Kategori
Tanpa kategori

ANALISA KEBIJAKAN GANJIL-GENAP DI DKI JAKARTA SELAMA MASA PANDEMI COVID-19

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
AKADEMI KEPOLISIAN

ANALISA KEBIJAKAN GANJIL GENAP DI DKI JAKARTA PADA MASA PANDEMI COVID-19

DISUSUN OLEH

DENNY HERMAWAN SAPUTRA

BRIGADIR SATU TARUNA

NO AK. 18.083

SEMARANG, 2 SEPTEMBER 2020

BAB I
PENDAHULUAN

Asal mula kebijakan Ganjil-Genap Kendaraan yang berada di Jakarta adalah bermula ketika kebijakan Three in one di Jakarta tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini itu terlihat dari semakin banyak pengemudi yang melanggar, joki yang bertebaran dimana-mana dan macet masih menjadi pemandangan yang biasa terjadi.

Kebijakan ganjil-genap ini berlanjut walaupun pergantian Gubernur baru DKI Jakarta. Kebijakan ini dinilai sangat efektif untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di daerah Jakarta terutama saat diadakannya acara ASIAN GAMES tahun 2018 saat itu kebijakan yang diterapkan oleh Gubernur Anies Baswedan dikatakan berhasil. Ketika para atlet Asian Games ini dapat datang tepat waktu ke tempat pertandingan tanpa mengalami kemacetan di Jakarta. Lalu dalam hal polusi juga mengalami pengurangan, karena banyak warga yang beralih tranportasi ke transportasi umum.

Namun, kebijakan ini mengalami pencabutan pada bulan maret tahun 2020, hal ini dikarenakan dunia mengalami pandemi covid-19, virus itu berasal dari kota Wuhan, China. Wabah ini menyebar hingga ke Indonesia, terutama di Jakarta. Jakarta mengalami peningkatan kasus terjangkitnya covid-19. Hingga saat itu kota DKI Jakarta berada dalam Zona Merah karena sudah tidak aman dari virus corona(covid-19 virus). Virus ini dapat menyebar melalui kontak manusia dan melalui udara. Oleh karena itu, Anies mengeluarkan kebijakan baru dengan mencabut kebijakan ganjil-genap selama dua minggu terhitung 16 Maret-29 Maret 2020. Ini dilakukan untuk mencegah penyebaran covid-19 di Jakarta. Karena masyarakat dapat terhindar dari kontak dengan orang lain apabila menggunakan kendaraan pribadi, berbeda dengan menggunakan kendaraan umum yang penyebarannya sangat rentan dan tinggi. Kebijakan ini lalu diperpanjang lagi hingga beberapa bulan setelahnya.

Pencabutan kebijakan sistem ganjil genap membuat masyarakat banyak kembali ke jalan dengan menggunakan kendaraan pribadi, awalnya memang lancer lalu lintas yang ada di jalanan Jakarta ini namun semakin lama masyarakat semakin berani untuk keluar rumah dengan menggunakan kendaraan pribadi hingga kemudian menimbulkan kemacetan lagi. Kemacetan ini diperkirakan membuat polusi di udara Jakarta menjadi tercemar lagi dan penyebaran virus di Jakarta pun dikuatirkan semakin banyak. Kemudian kebijakan ganjil-genap ini diberlakukan kembali pada masa pandemi pada akhir agustus 2020 untuk menanggulangi permasalahan tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

Gambar 1 Penambahan Kasus Harian di Jakarta 31 Agustus 2020

Berdasarkan data yang diberikan web pemerintah DKI Jakarta yang dimuat dalam  https://corona.jakarta.go.id/id/data-pemantauan data ini membentang dari tanggal 3 Maret 2020 sampai 31 Agustus 2020 kasus positif harian di Jakarta ini mengalami fluktuatif namun cenderung meningkat dibarengi dengan sembuh harian yang juga mengalami peningkatan yang tajam namun mengalami penurunan diakhir bulan agustus tahun 2020, penurunan angka sembuh harian ini disebabkan karena masyarakat mulai banyak keluar dari rumah. Keluar ini mulai sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Kemudian kasus meninggal harian dari pasien covid-19 cenderung stabil, dan dengan adanya kebijakan ganjil genap ini diharapkan dapat menurunkan angka positif harian yang terjadi di DKI Jakarta.

Untuk mengurangi penyebaran covid-19 ini pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From House (WFH) bagi kantor-kantor yang berada Jakarta. Dengan menetapkan 50% berada di Kantor dan 50 % sisanya bekerja di rumah. Keputusan itu membuat kondisi di Jakarta semakin lengang dan di perkirakan akan meningkat seiring berjalannya waktu. Namun, saat ini banyak kantor kantor yang sudah buka, mall juga sudah buka akibat masyarakat merasa kekurangan pemasukan akibat tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Ada tiga dampak besar pandemi covid-19 terhadap ekonomi Indonesia menurut Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suryo Utomo sehingga masuk dalam masa krisis. Tiga dampak itu:

  1. Dampak pertama adalah membuat konsumsi rumah tangga atau daya beli yang merupakan penopang 60 persen terhadap ekonomi jatuh cukup dalam. Hal ini dibuktikan dengan data dari BPS yang mencatatkan bahwa konsumsi rumah tangga turun dari 5,02 persen pada kuartal I 2019 ke 2,84 persen pada kuartal I tahun ini.

  2. Dampak kedua yaitu pandemi menimbulkan adanya ketidakpastian yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha.

  3. Dampak ketiga adalah seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan harga komoditas turun dan ekspor Indonesia ke beberapa negara juga terhenti.

Tujuan penerapan system ganjil-genap saat PSBB menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo adalah bukan bertujuan untuk mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum melainkan untuk membatasi kegiatan masyarakat yang tidak penting. Hal itu juga selaras dengan Pergub 51 Tahun 2020 tetang Pelaksanaan PSBB Masa Transisi.

Menurut Syafrin masa pandemi di masa Covid-19, 50 persen orang bekerja di rumah dan 50 persen masuk kantor. Setiap kantor itu terbagi menjadi 2 shif. Sehingga diharapkan masyarakat tidak memicu kepadatan dan pergerakan orang-orang akan terkontrol. Kebijakan sistem ganjil-genap ini dapat membatasi aktivitas masyarakat diluar rumah dengan tidak menyebabkan ekonomi masyarakat turun.

Berikut merupakan hasil penerapan sistem ganjil genap seminggu pertama:

  1. 1.062 Kendaraan Kena Tilang

 

Penerapan sistem ganjil-genap yang dilakukan selama seminggu terakhir ini menghasilkan 1062 kendaraan yang melanggar dan dilakukan penilangan dengan sebanyak 619 kendaraan tilang manual dan 443 electronic traffic law enforcement(E-TLE).

2. Ada Penurunan Volume Kendaraan

Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin kebijakan ini membuat penurunan volume kendaraan antara 2,47 persen sampai 4,63 persen yang berdampak kepada meningkatnya laju lalu lintas kendaraan antara 1,36 persen sampai 16,36 persen. Sehingga hal ini membuktikan bahwa kebijakan ini membatasi masyarakat dalam beraktivitas di luar rumah sehingga mengurangi dampak penyeberan covid-19.

3. Kenaikan Penumpang Transportasi Umum

Peningkatan jumlah penumpang transportasi umum di Jakarta yang mencapai 6 persen meliputi Transjakarta, MRT, LRT, KRL mengalami peningkatan antara 0,64 sampai 6,25 persen hal ini justru memiliki kekhawatiran karena ditakutkan dapat menjadi klaster baru untuk penyebaran covid-19 di dalam transportasi umum itu adalah tempat orang-orang berinteraksi.

4. Ribuan Langgar Saat Sosialisasi

Dalau sosialisasi pembatasan kendaraan sistem ganjil-genap ini menyatakan sebanyak 1.195 kendaraan melanggar pelaksanaan kebijakan ini data ini diinput dari kumulatif data Dinas Perhubungan dan Polda Metro Jaya.

Saran saya sebagai calon anggota Polri kedepannya adalah untuk tetap menerapkan kebijakan pembatasan kendaraan sistem ganjil-genap di wilayah DKI Jakarta dengan selalu memperhatikan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan sehari-hari dan menyarankan kepada seluruh masyarakat warga DKI Jakarta agar membatasi keluar rumah apabila tidak ada keperluan yang mendesak. Masyarakat juga di imbau untuk tidak menggunakan transportasi umum demi mengurangi penyebaran dampak covid-19 sampai ada keputusan lebih lanjut dari pemerintah bagaimana kedepannya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dapat beralih ke onlineshop agar memenuhi kebutuhan masyarakat selama pandemi ini.

BAB III
PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan tulisan di atas dapat disimpulkan kebijakan pembatasan kendaraan sistem ganjil-genap untuk tetap diterapkan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan masyarakat diimbau untuk bijak dalam keluar rumah apabila ada kebutuhan yang mendesak serta untuk mengurangi menggunakan tranportasi umum karena dikuatirkan akan membuat klaster covid-19 yang baru.

2. SARAN

Penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk meningkatkan penulis dalam membuat tulisan menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Kategori
Tanpa kategori

Logaritma

Logaritma untuk SMA. Pengertian Logaritma, Sifat-sifat logaritma, fungsi Logartima, persamaan dan pertidaksamaan logaritma serta soal-soal logaritma.

DOWNLOAD MATERINYA

Kategori
Tanpa kategori

Statistika SMP dan SMA

Berikut merupakan materi statistika untuk SMP dan SMA.

DOWNLOAD MATERI

Kategori
Tanpa kategori

Mineral Megaskopis

  1. Deskripsi Mineral Megaskopis
    1. Diskontinous
      1. Olivin (Mg,Fe)2 Si 04

Olivine sebenarnya adalah sebuah nama untuk seri antara dua anggota end, fayalitdan forsterit . fayalit adalah anggota yang kaya zat besi dengan formula murni Fe 2SiO 4 . forsterit adalah anggota magnesium kaya dengan formula murni Mg 2 SiO 4 .The dua mineral membentuk serangkaian mana besi dan magnesium yang menggantikan satu sama lain tanpa banyak berpengaruh pada struktur kristal. Fayalit karena kandungan zat besi yang memiliki indeks bias lebih tinggi, lebih berat dan memiliki warna lebih gelap dari forsterit. Jika tidak, mereka sulit untuk membedakan dan hampir semua spesimen dari dua mineral mengandung besi dan magnesium. Demi kesederhanaan dan pengakuan masyarakat umum, mereka sering diperlakukan sebagai salah satu mineral, olivin. Olivine, namun tidak secara resmi diakui sebagai mineral.

