumus mineral nesosilikat, yang selalu tersusun oleh komponen (SiO4)4- sebagai tetrahedra tunggal. (SiO4)4- tidak berikatan dengan (SiO4)4- secara langsung, dihubungkan oleh ikatan ionic dari kation-kation terrestrial.

  • Gambar struktur

Lingkaran merah merupakan kation-kation terestrial

  • Contoh mineral

Olivine, Fayalite, Forsterit, Kelompok Garnet , Topaz

  1. Sorosilicate
  • Pengertian dan ciri

Dua tetrahedral saling berikatan membentuk satu unit, pada setiap tetrahedron satu O dipakai bersama dengan tetrahedron lainnya membentuk struktur menyerupai “ikatan dasi kupu-kupu”. Perbandingan ion silica (SiO4)4-  terhadap ion oksigen (O2-) adalah

2 : 7, mencerminkan rumus dasar sorosilikat yang selalu mengandung unsur (Si2O7)-6.

  • Gambar struktur
  • Contoh mineral

Kelompok Epidot terdiri dari lima mineral, yaitu epidot, klinozoisit, alanit, piemontit dan zoisit.

 

  1. Siklosilicate
  • Pengertian dan ciri

Kikos = lingkaran, bila dua atau lebih tetrahedral silica berikatan dengan menggunakan 2 atom O nya dan membentuk struktur tertutup seperti lingkaran. Perbandingan ion silika (Si4+) terhadap ion (O2-) adalah 1 : 3. Dalam siklosilikat, struktur yang terbentuk adalah cincin, dengan tiga bentuk dasar, yaitu: segitiga, segiempat Si4O12, dan heksagonal Si6O18.

  • Gambar struktur

 

  • Contok mineral

Benitoit (BaTiSi3O9), Aksinit (Ca,Fe,Mn)3Al2(BO3)(Si4O12)(OH), Beril (Be3Al2Si6O18)

 

  1. Inosilicate
  • Pengertian dan cirri

Ino = benang, dalam inosilikat tetrahedral dalam jumlah tak terhingga atau terhingga dihubungkan  melalui ion oksigen yang dipergunakan bersama membentuk struktur rantai.

Ada 2 tipe utama struktur rantai inosilikat, yaitu :

  • Struktur rantai tunggal, di mana tetrahedral single berikatan dengan single tetrahedral lainnya melalui oksigen. Struktur rantai tunggal ini diwakili oleh kelompok mineral terpenting pembentuk batuan yaitu kelompok Piroxen
  • Struktur rantai ganda, di mana 2 rantai single tetrahedral berikatan satu sama lain. Dan diwakili oleh kelompok mineral terpenting pembentuk batuan yaitu kelompok Amphibole

 

  • Gambar struktur

Rantai tunggal

Rantai ganda

  • Contok mineral

Rantai tunggal : Kelompok piroksen (Si2O6) contoh:  Enstatit, Diopsid, Augit, Aegirin, Jedeit.

Rantai ganda : Kelompok amfibol (Si8O22), terbagi menjadi 5 seri yaitu :  Tremolit-Aktinolit, Hornblende, Anthofilit, Cummingtonit, dan Alkali Amfibol.

Dalam inosilikat terdapat satu kelompok lagi yaitu kelompok Piroxenoid. Struktur kelompok piroxenoid hampir sama dengan kelompok piroxen, akan tetapi rantai pada struktur piroxenoid lebih tidak teratur, membelit, dan hampir seperti skrup. Strukturnya yang tidak teratur menyebabkan bentuknya memiliki tingkat simetrisan yang rendah. Dan hampir semua system kristalnya adalah triklinik.

Contoh mineral : Wolastonit, Rodhonit, dan Pektolit.

  1. Filosilikat
  • Pengertian dan ciri

Phillon = daun, ketika beberapa rantai tetrahedra silika dihubungkan melalui ion oksigen bersama. 3 atom O dipakai bersama oleh satu tetrahedral dengan tetrahedral lain. Rantai-rantai tersebut akan membentuk lembaran dalam dua dimensi, yang merupakan penciri mineral filosilikat. Silikat ini lazim disebut silikat lembaran, memiliki rasio Si/O 2 : 5 atau 4 : 10.