Megaskopis
Warna hijau terkadang cokelat
Belahan  Tidak ada
Pecahan  konkoidal
Kilap gelas
Gores putih
Berat Jenis 3,27 – 3,37
Kekerasan 6,5-7

  1. Piroksen (Mg,Fe,Ca) Si O3

Berwarna cukelat dan hitam;skla kekerasan 6;bentuk prismatik pendek,menyerat,kilap agak buram;belahan baik,saling memotong tegak lurus dengan bentuk sayatan segi delapan.;Asosiasi batuan ultrabasa s/d basa;Sering terubah –> Khlorit.

 

Megaskopis
Warna coklat tua sampai hitam, putih
Belahan 2 arah
Pecahan kolom
Kilap kaca
Gores putih
Berat jenis 2,9-3,6
Kekerasan 5-6,5
Derajat kejernihan translucent-opak
Kemagnetan paramagnerik
Daya tahan brittle

  • Hornblenda Na Ca2 (Mg,Fe,Al)3 (Al,Si)8 O22 (OH)22
Megaskopis
Warna Hitam, Hijau tua kehitaman
Belahan Tidak Sempurna dengan sudut antara 60-900
Pecahan tidak rata
Kilap kaca
Gores abu-abu pucat, abu-abu putih
Berat jenis 3,28-3,41
Kekerasan 5,0-6,0
Derajat kejernihan Translucent-opak
Habit heksagonal/ granular, kristal prismatik, terkadang massive, berserat, bladed, columnar .
Warna Lapuk Hitam putih

  1. Biotit
Megaskopis
Warna Hitam atau coklat
Belahan Sempurna
Pecahan tidak rata
Kilap kaca dan mutiara
Gores putih
Berat Jenis 2,7-3,3
Kekerasan 2,5-3
Derajat kejernihan transparans sampai opak
Habit Lembaran

  1. Deret Kontinue
  1. Anortit
Megaskopis
Warna Putih,  keabu-abuan, kemerah-merahan
Belahan sempurna (001), good (010), poor (110)
Pecahan tidak rata sampai konkoidal
Kilap kaca
Gores Putih, bening keabu-abuan
Berat jenis 2,72-2,75
Kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan transparan sampai translusent
Kembaran common
Daya tahan brittle
Habit anhedral sampai subhedral granular

  1. Bitownit
Megaskopis
Warna abu-abu, coklat muda agak putih, putih kekuningan, ada yang tidak berwarna
Belahan 1 arah
Pecahan konkoidal
Kilap lilin
Gores putih
Berat jenis            2,74-2,76
Kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan Opak
Habit
Sifat Partikel plastis

  1. Labradorit
Megaskopis
Warna Abu-abu,coklat, kehijauan,kebiruan,
Belahan Sempurna (001), Kurang Sempurna (010), tidak sempurna
Pecahan tidak rata sampai konkoidal
Kilap kaca sampai mutiara
Gores putih
Berat Jenis 2,68 – 2,72
Kekerasan 6-6,5
Kembaran Albit
Derajat kejernihan translusen sampai transparan

  1. Andesin
Megaskopis
Warna putih, abu-abu,hijau, kuning, kemerahan
Belahan sempurna di (001) dan baik di (010)
Pecahan konkoidal
Kilap kaca sampai mutiara
gores putih
Berat Jenis 2,68 – 2,72
kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan transparan sampai translucent
habit massive atau granular
daya tahan brittle

  1. Oligoklas

Megaskopis
Warna Putih buram, putih keabu-abuan, bercorak kuning, hijau atau cokelat
Belahan 1 arah, sempurna{001}, kurang sempurna{110}, tidak sempurna{110},
Pecahan Konkoidal
Kilap kaca
Gores putih
Berat Jenis 2,64-2,68
Kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan Tranlucent- transparan

  1. Albit
Megaskopis
Warna Putih abu-abu, kebiruan, kehijauan, kemerahan
Belahan 1 arah
Pecahan Tidak rata (konkoidal)
Kilap kaca
Gores putih
Berat jenis 2,62-2,65
Kekerasan 6-6,5
Derajat kejernihan Translusen-opak
Daya tahan rapuh
Habit divergent agregats, granular, cleavable massive

  1. K- Feldspar (K-Al-Silikat)
Megaskopis
Warna pink, putih, abu-abu, kuning kecoklatan
Belahan baik
Pecahan
Kilap kaca
gores putih
Berat Jenis 2,55-2,76
kekerasan 6
Derajat kejernihan translucent
Daya Tahan brittle

 

  1. Muskovit (K-Al-Cr-Silikat)
Megaskopis
Warna abu-abu terang, putih hingga tak berwarna
Belahan 1 arah
Pecahan micaeous
Kilap kaca
Gores putih
Berat jenis 2,76-3
Kekerasan 2-2,5
Derajat kejernihan translucent
Habit massive atau granular

  1. Kuarsa (SiO2)
Megaskopis
Warna Bening-putih, merah muda coklat
Belahan tidak ada
Pecahan konkoidal
Kilap kaca
Gores putih
Berat jenis 2,6-2,7
Kekerasan 7
Derajat kejernihan transparan
Habit massive atau granular

  1. Deskripsi Mineral Mikroskopis

    1. Kelompok mineral mafik
      • Kelompok olivin
  • Olivin ( orthorombik 2V=700-900 )

Nikol sejajar                                                 Nikol silang

Warna mineral : abu-abu kehijauan                Warna interferensi       : kuning

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : kuat (diatas orde II)

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : jarang didapat

Belahan           : tidak terlihat dibagian tipis

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Abu2 agak kehijauan-transparan
  • Relief tinggi
  • Bentuk poligonal/prismatik
  • Pecahan tak beraturan, tanpa belahan
  • WI orde II
  • Pada bidang pecahan/rekahan sering teralterasi menjadi serpentin
  • Data Optik:   Biaxial (+), a=1.63-1.65, b=1.65-1.67, g=1.67-   1.69, bire=0.0400, 2V(Calc)=88, 2V(Meas)=46-98. Dispersi relatif lemah.

 

 

  • Fayalite ( orthorombik 2V=470-540 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : coklat                                   Warna interferensi       : hitam keabuan

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : –

Belahan           : tidak terlihat dibagian tipis

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna : tidak berwarna sampai kekuningan atau netral
  • Bentuk : euhedral,  kristal anhedral
  • Relief : sangat tinggi
  • Pleokroisme : lemah
  • Indeks bias : n mineral > n balsam
  • Belahan : tidak sempurna dalam satu arah (010)
  • Birefringence : kuat
  • Kembaran : –
  • Sudut pemadaman : paralel
  • Orientasi optis : length slow
  • Sumbu optis : dua (biaxial)
  • Tanda optis : negatif


  1. Kelompok Piroksen
  • Pigeonite ( monoclinic 2V = 00-400 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : lemah sampai kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : Polisintetik

Belahan           : baik

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

Pigeonite tidak berwarna  atau netral. Bentuknya kristal anhedral. Relief tinggi. Pleokroismenya lemah. Indeks bias mineral n mineral > n balsam. Belahannya dalam dua arah (110) pada sudut 87o dan 93o. Birefringencenya sedang, bervariasi dari yang terbawah sampai yang teratas orde kedua. Kembaran mineral ini polisintetik. Sudut pemadamannya bervariasi dari 22o-45o. Orientasi optisnya slower ray. Sumbu optisnya dua (biaxial) dan tanda optis positif.


 

  • Aegerin-Augite ( monoclinic 2V=Ca. 60 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : hijau                                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : umum

Belahan           : ada

Relief              : sedang

Sifat Optik Yang Khas :

Augite mmpunyai rumus kimia (Ca, Na)(Mg, Fe, Al)(Al, Si)2 O6.  Augite hampir tidak mempunyai warna (colorless). Augite berbentuk kristal prismatik pendek dengan relief tinggi. Pleokroisme mineral ini  tidak ada sampai lemah dan Indeks biasnya n mineral > n balsam.  Belahan augite adalah (110) dalam dua arah pada sudut 87o dan 93o. Satu arah dalam sayatan longitudinal, pararel. Kembaran mineral ini umum, polisintetis, kombinasi polisintetik yang dikenal sebagai struktur herringbone. Birefringencenya sedang, kira-kira ditengah orde kedua.   Sudut pemadaman augite bervariasi dari 360-400(C^X).  Tanda rentang optik augite length fast kadang-kadang length slow dan Sumbu optis dua (biaxial) serta tanda optisnya positif.


 

  • Hypersthene ( orthorombic 2V=630-900 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : hijau, pink, coklat                 Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : –

Belahan           : ada

Relief              : sedang sampai tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

Hypersthene memiliki warna netral sampai hijau muda atau merah muda Bentuk dari kristal subhedral prismatik. Relief dari mineral ini tinggi dan pleokroismenya lemah. Indeks bias Hypersthene n mineral > n balsam dengan belahan pararel dengan (110), (010) dan (100). Birefringencenya agak lemah, kuning sampai merah orde pertama. Hypersthene tidak memiliki kembaran. Sudut pemadamannyaparallel. Orientasi optis mineral ini length slow  Sumbu optisnya dua (biaxial) dan tanda optisnya negative.

  • Augite ( 2V=580-620)

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : hijau, ungu                           Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : umum

Belahan           : ada

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik, sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah 90o
  • Gelapan miring, augit 45-54o
  • TO (+) sb2
  • Terdapat belahan, tidak terdapat pleokroisme

 

 

 

 

 

 

 

  • Diopsite(CaMgSi2O6)

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna atau netral

Bentuk : Kristal subhedral

Relief : Tinggi

Pleokroisme : Lemah

Indeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : Dalam dua arah (110) pada sudut 87odan 93o

Bias rangkap : Sedang, bervariasi dari yang terbawah sampai yang teratas orde keII

Kembaran : Polisintetik

Sudut pemadaman : Bervariasi dari 37osampai 44o(C^Z)

Orientasi optis : Slower ray

Sumbu optis : Dua (biaxial)

Tanda optis : Positif

Keterangan : Spesimen mineralDiopside

Bisa sangat mencolok dalam penampilan, dan menarik bagi kolektor mineral.

 

  • Anthophyllite (Mg,Fe)7(OH)2(Si4O11)2

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna atau warna muda

Bentuk : Kristal prismatik panjang dan columnar sampai fibrous

Relief : Tinggi

Pleokroisme : Lemah

Indeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : (110) dalam dua arah pada sudut 54ᵒdan 126ᵒ.Umum.

Bias rangkap : Sedang, teratas sampai terbawah orde-ll

Kembaran : Tidak ada

Sudut pemadaman : Paralel / simetris

Orientasi optis : Length slow

Sumbu optis : Dua (biaxial)

Tanda optis : Positif dan negatif

Keterangan : MenyerupaiTremolite-actinolit danCummingtonite , tetapi dapat dibedakan dari sudut pemadamnya yang paralel.Terakterasi menjaditalcdan sebagian yang terbentuk yang terbentuk disebut hidrusanthopyliteAnthipyliteadalahciri batuanmetamorf dan mineral sekunder dalam peridotit dandunite.

  • Tremolite Actinolite (Ca2(Mg Fe)3(OH)2(SiO4O11)2)

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna sampai hijau muda

Bentuk : Kristal prismatik panjang dan columnar sampai fibrous

Relief : Tinggi

Pleokroisme : Lemah

Indeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : (110) dalam dua arah dalam sudut 56ᵒ dan  124ᵒ

Pararel dengan panjang Bias rangkap : Kuat,ordeII palingatas

Kembaran : Sedang sampai agak kuat. Orde ll

Sudut pemadaman : Dalam sayatan Longitudinal bervariasi dari 10ᵒsampai 20ᵒ(pararel-simetri)

Orientasi optis : Length slow

Sumbu optis : Dua (biaxial)

Tanda optis : Negatif

Keterangan :Tremolithmerupakan amphibole yang tidak berwarna,edenitemenyerupaitremoliteTetapi mempunyai sudut pemandaman yang besar. Tremolitactinoliteteralterasi menjaditalc Tremolite-actionoliteterdapat dalam metamorf kontak  scist  dan gneissdan batu gamping metamorf, juga didapatkann sebagain pengganti pyroxene dalam batuan beku.

  • Cummingtonite (Mg,Fe)7(OH)2(Si4O11)2

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna sampai hijau muda

Bentuk : Kristal prismatik panjang dan columnar sampai fibrous

Relief : Agak tinggi

Pleokroisme : LemahIndeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : (110) dalam dua arah pada sudut 56o  – 124oParaleldenganpanjang

Bias rangkap : Sedang sampai agak kuat, terbawah atau ditengah orde kedua

Kembaran : Polisentrik

Sudut pemadaman : Dalaam sayatan langitudinal bervariasi dari 15o  – 20o

Orientasi optis : Length slow

Sumbu optis : Dua(biaxial)

Tanda optis : Positif

Keterangan :Cummingtonitekadang mempunyai grunerite, tetapicummingtoniteMempunyai sudut pemadaman yang lebih besar dan indeks bias yang lebih kecil dan tanda optisnyayang positif. Dibedakan dengan tremolitedari tanda optisnya yang positif dan di bedakan dengananthophyllite

Dari sudut pemadamannya yang miring.Umum dijumpai pada batuan metamorf.

  • Grunerite (Fe7Si8O22(OH)2)

SifatOptis

Warna absorbsi : Tidak berwarna

Bentuk : Columnar sampai fibrous aggregate

Relief : Agak tinggi

Pleokroisme : Lemah

Indeks bias : n mineral > n. K-balsam

Belahan : Dalam dua arah (110) pada sudut 56odan 124o Pararel dan panjang

Bias rangkap : Agak kuat

Kembaran : Kadang polisintetik

Sudut pemadaman : Dalam sayatan longitudinal bervariasi dari 10o  – 150

Orientasi optis : Length slow

Sumbu optis : Dua (biaxial)

Tanda optis : Negatif

Keterangan : Ini adalah endmember besi dari serigrunerite-cummingtonite. Membentuksebagaiberserat, columnar atauagregatkristalbesar.Kristal monoklinprismatik.Kilapnyaadalahkacasampaimutiaradenganwarnamulaidarihijau,coklatkeabu-abugelap.

 

  • Kelompok Amfibol
  • Hornblende (monoclinic 2V=640-800)

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : coklat, merah, kuning           Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : sedang (orde II)

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : umum

Belahan           : ada

Relief              : tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna kehijauan/kecoklatan,
  • Relief tinggi,
  • Pleokroisme kuat (dikroik/trikroik),
  • Belahan 1 arah atau 2 arah 120o,
  • Bentuk prismatik (biasanya memanjang),
  • Gelapan miring 12-30o


 

  • Biotite ( monoclinic 2V=00-250 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : coklat, hijau, orange             Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      n mineral > n balsam               Kembaran                    : jarang dijumpai

Belahan           : ada

Relief              :sedang sampai  tinggi

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna coklat, kemerahan, kehitaman
  • Bentuk berlembar
  • Pleokroisme kuat
  • Gelapan sejajar
  • Umumnya teralterasi dengan klorit dan mineral – mineral lempung
  • Data Optik: Biaxial (-), a=1.565-1.625, b=1.605-1.675, g=1.605-1.675, bire=0.0400-0.0500, 2V(Calc)=0, 2V(Meas)=0-25. Dispersion r > v or r < v.


 

  1. II) Kelompok Mineral Felsik
  2. Kelompok Plagioklas
  • Anortite

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : Berwarna                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      :                                               Kembaran                    : umum

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

 

 


 

  • Bytownite ( triclinic 2V=790-880 )

 

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : umum

Belahan           : sempurna

Relief              : sedang

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna : tidak berwarna
  • Bentuk : kristal subhedral sampai anhedral
  • Relief : sedang
  • Pleokroisme : –
  • Indeks bias : n mineral < n balsam
  • Belahan : (001) sempurna, (010) kurang sempurna, dan (110) tidak sempurna


 

  • Labradorite (triclinic 2V=w60-900)

 

          

 

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : albite

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna : tidak berwarna
  • Bentuk : kristal euhedral sampai anhedral
  • Relief : rendah
  • Pleokroisme : –
  • Indeks bias : n mineral < n balsam
  • Belahan : (001) sempurna, (010) kurang sempurna, dan (110) tidak sempurna
  • Birefringence : lemah, abu-abu atau putih orde pertama
  • Kembaran : albite
  • Sudut pemadaman : kembar albite bervariasi dari 27½0sampai 390. Pada (001) = -70– (- 1v0, pada (010) = -160-(-290)
  • Orientasi optis : –
  • Sumbu optis : dua (biaxial)
  • Tanda optis : positif


 

  • Andesine (triclinic 2V=760-900)

 

     

 

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : albite

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

 

  • Warna : tidak berwarna
  • Bentuk : kristal euhedral sampai anhedral
  • Relief : rendah
  • Pleokroisme : –
  • Indeks bias : n mineral < n balsam
  • Belahan : (001) sempurna, (010) kurang sempurna, dan (110) tidak sempurna
  • Birefringence : lemah, abu-abu atau putih orde pertama
  • Kembaran : albite. Sudut sayatan rhombic bervariasi dari +30sampai –20dalam andein
  • Sudut pemadaman : kembar albite bervariasi dari 130sampai 27½0. Pada (001) = 00-(-70), pada (010) = 00-(-160)
  • Orientasi optis : m


  • Oligoclase ( 2V=820-900 )

 

        

 

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : albite

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna : tidak berwarna
  • Bentuk : kristal euhedral, subhedral dan anhedral
  • Relif : rendah
  • Pleokrisme : –
  • Indeks bias : n mineral < n balsam
  • Belahan : (001) sempurna, (010) kurang sempurna, dan (110) tidak sempurna
  • Birefringence : lemah atau agak lemah, abu-abu atau putih orde pertama
  • Kembaran : albit
  • Sudut pemadaman : kembar albit bervariasi dari 00-120pada (001) = 00-30 pada (010) = 00-(+150)
  • Orientasi optis : –
  • Sumbu optis : dua (biaxial)
  • Tanda optis : positif atau negatif


 

  • Albite ( 2V=770-820)

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : Berwarna                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : polisintetik

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

Memiliki rumus senyawa kimia NaAlSi3 O8, Sodium aluminum silicate. Albi memiliki belahan sempurna dalam searah dan baik untuk arah lainnya. Membentuk prisma yang nyaris sempurna. Pecahannya conchoidal. Warna dari albit ini biasanya putih (Albite berasal dari akar klata yang sama dengan albino) atau tak berwarna, dapat juga berbayang biru, kuning, oranye dan cokelat. Kekerasan 6 – 6.5. Kilap kaca, ceratnya putih dan  kristal-kristalnya jernih sampai kabur dan hanya kadang-kadang transparan.


 

  1. Kelompok Alkali Feldspar
  • Microcline ( triclinic 2V=770-840 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral :Berwarna                               Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : polisintetik

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

Warna tidak berwarna, tetapi berkabut(altrasi). Bentuk kristal subhedral sampai anhedral. Relief rendah. Tidak mempunyai pleokroisme. Indeks bias n mineral < n balsam. Belahan paralel yang sempurna dengan (001). Paralel yang kurang sempurna dengan (010). Paralel yang tidak sempurna dengan (110). Birefringence lemah, abu-abu dan putih orde pertama. Kembaran polisintetic, dalam dua arah(albit dan periclin). Sudut pemadaman pada (001) = +50, pada (010) = +50. Orientasi optik faster ray. Tidak punya Sumbu optik. Tanda optik  negative.


 

  • Sanidine ( monoclinic 2V=00-120 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral :                                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : polisintetik

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna colorless
  • Bentuk tabular
  • Relief rendah
  • Gelapan miring 5o – 15o
  • Tidak terdapat pleokroisme
  • Umumnya teralterasi dengan mineral – mineral lempung dansericite


 

  • Anorthoclase ( 2V=t30-540 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : berwarna                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : n mineral < n balsam             Kembaran                    : polisintetik

Belahan           : sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

Warna tidak berwarna. Bentuk fenokris, kristal subhedral. Relief : rendah. Tidak punya leokroism. Indeks bias n mineral < n balsam. Belahan paralel yang sempurna dengan (001). Paralel yang kurang sempurna dengan (010). Kembaran polisintetic. Sudut pemadaman pada (001) = 10-40, pada (010) = +40-100. Orientasi optis dua (biaxial). Tanda optis negative.