Karena dominasi (SiO4) tak terhingga dalam struktur, maka pola serpihan mineralnya cukup datar dan ada celah nyata, lembut dan memiliki spesifik gravity yang rendah, fleksibel dan elastic.

  • Gambar struktur

Dalam subkelas filosilikat terdapat :

  1. Mika Group : terdiri dari mineral Muskovit, Biotit, Lepidolit, Glaukonit, flogopit, apofilit.
  • Contoh mineral

Mineral filosilikat yang banyak dijumpai adalah serpentin, talk, klorit, mika, biotit, muskovit dan lempung. Mineral filosilikat lainnya yang tidak begitu melimpah adalah apofilit, prehnit, dan stilpnomelan.

  1. Tektosilikat
  • Pengertian

Mineral tectosilikat tersusun oleh tetrahedra silika yang terhubungkan melalui seluruh anion oksigen kepada tetrahedra di dekatnya dalam bentuk struktur kerangka tiga-dimensi. Mineral tektosilikat, seringkali disebut silikat kerangka, memiliki rasio Si/O 1 : 2. Dua kelompok utama mineral tektosilikat adalah kelompok silika SiO2 dan kelompok silikat aluminium feldspar. Kelompok tektosilikat penting lainnya mencakup: kelompok feldspatoid yang miskin silika namun kaya aluminium, dan kelompok zeolit yang kaya aluminium terhidrasi.

  • Gambar struktur

 

Dalam subklas tektosilikat terdapat :

  1. Silikat Group : terditri dari 5 mineral yang berbeda yaitu kuarsa, tridimit, kristobalit, opal, dan lekatelierit.

Kuarsa sangat mudah ditemukan, tridimit dan kristobalit tersebar pada batuan vulkanik tapi termasuk jarang, opal merupakan mineral yang tidak biasa dan lekatelierit merupakan mineral yang tergolong sangat jarang.

  1. Feldspar Group : merupakan mineral paling penting karena kelimpahannya sangat melimpah di permukaan bumi, terutama mudah ditemuai pada batuan vulkanik. terdiri dari dua sub-kelompok utama, yaitu feldspar potasium dan plagioklas.
  • Kelompok feldspar potasium mencakup polimorf ortoklas, mikroklin, dan sanidin, yang semuanya ditulis dengan rumus KAlSi3O8.

 

  • Kelompok plagioklas, dengan rumus kimia (Ca,Na)(AlSi)AlSi2O8.

Rumusan tersebut mencerminkan pergantian ion antara mineral albit (NaAlSi3O8) dan anortit (CaAl2Si2O8) yang menjadi cirri kelompok plagioklas. Sehingga komposisi plagioklas dinyatakan dalam proporsi anortit (%An), dimana komponen albit dinyatakan sebagai (100% – %An), menghasilkan enam varian plagioklas.

Yaitu           : Albite                                       Asam

                       Ologoklas

                       Andesin                                   Intermediet

                       Labradorit

                       Bitownit

                       Anortit                                     Basa

 

 

  1. Kelompok Feldspatoid : Sebagaimana feldspar, feldspatoid adalah tektosilikat pembawa aluminium. Namun feldspatoid memiliki kandungan silika lebih rendah dan kandungan aluminium lebih tinggi. Akibatnya, lebih banyak kation alkali (potasium, sodium, dan kalsium) yang diperlukan untuk menetralkan feldspatoid.

 

  • Identifikasi mineral :

Habit : Crystal commonly prismatic terminated by two sides of rhombohedral.

Cleavage and fracture : Generally none, concoidal.

Hardness : 7

Color : usually colorless or white

Streak : white

Luster : Vitreous in macrocrystalin, and waxy or dull in cryptocrystalin varieties.

Kuarsa dibagi atas 2 varietas, yaitu makrokristalin dan kriptokristalin:

Makrokristalin : milky quartz, amethyst, rose quartz, smoky quartz, citrine.

Kriptokristalin : Agate, jasper, karnelian, chert, tiger eye.

 

Muscovite and biotit :

Cristal system : monoclinic

Habit : usually in lameral ,asses or small flakes

Cleavage : 1 direction

Hardness : 2,5 (on cleavage), 4 (across cleavage)

Color : colorless or pale brown, gray (muscovite), dark green, brown, or black (biotite with iron content)

Streak : White

Luster : Vitreous sometimes pearly

 

opal

crystal system : none

hardness : 5.5-6.5

color : colorless, milky, also white, gray

streak : white

luster : vitreous or waxy

 

 

 

 

Kategori
Tanpa kategori

Bentang Alam Karst

Bentang Alam Karstmenara karst

A. Definisi Bentang Alam Karst

  • Karst dalam bahasa Jerman adalah topografi hasil pelarutan.
  • Jadi bentang alam Karst adalah bentang alam yang dulunya berada dibawah air laut yang mengalami karstifikasi kemudian mengalami pergerakan lempeng sehingga bentang alam itu berada didaratan. ”pendapat penulis”.
  • Menurut Jenning (1971) didefinisikan sebagai lahan dengan relief dan pola penyaluran yang aneh, berkembang pada batuan yang mudah larut pada air alam dan dijumpai pada semua tempat pada lahan tersebut.
  • Flint dan Skinner (1977) mendefinisikan sebagai daerah yang berbatuan yang mudah larut dengan surupan (sink) dan gua yang berkombinasi membentukk topografi yang aneh (peculiar topography) dan dicirikan oleh adanya lembah kecil, penyaluran tidak teratur, aliran sungai secara tiba-tiba masuk kedalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang besar.
  • Maka Bentang Alam Karst adalah “Suatu topografi yang terbentuk pada daerah dengan litologi berupa batuan yang mudah larut, menunjukkan relief yang khas, penyaluran yang tidak teratur, aliran sungainya secara tiba-tiba masuk kedalam tanah dan meninggalkan lembah kering untuk kemudian keluar ditempat lain sebagai mata air yang besar”.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentang alam Karst

  1. Faktor Fisik
    1. Ketebalan batugamping

Perkembangan karst yang baik adalah batu gamping yang tebal, dapat masif atau yang terdiri dari beberapa lapisan dan membentuk unit batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum habis terlarutkan.

Namun yang paling baik adalah batuan yang masif, karena pada batugamping berlapis biasanya terdapat lempung yang terkonsentrasi pada bidang perlapisan, sehingga mengurangi kebebasan sirkulasi air untuk menembus seluruh lapisan.

2. Porositas dan permeabilitas

Berpengaruh dalam sirkulari air dalam batuan. Semakin besar porositas sirkulasi air akan semakin lancar sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif.

3. Intensitas struktur (kekar)

zona kekar adlah zona lemah yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan, proses pelarutan berlangsung intensif.

Kekar yang baik untuk proses karstifikasi adalah kekar berpasangan (kekar gerus), karena kekar tsb berpasangan sehingga mempertinggi porositas dan permeabilitas. Namun apabila intensitas kekar sangat tinggi batuan akan mudah tererosi atau hancur sehingga proses karstifikasi terhambat.

2. Faktor Kimia

Kondisi kimia batuan, dalam pembentukan topografi kars diperlukan sedikitnya 60% kalsit dalam batuan dan yang paling baik diperlukan 90% kalsit. Kondisi kimia media pelarut, dalam proses karstifikasi media pelarutnya adalah air, kondisi kimia air ini sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Kalsit sulit larut dalam air murni, tetapi mudah larut dalam air yang mengandung asam.

Air hujan mengikat CO2 di udara dan dari tanah membentuk larutan yang bersifat asam yaitu asam karbonat (H2CO3).Larutan inilah yang sangat baik untuk melarutkan batugamping.

3. Faktor biologis

Aktivitas tumbuhan dan mikrobiologi dapat menghasilkan humus yang menutup batuan dasar, mengakibatkan kondisi anaerobic sehingga air permukaan masuk ke zona anaerobic, tekanan parsial CO2 akan meninggkat sehingga kemampuan melarutkannya juga meningkat.

  1. Faktor iklim dan lingkungan

Kondisi lingkungan yang mendukung adalah adanya lembah besar yang mengelilingi tempat yang tinggi yang terdiri dari batuan yang mudah larut (batugamping) yang terkekarkan intensif. Kondisi lingkungan di sekitar batugamping harus lebih rendah sehingga sirkulasi air berjalan dengan baik, sehingga proses karstifikasi berjalan dengan intensif.