 

  • Orthoklas (K,Na) AlSi3O8 (2V = 69o – 72o)

 

       

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : berwarna                              Warna interferensi       : tidak berwana

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      : Nm<Ncb                               Kembaran                    : kembaran melintang

Belahan           : satu arah

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Pada sayatan 001 terlihat kembaran carlsbad
  • WI abu2 terang orde I
  • TO sumbu 2 (-)
  • Colorles tapi agak keruh, relief rendah :  nalpha= 1.514 – 1.526, nbeta= 1.518 – 1.530, ngamma = 1.521 – 1.533
  • Bentuk : Umumnya sebagai anhedral sampai euhedral pada batuan beku.
  • Tidak terdapat pleokroisme

 


 

  • Muskovit ( monoclinic 2V=300-400 )

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : pink, hijau                            Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : jarang ditemukan

Belahan           : sempurna

Relief              : sedang

Sifat Optik Yang Khas :

  • Warna colorless
  • Biaxial negatif
  • Warna colorless
  • Bentuk berlembar
  • Pleokroisme kuat
  • Gelapan sejajar
  • Bentuk dan sifat optik lain mirip biotit


 

  • Kuarsa ( hexagonal)

Nikol sejajar                                                  Nikol silang

Warna mineral : tidak berwarna                     Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : abu-abu orde 1

Indeks bias      : n mineral > n balsam             Kembaran                    : jarang ditemukan

Belahan           : tidak sempurna

Relief              : rendah

Sifat Optik Yang Khas :

  • Colorless, relief rendah
  • Bentuk tak beraturan, dalam batuan umumnya anhedral
  • Tidak punya belahan
  • Gelapan bergelombang
  • Warna interferensi abu2 orde1
  • TO sumbu I (+)
  • n= 1.544
    ne= 1.553
  • Orientasi optik:  sumbu optik terletak pada sumbu c, perpanjangan kristal memotong ujung-ujung sumbu yang berlengan pendek.
  • Komposisi: kandungan dasarnya berupa SiO2, meskipun bekas kandungan mineral dari Ti, Fe, Mn, Al, kemungkinan dapat ditemukan.
  • Sifatnya tidak mudah terubah dan sangat stabil pada lingkungan yang mudah mengalami pelapukan

 

  • Kelompok Mineral Non Magmatik
  • Kalsit (Heksagonal)

Nikol sejajar                                                    Nikol silang

Warna mineral : berwarna                              Warna interferensi       :

Pleokroisme     : –                                             Bias rangkap               : lemah

Indeks bias      :                                               Kembaran                    : jarang ditemukan

Belahan           : sempurna

Relief              : tinggi

  • Sifat Fisik.

Secara megaskopis mineral ini berwarna putih, kuning,dan merah; kekerasan 3 skala mohs; cerat putih; pecahan uneven/irrengular ; densitas 2.711 g/cm3; belahan 1 arah; kilap kaca, dapat ditembus oleh cahaya.

  • Sifat Kimia.

Komposisi kimia yang penting C, Ca, O; merupakan anggota dari Calcite grup mineral; mengandung unsur karbonat; rumus kimia CaCO3. Mineral ini kaya terhadap kandungan kalsium sehingga dalam proses pelarutan dengan mineral asam ia sangat cepat beraksi

  • Sifat Optik.

Sistem kristal trigonal, termasuk dalam kelas hexagonal scalenohedral, optik nω = 1.640 – 1.660 nε = 1.486.

  • Lingkungan Pembentukan.

Terbentuk di laut, sebagai nodul dalam batuan sedimen, selain itu juga bisa terbentuk pada urat-urat hydrothermal sebagai mineral gang di dalam berbagai batuan beku.


 

  • Klorit (monoklin)

Nikol sejajar                                                    Nikol silang

Warna mineral : hijau, biru, berwarna            Warna interferensi       :

Pleokroisme     : ada                                        Bias rangkap               : kuat

Indeks bias      :                                               Kembaran                    : umum

Belahan           : sempurna

Relief              : sedang sampia tinggi

  • Sifat Fisik

Secara umum mineral ini berwarna hijau , kekerasan 2 – 2,5 skala mohs; kilap tanah/lilin; pecahan sub-conchoidal ; densitas 2.6 – 3.3 g/cm3; belahan 2 arah; tidak dapat ditembus oleh cahaya; cerat tidak mempunyai warna, bentuk prismatik

  • Sifat Kimia

Komposisi kimia yang penting Al, H, O, Si; mengandung unsur silikat dan aluminum; rumus kimia Al2Si2O5(OH)4..

  • Sifat Optik

Sistem kristal monoclinic, kelas kristal pedial, pleokroisme lemah tidak tampak, mempunyai surface relief rendah, optik (α = 1.570-1.66, β= 1.57-1.67, γ = 1.57-1.67).

  • Lingkungan Pembentukan.

Terbentuk karena alterasi dari metamorfosa tingkat rendah dan alterasi hidrotermal dari mineral besi, magnesium silikat. Sebagian besar di temukan pada betuan beku maupun metamorf.

BAB III
Kesimpulan dan Penutup

  1. Kesimpulan

Deskripsi optis pada mineral merupakan hal yang vakum dalam pembelajaran mineral optik, bahwa dalam menentukan ciri-ciri suatu mineral optik kita harus dapat mendeskripsikan ciri-ciri optik yg menbedakan mineral dengan mineral lain, diantaranya warna, bentuk, indeks bias, relief, dalam nikol sejajar, sedangkan dalam nikol silang yaitu bias rangkap, orientasi, pemadaman, dan kembaran.

Mineral optik merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang mineral yang terkandung pada suatu batuan.Mineral optik membahas tentang mineral- mineral pada batuan dalam bentuk monomineral. Salah satu tujuan mempelajari mineral optik ialah untuk untuk mengetahui cara menentukan sifat-sifat optik mineral, serta mengenal mineral secara mikroskopik.

  1. Penutup

Semoga makalah dapat bermanfaat bagi khalayak umum, penulis juga mengharapkan kepada pembaca agar memberikan kritik dan sarannya. Terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Kategori
Tanpa kategori

Konsep Pembentukan Bumi di Alam Semesta

A. Teori Pembentukan Bumi di Alam Semesta

Terdapat berbagai macam teori-teori pembentukan bumi di alam semesta yang akan diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :

  1. Teori oleh Georges-Louis Leclerc

Tahun 1778 mengemukakan bahwa dahulu kala terjadi tumbukan antara matahari dengan sebuah komet yang menyebabkan sebagian massa matahari terpental keluar. Massa yang terpental inilah yang menjadi planet (Wikipedia, 2015).

  1. Teori Kabut oleh Imanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1755 dan Piere Simon LaPlace (1749-1827) pada tahun 1796

Menurut Kant, pada awalnya alam raya merupakan gumpalan kabut (nebula) yang mengandung debu dan gas, terutama gas helium dan hidrogen. Kabut bergerak dan berputar dengan kecepatan yang sangat lambat sehingga lama kelamaan suhunya menurun dan massanya terkonsentrasi. Kemudian perputarannya menjadi lebih cepat sehingga membentuk sebuah cakram dengan massa terpusat di tengah-tengah cakram. Cincin-cincin kemudian memadat dan membeku sehingga terbentuk planet-planet, sedangkan massa pada bagian pusat membeku membentuk matahari. (Gombez, 2012).

Menurut LaPlace, tata surya berasal dari kabut panas yang berpilin membentuk bola besar. Kemudian terjadi proses pendinginan dan pengkerutan sehingga bola mengecil membentuk cakram yang berputar makin cepat. Selanjutnya sebagian massa gas pada bagian luar cakram menjauh dari gumpalan intinya dan membentuk cincin-cincin. Cincin ini kemudian membentuk gumpalan padat sehingga terbentuklah planet-plenet dan satelit, sedangkan bagianmassa gas yang ditinggalkan di bagian pusat piringan pada inti membentuk matahari. (Gombez, 2012).

  1. Teori Apungan oleh Alfred Lothar Wegener (1912)

Teori ini dipopulerkan pertama kalinya dalam bentuk buku pada tahun 1915 yang berjudul Dje Ensfehung der Konfjnenfe und Ozeane (Asal Usul Benua dan Lautan). Buku tersebut menimbulkan kontroversi besar di lingkungan ahli-ahli geologi, dan baru mereda pada tahun enampuluhan setelah teori Apungan Benua dari Wegener ini semakin banyak mendapatkan dukungan (Geopustaka, 2012).

Wegener mengemukakan teori tersebut dengan pertimbangan sebagai berikut (Geopustaka, 2012) :

  • Terdapat kesamaan yang mencolok antara garis kontur pantai timur benua

Amerika Utara dan Selatan dengan garis kontur pantai barat Eropa dan Afrika. Kesamaan pola garis kontur pantai tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Benua Amerika Utara dan Selatan serta Eropa dan Afrika dahulu adalah daratan yang berimpitan. Berdasarkan fakta bahwa formasi geologi di bagian-bagian yang bertemu ini mempunyai kesamaan (Geopustaka, 2012).

  • Benua-benua yang ada sekarang ini, dahulunya adalah satu benua yang disebut Benua Pangea

Benua Pangea tersebut pecah karena gerakan benua besar si seltan baik ke arah barat maupun ke arah utara menuju khatulistiwa. Daerah Greeland sekarang ini bergerak menjauhi daratan Eropa dengan kecepatan 36 m/tahun, sedangkan Kepulauan Madagaskar menjauhi Afrika Selatan dengan kecepatan 9 m/tahun. Dengan peristiwa tersebut maka terjadilah hal-hal sebagai berikut (Geopustaka, 2012):

  1. Teori Kontraksi oleh Descartes

Teori ini menyatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengerut disebabkan terjadinya proses pendinginan sehingga di bagian permukaanya terbentuk relief berupa gunung, lembah, dan dataran (Geopustaka, 2012).

Teori Kontraksi didukung pula oleh James Dana (1847) dan Elie de Baumant (1852). Keduanya berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadinya proses pendinginan pada bagian dalam bumi yang mengakibatkan bagian permukaan bumi mengerut membentuk pegunungan dan lembah-lembah (Geopustaka, 2012).

  1. Teori Bintang Kembar oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956

Menurut teori bintang kembar, awalnya ada dua buah bintang yang berdekatan (bintang kembar), salah satu bintang tersebut meledak dan berkeping-keping. Akibat pengaruh gravitasi dari bintang kedua, maka keping-keping ini bergerak mengelilingi bintang tersebut dan berubah menjadi plnet-planet. Sedangkan bintang yang tidak meledak adalah matahari. Teori ini mempunyai kelemahan karena berdasarkan analisis matematis yang dilakukan oleh para ahli menunjukan bahwa momentum anguler dalam sistem tata surya yang ada sekarang ini tidak mugkin dihasilkan oleh peristiwa tabrakan dua buah bintang (Gombez, 2012).

  1. Teori Ledakan Maha Dahsyat ( Big Bang) George Gamow, Ralph Alpher danRobert Herman Pada tahun 1948

Dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos keluar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi dari volume yang sangat kecil. Alam semesta lahir dari singularitas fisis dengan keadaan ekstrem. Teori Big Bang ini semakin menguatkan pendapat bahwa alam semesta ini pada awalnya tidak ada tetapi kemudian sekitar 12 milyar tahun yang lalu tercipta dari ketiadaan (Gombez, 2012).

Peristiwa ini dikenal dengan Ledakan Maha Dahsyat ”Big Bang”, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Jagat raya tercipta dari suatuketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Pada awalnya alam semesta ini berupa satu massa maha padat. Massa mahapadat ini dapat dianggap satu atom mahapadat dengan ukuran maha kecil yang kemudian mengalami reaksi radioaktif dan akhirnya menghasilkan ledakan maha dahsyat (Gombez, 2012).

  1. Teori Konveksi oleh Arthur Holmes dan Harry H

Menurut Teori Konveksi yang dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess dan dikembangkan lebih lanjut Robert Diez, dikemukakan bahwa di dalam bumi yang masih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus konveksi ke arah lapisan lava sampai ke permukaan bumi di mid oceanic ridge (punggung tengah samudra), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit bumi yang baru sehingga menggerser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua (Geopustaka, 2012).

Bukti dari adanya kebenaran teori ini ysitu terdapatnya mid oceanic, seperti mid Atlantik Ridge, dan Pasific-Atlantik Ridge di permukaan bumi.

Bukti lainnya didasarkan pada penelitian umur dasar laut yang membuktikan semakin jauh dari punggung tengah samudra, umur batuan semakin tua. Artinya, terdapat gerakan yang berasal dari mid oceanic ridge ke arah yang berlawanan disebabkan oleh adanya arus konveksi dari lapisandi bawah kulit bumi (Geopustaka, 2012).

  1. Teori Planetisimal Hypothesis

Di kemukakan oleh, Forest Ray Moulton, seorang ahli astronomi Amerika bersama rekannya T.C Chamberlain, seorang ahli geologi, yang mengatakan matahari terdiri dari massa gas bermassa besar sekali, pada suatu saat didekati oleh sebuah bintang lain yang melintas dengan kecepatan tinggi di dekat matahari. Pada waktu bintang melintas di dekat matahari dan jarak keduanya relatif dekat, maka sebagian massa gas matahari ada yang tertarik ke luar akibat adanya gravitasi dari bintang yang melintas tersebut. Sebagian dari massa gas yang tertarik ke luar ada yang pada lintasan bintang dan sebagian lagi ada yang berputar mengelilingi matahari karena gravitasi matahari. Setelah bintang melintas berlalu, massa gas yang berputar mengelilingi matahari menjadi dingin dan terbentuklah cincin yang lama-kelamaan menjadi padat dan disebut planetisimal. Beberapa planetisimal yang terbentuk akan saling tarik – menarik dan bergabung menjadi satu dan pada akhirnya membentuk planet, termasuk Bumi (Wikipedia, 2015).

  1. Teori Tidal

Dua orang ilmuwan Inggris, James Jeans dan Harold Jeffreys, pada tahun 1918 mengemukakan teori tidal. Mereka mengatakan pada saat bintang melintas di dekat matahari, sebagian massa matahari tertarik ke luar sehingga membentuk semacam [cerutu]. Bagian yang membentuk cerutu ini akan mengalami pendinginan dan membentuk planet – planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus (Wikipedia, 2015).

  1. Teori Kuiper

Gerald P. Kuiper mengemukakan bahwa pada mulanya ada nebula besar berbentuk piringan cakram. Pusat piringan adalah protomatahari, sedangkan massa gas yang berputar mengelilingi promatahari adalah protoplanet. Dalam teorinya, dia juga memasukkan unsur – unsur ringan, yaitu hidrogen dan helium. Pusat piringan yang merupakan protomatahari menjadi sangat panas, sedangkan protoplanet menjadi dingin. Unsur ringan tersebut menguap dan mulai menggumpal menjadi planet – planet (Wikipedia, 2015).

  1. Teori Whipple

Fred L. Whipple, seorang ahli astronom Amerika mengemukakan pada mulanya tata surya terdiri dari gas dan kabut debu aneh yang mengandung nitrogen yang sedikit kosmis yang berotasi membentuk semacam piringan. Debu dan gas yang berotasi menyebabkan terjadinya pemekatan massa dan akhirnya menggumpal menjadi padat, sedangkan kabutnya hilang menguap ke angkasa. Gumpalan yang padat saling bertabrakan dan kemudian membentuk planet – planet (Wikipedia, 2015).

Sumber

 

Kategori
Tanpa kategori

Prinsip Stratigrafi

A. Pendahuluan

Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi (litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas penyebaran lapisan batuan.

Ilmu stratigrafi muncul untuk pertama kalinya di Britania Raya pada abad ke-19. Perintisnya adalah William Smith. Ketika itu dia mengamati beberapa perlapisan batuan yang tersingkap yang memiliki urutan perlapisan yang sama (superposisi). Dari hasil pengamatannya, kemudian ditarik kesimpulan bahwa lapisan batuan yang terbawah merupakan lapisan yang tertua, dengan beberapa pengecualian. Karena banyak lapisan batuan merupakan kesinambungan yang utuh ke tempat yang berbeda-beda maka dapat dibuat perbandingan antara satu tempat ke tempat lainnya pada suatu wilayah yang sangat luas. Berdasarkan hasil pengamatan ini maka kemudian Willian Smith membuat suatu sistem yang berlaku umum untuk periode-periode geologi tertentu walaupun pada waktu itu belum ada penamaan waktunya. Berawal dari hasil pengamatan William Smith dan kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang susunan, hubungan dan genesa batuan yang kemudian dikenal dengan stratigrafi.

Berdasarkan dari asal katanya, stratigrafi tersusun dari 2 (dua) suku kata, yaitu kata “strati“ berasal dari kata “stratos“, yang artinya perlapisan dan kata “grafi” yang berasal dari kata “graphic/graphos”, yang artinya gambar atau lukisan. Dengan demikian stratigrafi dalam arti sempit dapat dinyatakan sebagai ilmu pemerian lapisan-lapisan batuan. Dalam arti yang lebih luas, stratigrafi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang aturan, hubungan, dan pembentukan (genesa) macam-macam batuan di alam dalam ruang dan waktu.

  • Aturan: Tatanama stratigrafi diatur dalam “Sandi Stratigrafi”. Sandi stratigrafi adalah aturan penamaan satuan-satuan stratigrafi, baik resmi ataupun tidak resmi, sehingga terdapat keseragaman dalam nama
  • Hubungan: Pengertian hubungan dalam stratigrafi adalah bahwa setiap lapisan batuan dengan batuan lainnya, baik diatas ataupun dibawah lapisan batuan tersebut. Hubungan antara satu lapis batuan dengan lapisan lainnya adalah “selaras” (conformity) atau “tidak selaras” (unconformity).
  • Pembentukan (Genesa): Mempunyai pengertian bahwa setiap lapis batuan memiliki genesa pembentukan batuan tersendiri. Sebagai contoh, facies sedimen marin, facies sedimen fluvial, facies sedimen delta, dsb.
  • Ruang: Mempunyai pengertian tempat, yaitu setiap batuan terbentuk atau diendapkan pada lingkungan geologi tertentu. Sebagai contoh, genesa batuan sedimen: Darat (Fluviatil, Gurun, Glacial), Transisi (Pasang-surut/Tides, Lagoon, Delta), atau Laut (Marine: Lithoral, Neritik, Bathyal, atau Hadal)
  • Waktu: Memiliki pengertian tentang umur pembentukan batuan tersebut dan biasanya berdasarkan Skala Umur Geologi. Contoh: Batugamping formasi Rajamandala terbentuk pada kala Miosen Awal; Batupasir kuarsa formasi Bayah terbentuk pada kala Eosen Akhir.

B. Hukum-Hukum Stratigrafi

  1. Uniformitarianisme

The Present is the key to the past.” (James Hutton, 1785) Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang terlihat sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi masa lampau. Uniformitarianisme adalah peristiwa yang terjadi pada masa geologi lampau dikontrol oleh hukum-hukum alam yang mengendalikan peristiwa pada masa kini. Contoh :pembentukan endapan sediment di muara sungai yang membentuk delta, akan menghasilkan 3 bagian yang berbeda kemiringan lapisan batuan, maka bila dijumpai tipe endapan yang terdiri dari top set, bottom set, dan fore set, menunjukkan adanya proses pengendapan di muara sungai. Jadi penentuan paleogeografi bisa ditentukan berdasar pembacaan data yang terekam pada batuan. Dengan mudah kita dapat menentukan kedalaman lingkungan sediment laut berdasar keberadaan fosil organisme,terumbu karang, yang menunjukan laut dangkal, dan endapan diatome untuk laut dalam.

2. Original Horizontality

Sedimen yang baru terbentuk cenderung mengikuti bentuk dasarnya dan cenderung untuk menghorizontal, kecuali cross bedding. Hal ini karena pengaruh sedimen dikontrol oleh hukum gravitasi dan hidrolika cairan.

3. Superposisi

Dalam keadaan yang tidak terganggu, lapisan paling tua akan berada dibawah lapisan yang lebih muda. Hal ini secara logis dapat dijelaskan bahwa proses pengendapan mulai dari terbebtuknya lapisan awal yang terletak di dasar cekungan, selanjutnya ditutup oleh lapisan yang terendapkan kemudian, yang tentu lebih muda dari ditutupinya.

4. Cross Cutting Relationship

Hukum ini menyatakan bahwa “Batuan yang terpotong mempunyai umur geologi yang lebih tua daripada yang memotong.” Prinsip-prinsip Cross-cutting Relationship :

  • Cross-cutting Relationship Stratigrafi, terjadi jika erosi permukaan atau ketidakseragaman memotong batuan yang lebih tua, struktur geologi atau bentuk-bentuk geologi yang lain.
  • Cross-cutting Relationship Struktural, dimana suatu retakan yang memotong batuan yang lebih tua
  • Cross-cutting Relationship Sedimentasi, terjadi jika suatu aliran telah mengerosi endapan yang lebih tua pada suatu tempat. Sebagai contoh suatu terusan atau saluran yang terisi oleh pasir.
  • Cross-cutting Relationship Paleontologi, terjadi jika adanya aktivitas hewan dan tumbuhan yang tumbuh. Sebagai contoh ketika jejak hewan yang terbentuk atau terendapkan pada endapan berlebih.
  • Cross-cutting Relationship Geomorfologi, terjadi pada daerah yang berliku atau bergelombang (sungai, dan aliran di sepanjang lembah).