C. Proses Pembentukan Bentang Alam Karst

Kondisi batuan yang menunjang terbentuknya topografi karst ada 4, yaitu:

  1. Mudah larut dan berada di atau dekat permukaan.
  1. Masif, tebal dan terkekarkan.
  1. Berada pada daerah dengan curah hujan yang tinggi.
  1. Dikelilingi lembah

Proses pelarutan pada batugamping, meninggalkan morfologi sisa pelarutan, perkembangan morfologi sisa ini dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu :

  1. Terjadi pelarutan pada batuan terkekarkan sehingga membentuk lembah yang kemudian merupakan zona yang lebih cepat mengalami pelarutan (zona A) dibandingkan dengan zona B yang tidak mengalami pengkekaran.pelarutan
  2. Karena zona A lebih cepat mengalami pelarutan, maka zona ini segera terbentuk lembah yang dalam, sementara pada zona B masih berupa dataran tinggi dengan gejala pelarutan di beberapa tempat.pelarutan2
  3. Pelarutan pada kedua zona terus berjalan sehingga pada fase ini mulai terbentuk kerucut-kerucut karst pada zona B. Pada kerucut karst ini tingkat pelarutan/erosi vertikalnya lebih kecil dibandingkan lembah di sekitarnya.pelarutan3
  4. Karena adanya erosi lateral oleh sungai maka zone A berada pada batas permukaan erosi dan pada zona B erosi vertikal telah berjalan lebih lanjut sehingga hanya tinggal beberapa morfologi sisa saja, morfologi sisa ini disebut menara karst.pelarutan4

D. Bentuk-Bentuk Bentangalam Karst:

Dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu bentuk-bentuk minor dan bentuk-bentuk mayor. Menurut Bloom (1979):

  • karst minor adalah bentang alam yang tak dapat diamati pada foto udara atau peta topografi.
  • karst mayor adalah bentang alam yang dapat diamati baik didalam foto udara atau peta topografi.

    Bentuk-bentuk topografi karst minor adalah :

  1. LapiesMerupakan bentuk tak rata pada permukaan batugamping akibat adanya proses pelarutan, penggerusan atau karena proses lain. Klasifikasi Lapies menurut Ritter (1979):.lapies
  2. Karst Split 

Adalah celah pelarutan yang terbentuk dipermukaan. Kars split sebenarnya merupakan perkembangan dari kars-runnel (solution runnel). Bila jumlah kars runnel banyak dan saling berpotongan maka akan membentuk kars split (Srijono, 1984 dalam Widagdo, 1984).

3. Parit Karst

Adalah alur pada permukaan yang memanjang membentuk parit. Srijono (1984), mengemukakan bahwa parit kars ini merupakan kars split yang memajang sehingga membentuk parit kars.parit karts

4. Palung Karst

Adalah alur pada permukaan batuan yang besar dan lebar, dibentuk oleh proses pelarutan. Kedalamannya dapat mencapai lebih dari 50 cm. biasanya terbentuk pada permukaan batuan yang datar atau miring rendah dan dikontrol oleh struktur yang memanjang.

5. Speleothem

Adalah hiasan yang terdapat didalam gua yang dihasilkan oleh endapan berwarna putih, bentuknya seperti tetesan air, mengkilat dan menonjol. Hiasan ini merupakan endapan CaCO3 yang mengalami presipitasi pada saat air tanah yang membawanya masuk kedalam gua (Sanders, J.E., 1981). V.8). contoh Stalagmit, Stalagtit dan Masif Column. Massif column adalah bila stalagmite dan stalagtit bertemu.stalactite dan stalagmite

6. Fitokarst

Adalah permukaan yang berlekuk-lekuk, dengan lubang-lubang yang saling berhubungan. Antara lubang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh tepi-tepi yang tajam, sehingga memberikan bentuk seperti bunga karang pada menara (pinnacles) kars. Morfologi ini terbentuk karena adanya pengaruh aktifitas biologis yaitu adanya algae yang yang tumbuh didalam batugamping.