5. Faunal Succesion

Fosil (fauna akan berbeda pada setiap perbedaan umur geologi, fosil yang berada pada lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan atasnya. Fosil-fosil yang dijumpai pada perlapisan batuan secara perlahan mengalami perubahan kenampakan fisiknya (ekibat evolusi) dalam cara yang teratur mengikuti waktu geologi. Demikian pula suatu kelompok organism secara perlahan digantikan oleh kelompok organism lain. Suatu perlapisan tertentu dicirikan oleh kandungan fosil tertentu. Suatu perlapisan batuan yang mengandung fosil tertentu dapat digunakan untuk koreksi antara suatu lokasi dengan lokasi yang lain.

6. Lateral Continuity

Pengendapan lapisan batuan sedimen akan menyebar secara mendatar, sampai menipis atau menghilang pada batas cekungan dimana ia diendapkan. Lapisan yang diendapakna oleh air terbentuk terus-menerus secara lateral dan hanya membaji pada tepian pengendapan pada masa cekungan itu terbentuk.

7. Law of Inclusion

Suatu tubuh batuan yang mengandung fragmen dari batuan yang lain selalu lebih muda dari tubuh batuan yang menghasilkan fragmen tersebut. Batuan yang menjadi inklusi batuan lain terbentuk lebih dahulu daripada yang mengingklusinya. Hampir sama seperti prinsip cross-cutting. Suatu fragmen (yang direkatkan) dalam batuan sedimen selalu lebih tua dari semen (perekatnya).

8. Kompleksitas

Kondisi tektonik yang lebih kompleks menunjukkan bahwa telah terjadi gangguan tektonik lebih dari satu kali pada daerah tersebut. Hal ini menunjukkan daerah tersebut berumur lebih tua dibanding lapisan batuan yang berstruktur lebih sederhana.

9. Hukum “V”

Pola penyebaran singkapan batuan dipengaruhi oleh kemiringan lapisan batuan dan topografi. Hubungan antara kemiringan lapisan batuan dan topografi daerah dirumuskan dengan Hukum “V”

Hukum ” V” (V Rule) Hubungan antara lapisan yang mempunyai kemiringan dengan bentuk topografi berelief akan menghasillcan .suatu pola singkapan yang beraturan, diamana aturan tersebut dikenal dengan hukum “V”. Aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Lapisan horizontal akan membentuk pola singkapan yang mengikuti pola garis kontur.
  2. Lapisan dengan kemiringan yang berlawanan dengan arah kemiringan lereng maka kenampakan lapisan akan memotong lembah dengan pola singkapan membentuk huruf “V” yang berlawanan dengan arah kemiringan lembah.
  3. Pada lapisan tegak akan membentuk pola singkapan berupa garis lurus dimana pola singkapan ini tidak dipengaruhi oleh keadaan topografi.
  4. Lapisan yang miring searah dengan arah kemiringan lereng dimana kemumgan lapisan lebih besar danpada kemiringan lereng akan membentuk pola smgkapan dengan huruf “V” mengarah sama (searah) dengan arah kemiringan lereng.
  5. Lapisan dengan kemiringan yang searah dengan kemiringan lereng dimana besar kemiringan lapisan lebih kecil dari kemiringan lereng , maka pola singkapannya akan membentuk huruf “V” yang berlawanan dengan arah kemiringan lereng /lembah.
  6. Lapisan yang kemiringan nya searah dengan kemiringan lembah dan besarnya kemiringan lapisan sama dengan kemiringan lereng/lembah maka pola singkapan tampak .

10. Hukum korelasi fasies (walther,1894)

Bila tidak ada selang waktu pengendapan dan tidak ada gangguan struktur, maka dalam satu daur/siklus pengendapan yang dapat dikenal secara lateral juga merupakan urutan vertikalnya.

11.Fasies sedimenter (selley,1978).

Suatu kelompok litologi dengan ciri ciri yg khas (fisik,kimia, bilologi) dan merupakan hasil dari suatu lingkungan pengendapan tertentu yang berkembang secara lateral dan vertikal.

12. Aplikasi Stratigrafi

Tujuan utama semua hukum stratigrafi adalah untuk penentuan umur relatif, yaitu untuk memperkirakan batuan mana yang terbentuk lebih dulu dan batuan mana yang terbentuk terakhir. Juga penentuan umur absolutkapan tepatnya batuan itu terbentuk?”. Ini bisa diketahui melalui metode radiometri/datting dengan mengukur kadar unsur radioaktif batuan sehingga diketahui umur batuan secara tepat.

Daftar Pustaka

  • Noor, Djauhari. 2009. Pengantar Geologi. Bogor: Graha Ilmu.
  • Pambudi, Setyo. 2013. Sedimentologi-Stratigrafi.Yogyakarta:STTNAS.
  • 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Jakarta: IAGI Indonesia.
Kategori
Tanpa kategori

Identifikasi mineral megaskopis dan mikroskopis pada deret bowen

Klik disini

Kategori
Tanpa kategori

Batuan Metamorf

A.Kejadian Batuan Metamorf

Batuan metamorf adalah batuan ubahan yang terbentuk dari batuan asalnya seperti batuan beku, batuan sedimen atau batuan metamorf itu sendiri, berlangsung dalam keadaan padat, akibat pengaruh peningkatan suhu (T) dan tekanan (P), atau pengaruh kedua-duanya yang disebut proses metamorfisme dan berlangsung di bawah permukaan.

Proses metamorfosis meliputi :
– Rekristalisasi.
– Reorientasi
– pembentukan mineral baru dari unsur yang telah ada sebelumnya.

Proses metamorfisme membentuk batuan yang sama sekali berbeda dengan batuan asalnya, baik tekstur maupun komposisi mineral. Mengingat bahwa kenaikan tekanan atau temperatur akan mengubah mineral bila batas kestabilannya terlampaui, dan juga hubungan antar butiran/kristalnya. Proses metamorfisme tidak mengubah komposisi kimia batuan. Oleh karena itu disamping faktor tekanan dan temperatur, pembentukan batuan metamorf ini jika tergantung pada jenis batuan asalnya.

B. Jenis metamorfisme

  1. Metamorfisme thermal (kontak), terjadi karena aktiftas intrusi magma, proses yang berperan adalah panas larutan aktif.
  2. Metamorfisme dinamis, terjadi di daerah pergeseran/pergerakan yang dangkal (misalnya zona patahan), dimana tekanan lebih berperan dari pada panas yang timbul. Seringkali hanya terbentuk bahan yang sifatnya hancuran, kadang-kadang juga terjadi rekristalisasi.
  3. Metamorfisme regional, proses yang berperan adalah kenaikan tekanan dan temperatur. Proses ini terjadi secara regional, berhubungan dengan lingkungan tektonis, misalnya pada jalur “pembentukan pegunungan” dan “zona tunjaman” dsb.

jenis metamorfisme

C. Tekstur batuan metamorf

Tekstur batuan metamorf ditentukan dari bentuk kristal dan hubungan antar butiran mineral.

  1. Homeoblastik, terdiri dari satu macam bentuk :
    “Lepidoblastik”, mineral-mineral pipih dan sejajar .
    “Nematoblastik”, bentuk menjarum dan sejajar.
    “Granoblastik”, berbentuk butir.
  2. Heteroblastik, terdiri dari kombinasi tekstur homeoblastik

tekstur batuan metamorf

D. Struktur batuan metamorfik

  1. Struktur batuan metamorf
    Struktur pada batuan metamorf yang terpenting adalah “foliasi”, yaitu hubungan tekstur yang memperlihatkan orientasi kesejajaran. Kadang-kadang foliasi menunjukkan orientasi yang hampir sama dengan perlapisan batuan asal (bila berasal dari batuan sedimen), akan tetapi orientasi mineral tersebut tidak ada sama sekali hubungan dengan sifat perlapisan batuan sedimen. Foliasi juga mencerminkan derajat metamorfisme.
  2. Jenis-jenis foliasi di antaranya :
    • Gneissic : perlapisan dari mineral-mineral yang membentuk jalur terputusputus, dan terdiri dari tekstur-tekstur lepidoblastik dan granoblastik.
    • Schistosity, perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari selangseling tekstur lepodoblastik dan granoblastik.
    • Phyllitic, perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari tekstur lepidoblastik.
    • Slaty, merupakan perlapisan, umumnya terdiri dari mineral yang pipih dan sangat luas.

Beberapa batuan metamorf tidak menunjukkan foliasi, umumnya masih menunjukkan tekstur “granulose” (penyusunan mineral)berbentuk butir, berukuran relatif sama), atau masif. Ini terjadi pada batuan metamorf hasil metamorfisme dinamis, teksturnya kadang-kadang harus diamati secara langsung dilapangan misalnya; “breksi kataklastik” dimana fragmen-fragmen yang terdiri dari masa dasar yang sama menunjukkan orentasi arah ; “jalur milonit”, yaitu sifat tergerus yang berupa lembar/bidang-bidang penyerpihan pada skala yang sangat kecil biasanya hanya terlihat dibawah mikroskop.

E. Beberapa batuan metamorf yang penting

  1. Berfoliasi
    • Batu sabak (Slate)
      Berbutir halus, bidang foliasi tidak memperlihatkan pengelompokan mineral. Jenis mineral seringkali tidak dapat dikenal secara megakopis, terdiri dari mineral lempung, serisit, kompak dan keras.
      SlateFourColors
    • Sekis (Schist)
      Batuan paling umum yang dihasilkan oleh metamorfosa regional. Menunjukkan tekstur yang sangat khas yaitu kepingan-kepingan dari mineral-mineral yang menyeret, dan mengandung mineral feldspar, augit, hornblende, garnet, epidot. Sekis menunjukkan derajat metamorfosa yang lebih tinggi dari filit, dicirikan adanya mineral-mineral lain disamping mika.
      batu sekis
    • Filit (Phyllite)
      Derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate, dimana lembar mika sudah cukup besar untuk dapat dilihat secara megaskopis, memberikan belahan phyllitic, berkilap sutera pecahan-pecahannya. Juga mulai didapati mineral-mineral lain, seperti turmalin dan garnet.
      Phyllite
    • Gneis (Gneiss)
      Merupakan hasil metamorfosa regional derajat tinggi, berbutir kasar, mempunyai sifat “bended” (“gneissic”). Terdiri dari mineral-mineral yang mengingatkan kepada batuan beku seperti kwarsa, feldspar dan mineral-mineral mafic, dengan jalur-jalur yang tersendiri dari mineral-mineral yang pipih atau merabut (menyerat) seperti chlorit, mika, granit, hornblende, kyanit, staurolit, sillimanit.
      gneis
    • Amfibolit
      Sama dengan sekis, tetapi foliasi tidak berkembang baik, merupakan hasil metamorfisme regional batuan basalt atau gabro, berwarna kelabu, hijau atau hitam dan mengandung mineral epidot, (piroksen), biotit dan garnet.
      AmphiboliteUSGS
  2. Tak berfoliasi
    • Kwarsit
      Batuan ini terdiri dari kwarsa yang terbentuk dari batuan asal batupasir kwarsa, umumnya terjadi pada metamorfisme regional.
      kuarsit
    • Marmer/pualam (Marble)
      Terdiri dari kristal-kristal kalsit yang merupakan proses metamorfisme pada batugamping. Batuan ini padat, kompak dan masive dapat terjadi karena metamorfosa kontak atau regional.
      marmer
    • Grafit
      Batuan yang terkena proses metamorfosa (Regional/thermal), berasal dari batuan sedimen yang kaya akan mineral-mineral organik. Batuan ini biasanya lebih dikenal dengan nama batu bara.
      grafit-resmi
    • Serpentinit
      Batuan metamorf yang terbentuk akibat larutan aktif (dalam tahap akhir proses hidrotermal) dengan batuan beku ultrabasa.
      serpentine-76-b

4.6. Klasifikasi
Untuk mengindentifikasi batuan metamorf, dasar utama yang dipakai adalah strukturnya (foliasi atau tak berfoliasi), dan kandungan mineral utamanya atau mineral khas metamorf (lihat tabel 4.1 dan 4.2). Sedangkan klasifikasi secara umum dapat mempergunakan gambar 4.2.

klasifikasi batuan metamorf-vertmetamorf klasifikasiklasifikasi

Sumber
https://www.thinglink.com/scene/619127461094883328

http://www.pitt.edu/~cejones/GeoImages/6MetamorphicRocks/Slate.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Phyllite

http://www.zodized.in/2014/11/jenis-jenis-batuan.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Amfibolit

http://fastrans22.blogspot.co.id/2013/04/batuan-metamorfosa-full-pic.html

Kategori
Tanpa kategori

Sifat-Sifat Fisik Mineral

Sifat-Sifat Fisik Mineral

Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan  penyusun atom-atom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia tersendiri. Dengan mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat dikenal, sekaligus kita mengetahui susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu (Graha,1987)

Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan adalah:

  1. Kilap (luster)
  2. Warna (colour)
  3. Kekerasan (hardness)
  4. Cerat (streak)
  5. Belahan (cleavage)
  6. Pecahan (fracture)
  7. Bentuk (form)
  8. Berat Jenis (specific gravity)
  9. Sifat Dalam
  10. Kemagnetan
  11. Kelistrikan
  12. Daya Lebur Mineral

Kilap

Merupakan kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral saat terkena cahaya (Sapiie, 2006)

Kilap ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi  jenis:

a.    Kilap Logam (metallic luster): bila mineral tersebut mempunyai kilap atau kilapan seperti logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap logam:

  • Gelena
  • Pirit
  • Magnetit
  • Kalkopirit
  • Grafit
  • Hematit

b.    Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas:

  • Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti intan.
  • Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan kalsit.
  • Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai sutera pada umumnya terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat, misalnya pada asbes, alkanolit, dan gips.
  • Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti damar misalnya pada spharelit.
  • Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti lemak atau sabun, misalnya pada serpentin,opal dan nepelin.
  • Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung misalnya pada kaolin, bouxit dan limonit.

Kilap mineral sangat penting untuk diketahui, karena sifat fisiknya ini dapat dipakai dalam menentukan mineral secara megaskopis. Untuk itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lainnya, walaupun kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena batas kilap yang satu dengan yang lainnya tidak begitu tegas (Danisworo 1994).

Warna

Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi tidak dapat diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral dapat berwarna lebih dari satu warna, tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan pengotoran padanya. Sebagai contoh, kuarsa dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walau demikian ada beberapa mineral yang mempunyai warna khas, seperti:

  • Putih                 :  Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O), Gypsum (CaSO4.H2O), Milky Kwartz (Kuarsa Susu) (SiO2)
  • Kuning              : Belerang (S)
  • Emas                 : Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Ema (Au)
  • Hijau                 :  Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit (Cu CO3Cu(OH)2)
  • Biru                    :  Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2 (Si6O18))
  • Merah                : Jasper, Hematit (Fe2O3)
  • Coklat                : Garnet, Limonite (Fe2O3)
  • Abu-abu           : Galena (PbS)
  • Hitam                : Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit

Kekerasan

Adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu mineral dapat membandingkan suatu mineral terentu yang dipakai sebagai kekerasan yang standard. Mineral yang mempunyai kekerasan yang lebih kecil akan mempunyai bekas dan badan mineral tersebut. Standar kekerasan yang biasa dipakai adalah skala kekerasan yang dibuat oleh Friedrich Mohs dari Jeman dan dikenal sebagai skala Mohs. Skala Mohs mempunyai 10 skala, dimulai dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk mineral terkeras .

 

Skala Kekerasan Mohs

Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 Talc H2Mg3 (SiO3)4
2 Gypsum CaSO4. 2H2O
3 Calcite CaCO3
4 Fluorite CaF2
5 Apatite CaF2Ca3 (PO4)2
6 Orthoklase K Al Si3 O8
7 Quartz SiO2
8 Topaz Al2SiO3O8
9 Corundum Al2O3
10 Diamond C

Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini diberikan kekerasan dari alat penguji standar :

Alat Penguji Derajat Kekerasan Mohs
Kuku manusia 2,5
Kawat Tembaga 3
Paku 5,5
Pecahan Kaca 5,5 – 6
Pisau Baja 5,5 – 6
Kikir Baja 6,5 – 7
Kuarsa 7

 

Cerat

Cerat adalah warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat dapat diperoleh apabila mineral digoreskan pada bagian kasar suatu keping porselin atau membubuk suatu mineral kemudian dilihat warna dari bubukan tersebut. Cerat dapat sama dengan warna asli mineral, dapat pula berbeda. Warna cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna mineralnya berubah-ubah. Contohnya :

  • Pirit :  Berwarna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna hitam.
  • Hematit :  Berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.
  • Augite :  Ceratnya abu-abu kehijauan
  • Biotite :  Ceratnya tidak berwarna
  • Orthoklase  :  Ceratnya putih

Warna serbuk, lebih khas dibandingkan dengan warna mineral secara keseluruhan, sehingga dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi mineral (Sapiie, 2006).

Belahan

Balahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah diri pada satu atau lebih arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang mampu membelah yang oleh sini adalah bila mineral kita pukul dan tidak hancur, tetapi terbelah-belah menjadi bidang belahan yang licin. Tidak semua mineral mempunyai sifa ini, sehingga dapat dipakai istilah seperti mudah terbakar dan sukar dibelah atau tidak dapa dibelah. Tenaga pengikat atom di dalam di dalam sruktur kritsal tidak seragam ke segala arah, oleh sebab itu bila terdapat ikatan yang lemah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui bidang-bidang tersebut. Karena keteraturan sifat dalam mineral, maka belahan akan nampak berjajar dan teratur (Danisworo, 1994).

Contoh mineral yang mudah membelah adalah kalsit yang mempunyai tiga arah belahan sedang kuarsa tidak mempunyai belahan.  Berikut contoh mineralnya:

a. Belahan satu arah, contoh : muscovite.

b. Belahan dua arah, contoh   : feldspar.

c. Belahan tiga arah, contoh    : halit dan kalsit.

Pecahan

Pecahan adalah kecenderungan mineral untuk terpisah-pisah dalam arah yang tidak teratur apabila mineral dikenai gaya. Perbedaan pecahan dengan belahan dapat dilihat dari sifat permukaan mineral apabila memantulkan sinar. Permukaan bidang belah akan nampak halus dan dapat memantulkan sinar seperti cermin datar, sedang bidang pecahan memantulkan sinar ke segala arah dengan tidak teratur (Danisworo, 1994).

Pecahan mineral ada beberapa macam, yaitu:

  • Concoidal: bila memperhatikan gelombang yang melengkung di permukaan pecahan, seperti kenampakan kulit kerang atau pecahan botol. Contoh Kuarsa.
  • Splintery/fibrous: Bila menunjukkan gejala seperti serat, misalnya asbestos, augit, hipersten
  • Even: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan halus, contoh pada kelompok mineral lempung. Contoh Limonit.
  • Uneven: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan yang kasar, contoh: magnetit, hematite, kalkopirite, garnet.
  • Hackly: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan kasar tidak teratur dan runcing-runcing. Contoh pada native elemen emas dan perak.

Bentuk

Mineral ada yang berbentuk kristal, mempunyai bentuk teratur yang dikendalikan oleh system kristalnya, dan ada pula yang tidak. Mineral yang membentuk kristal disebut mineral kristalin. Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas disebut amorf (Danisworo, 1994).

Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas, misalnya:

a.    Bangun kubus                     : galena, pirit.

b.    Bangun pimatik                  : piroksen, ampibole.

c.    Bangun doecahedon         : garnet

Mineral amorf misalnya          : chert, flint.

Kristal dengan bentuk panjang dijumpai. Karena pertumbuhan kristal sering mengalami gangguan. Kebiasaan mengkristal suatu mineral yang disesuaikan dengan kondisi sekelilingnya mengakibatkan terjadinya bentuk-bentuk kristal yang khas, baik yang berdiri sendiri maupun di dalam kelompok-kelompok. Kelompok tersebut disebut agregasi mineral dan dapat dibedakan dalam struktur sebagai berikut:

  • Struktur granular atau struktur butiran yang terdiri dari butiran-butiran mineral yang mempunyai dimensi sama, isometrik. Dalam hal ini berdasarkan ukuran butirnya dapat dibedakan menjadi kriptokristalin/penerokristalin (mineral dapat dilihat dengan mata biasa). Bila kelompok kristal berukuran butir sebesar gula pasir, disebut mempunyai sakaroidal.
  • Struktur kolom: terdiri dari prisma panjang-panjang dan ramping. Bila prisma tersebut begitu memanjang, dan halus dikatakan mempunyai struktur fibrous atau struktur berserat. Selanjutnya struktur kolom dapat dibedakan lagi menjadi: struktur jarring-jaring (retikuler), struktur bintang (stelated) dan radier.
  • Struktur Lembaran atau lameler, terdiri dari lembaran-lembaran. Bila individu-individu mineral pipih disebut struktur tabuler,contoh mika. Struktur lembaran dibedakan menjadi struktur konsentris, foliasi.
  • Sturktur imitasi : kelompok mineral mempunyai kemiripan bentuk dengan benda lain. Mineral-mineral ini dapat berdiri sendiri atau berkelompok.

Bentuk kristal mencerminkan  struktur dalam sehingga dapat dipergunakan untuk pemerian atau pengidentifikasian mineral (Sapiie, 2006).

Berat Jenis

Adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air, misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat miberal dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut.