Bentuk-bentuk bentang alam karst mayor:

  1. Surupan (doline atau Sinkhole) 

Yaitu depresi tertutup hasil pelarutan denagn diameter mulai dari beberapa meter sampai beberapa kilometer, kedalamannya mencapai ratusan meter dan bentuknya dapat bundar atau lonjong (oval), (Twidale, 1967).doline

Menurut Cvijic, bentuk doline dibedakan menjadi:

– Doline Mangkok: perbandingan lebar dan kedalaman 10:1 dan kemiringan lereng doline berkisar antara 100-120.

– Doline Corong: diameter dua atau tiga kali kedalamannya dan lereng doline berkisar antara 300-400

– Doline sumuran: diameter lebih kecil dari kedalamannya, lereng vertikal.

Menurut Bogli (1980) berdasarkan cara pembentukan (genetik), doline dibedakan menjadi:

-Doline pelarutan: terbentuk oleh pelarutan yang terkonsentrasi akibat keberadaan kekar,pelebaran pori-pori batuan, dijumpai di sebagian besar awal proses karstifikasi.

-Doline aluvial: hampir sama dengan doline pelarutan tetapi batugamping tertutup oleh endapan aluvial, cekungan terjadi karena aluvium terbawa ke sistem drainase bawah permukaan

-Doline amblesan: terjadi karena lapisan batugamping ambles perlahan-lahan karena di bawah lapisan batugamping terdapat rongga.

-Doline runtuhan: terbentuk akibat goa/saluran dekat permukaan runtuh akibat tidak mampu menahan atapnya.

2. Uvala

Adalah gabungan beberapa doline sehingga membentuk depresi tertutup besar dan lantai dasarnya tidak rata. Ukuran diameternya berkisar antara 5 – 1000 meter dan kedalamannya berkisar antara 1- 200 meter, dindingnya curam

3. Polje

Depresi tertutup yang besar dengan lantai dasar dan dinding yang curam, bentuknya tidak teratur dan biasanya memanjang searah jurus perlapisan atau zona lemah structural.

Ciri-ciri polje:

  1. Dasar yang rata berupa batuan maupun tertutup sedimen,
  2. Cekungan tertutup yang dibatasi perbukitan pada kedua sisi atau salah satu sisinya,
  3. Mempunyai drainase karstik,
  4. Dasar yang rata mempunyai lebar minimum 400 meter.

Klasifikasi Polje:

  • Polje perbatasan: terbentuk apabila sistem hidrologi didominasi oleh sistem alogenik,
  • Polje struktural: terbentuk oleh patahan dengan dasar berupa batuan impermeable,
  • Polje baselevel: terbentuk pada stadium akhir perkembangan karst.klasifikasi polje

4. Jendela Karst

Adalah  lubang  pada  atap  gua  yang menghubungkan antara ruang dalam gua dengan udara diluar yang terbentuk karena atap gua tersebut runtuh, (Twidale, 1976). Disamping itu jendela kars dapat pula terbentuk pada atap sungai bawah tanah.jendel karst

5. Lembah Karst (Kars Valley)

Adalah lembah atau alur yang besar yang terdapat pada lahan karst. Lembah ini terbentuk oleh aliran air permukaan yang mengerosi batuan yang dilaluinya.lembah karst

Dalam hal ini disebutkan ada empat macam lembah karst, yaitu :

  • Allogenic Valley, yaitu lembah yang bagian hulunya berada pada batuan yang kedap air kemudian masuk kedalam daerah karst. Aliran deras maka lembah yg dibentuk akan panjang.
  • Lembah Buta (Blind Valley), yaitu lembah atau sungai pada lahan kars yang secara tiba-tiba berakhir pada suatu tempat dan biasanya pada akhir lembah ini air permukaan tanah akan masuk kedalam tanah.
  • Pocket Valley, yaitu lembah yang dimulai dari tempat keluarnya air yang masuk melalui surupan. Lembah in umumnya berbentuk huruf U dan memiliki tebing yang curam, ukurannya tergantung besar kecilnya debit mata air yang keluar. Sweeting (1973) dalam Ritter (1978) menyebutkan bahwa panjang lembah ini dapat mencapai 8 km, lebar 1 km dan dalamnya berkisar antara 300 – 400 meter. 
  • Lembah Kering (Dry Valleys), yaitu lembah yang tidak berfungsi sebagai penyaluran air permukaan (kering), karena air hujan yang jatuh dan masuk kedalam lebah ini dengan segera akan meresap kedalam retakan batuan dasarnya.

6. Gua (Cave)

yaitu serambi atau ruangan bawah tanah yang dapat dicapai dari permukaan dan cukup besar bila dimasuki oleh manusia (Sanders, 1981). Gua teridiri dari rangkaian ruangan sehingga kedalamannya dapat mencapai ratusan meter (Lihat gambar V.13). Gambar V.13. Mulut Gua Semuluh di Gunung Sewu yang bentuknya dipengaruhi oleh kekar (Samodra, 1996).cave

7. Terowongan

Yaitu lorong bawah tanah yang terbentuk oleh pelarutan dan penggerusan air tanah atau oleh aliran bawah tanah (Von Engeln, 1942). Terowongan alam memiliki ukuran yang bervariasi artinya dapat berukuran besar atau kecil. Sebagai contoh, terowongan di Virginia dapat berukuran mencapai 275 meter, tingginya 23 meter dan lebarnya 40 meter.terowongan

Bentuk-bentuk sisa Pelarutan

  1. Kerucut karst

Bukit Kars yang berbentuk kerucut dan berlereng terjal dan dikelilingi oleh depresi/bintang (Bloom, 1979).kerucut karst

2. Menara Karst

Bukit sisa pelarutan dan erosi berbentuk menara dengan lereng yang terjal, tegak atau menggantung, terpisah satu dengan yang lain dan dikelilingi oleh dataran alluvial.turm

3. Mogote

Bukit terjal yang merupakan sisa pelarutan dan erosi, umumnya dikelilingi oleh dataran alluvial yang hampir rata (Flat).mogote

4. Vaucluse

Gejala karst yang berbentuk lubang tempat keluarnya aliran air tanah.vancluse

5. Turm Karst

Lingkungan karst yang berupa bukit-bukit kars (Kerucut kars) yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain.menara karst

Kategori
Tanpa kategori

Struktur dan Tekstur Batuan Beku

A. Pengertian

  1. Struktur batuan

Adalah gambaran tentang kenampakan atau keadaan batuan, termasuk di dalamnya bentuk atau kedudukannya. Struktur batuan mengamati ciri-ciri batuan dalam berskala besar, yang dapat diamati di lapangan, seperti perlapisan, lineasi, kekar-kekar, dan vesikularitas. Oleh karena itu sebongkah batuan (hand speciment) tidak dapat mendeskripsikan struktur batuan tersebut.

  1. Tekstur batuan

Mengacu pada kenampakan butir-butir mineral yang ada di dalamnya, yang meliputi tingkat kristalisasi, ukuran butir, bentuk butir, granularitas, dan hubungan antar butir (fabric). Jika warna batuan berhubungan erat dengan komposisi kimia dan mineralogi, maka tekstur berhubungan dengan sejarah pembentukan dan keterdapatannya. Tekstur merupakan hasil dari rangkaian proses sebelum,dan sesudah kristalisasi. Oleh karena itu, sebongkah batuan (hand speciment) dapat mendeskripsikan tekstur batuan dengan ketelitian hingga 75%.

Berdasarkan keterjadiannya, Struktur batuan dapat dikelompokkan menjadi:

  • Struktur primer, yaitu struktur yang terjadi pada saat proses pembentukan batuan. Misalnya cross bedding pada batuan sedimen atau kekar akibat cooling joint pada batuan beku.
  • Struktur skunder, yaitu struktur yang terjadi kemudian setelah batuan terbentuk akibat adanya proses deformasi atau tektonik. Misalnya fold, fault dan joint.

B. Tekstur dan Struktur Pada Batuan Beku

  1. Tekstur Pada Batuan Beku

Tekstur adalah kenampakan dari batuan (ukuran, bentuk dan hubungan keteraturan mineral dalam batuan) yang dapat merefleksikan sejarah pembentukan dan keterdapatannya. Faktor utama yang berperan dalam pembentukan tekstur pada batuan beku adalah kecepatan pembekuan magma.

Faktor lain :

  • Kecepatan difusi, kecepatan atom dan molekul berdifusi dalam cairan,
  • Kecepatan pembentukan kristal,
  • Kecepatan pertumbuhan kristal.

Tekstur umumnya ditentukan oleh beberapa hal yang penting, yaitu:

  1. Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya berlangsung lambat maka kristalnya kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus, akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.

Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:

  • Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh kristal. Tekstur holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat permukaan.
  • Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal.
  • Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. Tekstur holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies yang lebih kecil dari tubuh batuan.

2. Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:

  • Fanerik, Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan satu sama lain secara megaskopis dengan mata biasa. Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi:

granularitas

  • Afanitik, Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan dengan mata biasa sehingga diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal, gelas atau keduanya.

contoh afanitik

Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan secara keseluruhan. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:

  • Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.
  • Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi.
  • Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.

bentuk kristal anhedral

Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan sebagai hubungan antara kristal/mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Equigranular yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya yang membentuk batuan berukuran sama besar, Berdasarkan keidealan kristalnya, maka equigranular dibagi menjadi tiga, yaitu:
  • Panidiomorfik granular yaitu mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang euhedral.
  • Hipidiomorfik granular yaitu mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang subhedral.

  • Allotriomorfik granular yaitu mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang anhedral.

2. Inequigranular yaitu apabila ukuran butir kristalnya sebagai pembentuk batuan tidak sama besar. Mineral yang besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau matrik yang bisa berupa mineral atau gelas.

  1. Struktur Pada Batuan Beku

Berikut struktur-struktur yang berhubungan dengan aliran magma:

  • Schlieren: struktur kesejajaran yang dibentuk mineral prismatik, pipih atau memanjang atau oleh xenolith akibat pergerakan magma.
  • Segregasi: struktur pengelompokan mineral (biasanya mineral mafik) yang mengakibatkan perbedaan komposisi mineral dengan batuan induknya.
  • Lava bantal: struktur yang diakibatkan oleh pergerakan lava akibat interaksi dengan lingkungan air, bentuknya menyerupai bantal, di mana bagian atas cembung dan bagian bawah cekung.

Berikut struktur-struktur yang berhubungan dengan pendinginan magma:

  • Vesikuler:lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava).
  • Amigdaloidal: lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava), yang telah diisi oleh mineral sekunder, seperti zeolit, kalsit, kuarsa.
  • Kekar kolom: kekar berbentuk tiang dimana sumbunya tegak lurus arah aliran.
  • Kekar berlembar: kekar berbentuk lembaran, biasanya pada tepi/atap intrusi besar akibat hilangnya beban, atau pada lava.

Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedakan menjadi batuan beku extrusive dan intrusive. Hal ini pada nantinya akan menyebabkan perbedaan pada tekstur masing masing batuan tersebut. Kenampakan dari batuan beku yang tersingkap merupakan hal pertama yang harus kita perhatikan. Kenampakan inilah yang disebut sebagai struktur batuan beku.

  1. Struktur batuan beku ekstrusif

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dipermukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagia struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya:

  1. Masif yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam.masif
  2. Sheeting joint yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan.sheeting joint
  3. Columnar joint yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti batang pensil.columnar joint
  4. Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpalgumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air.pillow lava
  5. Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan.vesikular
  6. Amigdaloidal yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti kalsit, kuarsa atau zeoli.amigdaloidal
  7. Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu akibat aliran.struktur aliran

 

Struktur Batuan Beku Intrusif

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dibawah permukaan bumi. berdasarkan kedudukannya terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya struktur tubuh batuan beku intrusif terbagi menjadi dua yaitu konkordan dan diskordan.

  1. Konkordan

Tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya, jenis jenis dari tubuh batuan ini yaitu :

  • Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan batuan
  • Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana perlapisan batuan yang asalnya datar menjadi melengkung akibat penerobosan tubuh batuan ini, sedangkan bagian dasarnya tetap datar. Diameter laccolih berkisar dari 2 sampai 4 mil dengan kedalaman ribuan meter.
  • Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith, yaitu bentuk tubuh batuan yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki diameter yang lebih besar dari laccolith, yaitu puluhan sampai ratusan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.
  • Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang telah terbentuk sebelumnya. Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan sampai ribuan kilometer.

2. Diskordan

Tubuh batuan beku intrusif yang memotong perlapisan batuan disekitarnya. Jenis-jenis tubuh batuan ini yaitu:

  • Dike, yaitu tubuh batuan yang memotong perlapisan disekitarnya dan memiliki bentuk tabular atau memanjang. Ketebalannya dari beberapa sentimeter sampai puluhan kilometer dengan panjang ratusan meter.
  • Batolith, yaitu tubuh batuan yang memiliki ukuran yang sangat besar yaitu > 100 km2 dan membeku pada kedalaman yang besar.
  • Stock, yaitu  tubuh  batuan  yang  mirip  dengan Batolith tetapi ukurannya lebih kecil.

struktur batuan intrusif

Kategori
Tanpa kategori

Download Corel Draw

Corel Draw

Pengertian Corel Draw adalah sebuah program komputer yang melakukan editing pada garis vektor. Program ini dibuat oleh Corel, sebuah perusahaan software yang berkantor pusat di Ottawa, Kanada. Corel draw memiliki kegunaan untuk mengolah gambar, oleh karena itu banyak digunakan pada pekerjaan dalam bidang publikasi atau percetakan ataupun pekerjaan di bidang lain yang membutuhkan proses visualisasi.

Keunggulan program Corel Draw

Suatu program yang baik tentu saja memiliki keunggulan yang signifikan. Beberapa keunggulan program Corel Draw antara lain adalah:

  • Gambar yang dihasilkan dengan vektor atau berbasis vektor bisa ditekan pada tingkat yang paling rendah namun hasilnya tidak kalah dengan gambar yang berbasis bitmap atau raster.
  • Penggunaan Corel Draw, terutama pada tool-tool yang ada di dalamnya sangat mudah dipahami oleh penggunanya, bahkan oleh orang yang baru pertama menggunakannya.
  • Corel Draw sangag baik untuk mengkolaborasikan antara tulisan dengan gambar, seperti layaknya Adobe Potoshop.
  • Banyaknya pengguna Corel Draw, membuat adanya komunitas dengan jumlah anggota yang besar. Hal ini akan membuat kita tidak kesulitan jika ingin mempelajari Corel Draw lebih mendalam karena banyak ditemukan tutorial, tips dan trik yang diproduksi oleh pengguna lain.

Hasil gambar untuk corel draw adalah

Kegunaan dari program Corel Draw

Jika berbicara masalah kegunaan Corel Draw, sebenarnya ada cukup banyak dan bahkan bisa dikatakan sangat banyak. Namun bagi para penggunanya, program Corel Draw seringkali dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dibawah ini, yaitu:

  1. Menciptakan desain logo atau simbol, yang mana ini adalah kegunaan Corel Draw yang paling banyak dimanfaatkan oleh penggunanya, terutama pembuatan logo dua dimensi karena kemudahannya dalam mengolah garis dan warna.
  2. Membuat desain undangan, brosur dan lain-lain juga menjadi suatu kegunaan dari program Corel Draw. Media publikasi offline lainnya juga menggunakan Corel Draw sebagai alat untuk mendesain. Corel Draw memiliki banyak jenis font yang dapat memudahkan desainer untuk mengeksplorasi imajinasi desain dan tulisan yang akan dibuat.
  3. Membuat cover buku juga dapat dilakukan di Corel Draw. Dengan Corel Draw maka tugas desain akan menjadi mudah karena dapat memanfaatkan desain sampul dan teknik pewarnaan yang lebih sempurna oleh Corel Draw. Detail gambar pun akan terlihat lebih jelas.
  4. Pembuatan gambar ilustrasi juga dapat dilakukan dengan Corel Draw. Gambar yang dihasilkan lebih berkualitas, terutama ketika berhubungan dengan lengkungan, garis atau sudut. Ukuran yang diperoleh dijamin sangat akurat.

Berikut admin sediakan link untuk mendownload Corel Draw X3,X4,X5,X6,X7,X8. tinggal pilih…
klik suka dan share ya hehe

Password: http://www.muhammadniaz.net

http://muhammadniazlinks.blogspot.co.id/2016/02/coreldraw-collections.html