Sifat Dalam

Adalah sifat mineral apabila kita berusaha untuk mematahkan, memotong, menghancurkan, membengkokkan atau mengiris. Yang termasuk sifat ini adalah

  • Rapuh (brittle): mudah hancur tapi bias dipotong-potong, contoh kwarsa, orthoklas, kalsit, pirit.
  • Mudah ditempa (malleable): dapat ditempa menjadi lapisan tipis, seperti emas, tembaga.
  • Dapat diiris (secitile): dapat diiris dengan pisau, hasil irisan rapuh, contoh gypsum.
  • Fleksible: mineral berupa lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah dan sesudah bengkok tidak dapat kembali seperti semula. Contoh mineral talk, selenit.

Blastik: mineral berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan dapat kembali seperti semula bila kita henikan tekanannya, contoh: muskovit.

Kemagnitan

Adalah sifat mineral terhadap gaya magnet. Diatakan sebagai feromagnetic bila mineral dengan mudah tertarik gaya magnet seperti magnetik, phirhotit. Mineral-mineral yang menolak gaya magnet disebut diamagnetic, dan yang tertarik lemah yaitu paramagnetic. Untuk melihat apakah mineral mempunyai sifat magnetik atau tidak kita gantungkan pada seutas tali/benang sebuah magnet, dengan sedikit demi sedikit mineral kita dekatkan pada magnet tersebut. Bila benang bergerak mendekati berarti mineral tersebut magnetik. Kuat tidaknya bias kita lihat dari besar kecilnya sudut yang dibuat dengan benang tersebut dengan garis vertical.

Kelistrikan

Adalah sifat listrik mineral dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu pengantar arus atau londuktor dan idak menghantarkan arus disebut non konduktor. Dan ada lagi istilah semikonduktor yaitu mineral yang bersifat sebagai konduktor dalam batas-batas tertentu.

Daya lebur mineral

Yaitu meleburnya mineral apabila dipanaskan, penyelidikannya dilakukan dengan membakar bubuk mineral dalam api. Daya leburnya dinyatakan dalam derajat keleburan.

Kategori
Tanpa kategori

Mineral Silikat

Mineral silikat

  1. Pengertian

Mineral silikat adalah mineral yang paling mendominasi permukaan bumi. Hampir 95 persen mineral yang pernah ditemukan  di kerak bumi merupakan mineral silikat yang terdiri dari feldspar dan kuarsa. Kehadirannya yang melimpah menyebabkan mineral silikat menjadi kelompok mineral paling utama dari mineral-mineral pembentuk batuan.

Silicate adalah mineral yang tersusun atas silica dan alumunium silica. Melimpahnya mineral ini sebagai dampak akibat melimbahnya unsure oksigen, silicon dan alumunium di kerak bumi ( O= 47 persen, Si=28 persen dan Al=8 persen). Ion silica (Si+4) dan ion oksigen (O-2) saling berikatan membentuk tetrahedral silica (SiO4)-4

Dalam penggabungannya, ikatan yang terjadi dalam tetrahedral silicat anatara ion silica dan oksigen adalah ikatan setengah kovalen, dan setengah ionic.

Mineral silikat dikelompokkan berdasarkan pada cara penggabungan tetrahedra silika dan pola penggunaan bersama ion oksigen dalam struktur kristal. Tetrahedra dapat terbentuk independen tunggal dalam beberapa mineral, namun pada beberapa mineral lain mereka dapat pula bergabung dengan tetrahedra lain dengan cara berbagi satu, dua, tiga, atau keseluruhan empat anion oksigen. Kemungkinan penggabungan tersebut memberikan berbagai bentuk struktur mineral silikat. Struktur silikat semakin kompleks bila jumlah oksigen yang dipergunakan bersama unit SiO4-di dekatnya juga bertambah. Ketika jumlah oksigen bersama bertambah, struktur semakin terbuka dan semakin berkurang densitasnya, semakin banyak tempat untuk masuknya ion-ion besar, seperti kation Na+dan K+serta anion (OH)-.

  1. Struktur dan klasifikasi silikat

Berdasarkan cara penggabungan tetrahedra silika dan pola penggunaan bersama ion oksigen, silikat dibedakan dalam 6 kelompok, yaitu:

  1. Nesosilicates
  • Pengertian dan ciri

Neso= pulau, adalah mineral silikat yang dicirkan oleh tetrahedra silika tunggal yang tidak saling membagi ion oksigen dengan tetrahedra silika lainnya. Dengan kata lain tetrahedral silika yang belum bergabung satu sama lain, hanya berupa gugus-gugus silika yang terdiri dari 1 atom oksigen, dikelilingi 4 atom Si. Perbandingan ion silika (Si4+)  terhadap ion oksigen (O2-) dalam bangun tetrahedra adalah 1 : 4. Perbandingan ini mencerminkan rumus mineral nesosilikat, yang selalu tersusun oleh komponen (SiO4)4- sebagai tetrahedra tunggal. (SiO4)4- tidak berikatan dengan (SiO4)4- secara langsung, dihubungkan oleh ikatan ionic dari kation-kation terrestrial.

  • Gambar struktur

Lingkaran merah merupakan kation-kation terestrial

  • Contoh mineral

Olivine, Fayalite, Forsterit, Kelompok Garnet , Topaz

  1. Sorosilicate
  • Pengertian dan ciri

Dua tetrahedral saling berikatan membentuk satu unit, pada setiap tetrahedron satu O dipakai bersama dengan tetrahedron lainnya membentuk struktur menyerupai “ikatan dasi kupu-kupu”. Perbandingan ion silica (SiO4)4-  terhadap ion oksigen (O2-) adalah

2 : 7, mencerminkan rumus dasar sorosilikat yang selalu mengandung unsur (Si2O7)-6.

  • Gambar struktur
  • Contoh mineral

Kelompok Epidot terdiri dari lima mineral, yaitu epidot, klinozoisit, alanit, piemontit dan zoisit.

 

  1. Siklosilicate
  • Pengertian dan ciri

Kikos = lingkaran, bila dua atau lebih tetrahedral silica berikatan dengan menggunakan 2 atom O nya dan membentuk struktur tertutup seperti lingkaran. Perbandingan ion silika (Si4+) terhadap ion (O2-) adalah 1 : 3. Dalam siklosilikat, struktur yang terbentuk adalah cincin, dengan tiga bentuk dasar, yaitu: segitiga, segiempat Si4O12, dan heksagonal Si6O18.

  • Gambar struktur

 

  • Contok mineral

Benitoit (BaTiSi3O9), Aksinit (Ca,Fe,Mn)3Al2(BO3)(Si4O12)(OH), Beril (Be3Al2Si6O18)

 

  1. Inosilicate
  • Pengertian dan cirri

Ino = benang, dalam inosilikat tetrahedral dalam jumlah tak terhingga atau terhingga dihubungkan  melalui ion oksigen yang dipergunakan bersama membentuk struktur rantai.

Ada 2 tipe utama struktur rantai inosilikat, yaitu :

  • Struktur rantai tunggal, di mana tetrahedral single berikatan dengan single tetrahedral lainnya melalui oksigen. Struktur rantai tunggal ini diwakili oleh kelompok mineral terpenting pembentuk batuan yaitu kelompok Piroxen
  • Struktur rantai ganda, di mana 2 rantai single tetrahedral berikatan satu sama lain. Dan diwakili oleh kelompok mineral terpenting pembentuk batuan yaitu kelompok Amphibole

 

  • Gambar struktur

Rantai tunggal

Rantai ganda

  • Contok mineral

Rantai tunggal : Kelompok piroksen (Si2O6) contoh:  Enstatit, Diopsid, Augit, Aegirin, Jedeit.

Rantai ganda : Kelompok amfibol (Si8O22), terbagi menjadi 5 seri yaitu :  Tremolit-Aktinolit, Hornblende, Anthofilit, Cummingtonit, dan Alkali Amfibol.

Dalam inosilikat terdapat satu kelompok lagi yaitu kelompok Piroxenoid. Struktur kelompok piroxenoid hampir sama dengan kelompok piroxen, akan tetapi rantai pada struktur piroxenoid lebih tidak teratur, membelit, dan hampir seperti skrup. Strukturnya yang tidak teratur menyebabkan bentuknya memiliki tingkat simetrisan yang rendah. Dan hampir semua system kristalnya adalah triklinik.

Contoh mineral : Wolastonit, Rodhonit, dan Pektolit.

  1. Filosilikat
  • Pengertian dan ciri

Phillon = daun, ketika beberapa rantai tetrahedra silika dihubungkan melalui ion oksigen bersama. 3 atom O dipakai bersama oleh satu tetrahedral dengan tetrahedral lain. Rantai-rantai tersebut akan membentuk lembaran dalam dua dimensi, yang merupakan penciri mineral filosilikat. Silikat ini lazim disebut silikat lembaran, memiliki rasio Si/O 2 : 5 atau 4 : 10.

Karena dominasi (SiO4) tak terhingga dalam struktur, maka pola serpihan mineralnya cukup datar dan ada celah nyata, lembut dan memiliki spesifik gravity yang rendah, fleksibel dan elastic.

  • Gambar struktur

Dalam subkelas filosilikat terdapat :

  1. Mika Group : terdiri dari mineral Muskovit, Biotit, Lepidolit, Glaukonit, flogopit, apofilit.
  • Contoh mineral

Mineral filosilikat yang banyak dijumpai adalah serpentin, talk, klorit, mika, biotit, muskovit dan lempung. Mineral filosilikat lainnya yang tidak begitu melimpah adalah apofilit, prehnit, dan stilpnomelan.

  1. Tektosilikat
  • Pengertian

Mineral tectosilikat tersusun oleh tetrahedra silika yang terhubungkan melalui seluruh anion oksigen kepada tetrahedra di dekatnya dalam bentuk struktur kerangka tiga-dimensi. Mineral tektosilikat, seringkali disebut silikat kerangka, memiliki rasio Si/O 1 : 2. Dua kelompok utama mineral tektosilikat adalah kelompok silika SiO2 dan kelompok silikat aluminium feldspar. Kelompok tektosilikat penting lainnya mencakup: kelompok feldspatoid yang miskin silika namun kaya aluminium, dan kelompok zeolit yang kaya aluminium terhidrasi.

  • Gambar struktur

 

Dalam subklas tektosilikat terdapat :

  1. Silikat Group : terditri dari 5 mineral yang berbeda yaitu kuarsa, tridimit, kristobalit, opal, dan lekatelierit.

Kuarsa sangat mudah ditemukan, tridimit dan kristobalit tersebar pada batuan vulkanik tapi termasuk jarang, opal merupakan mineral yang tidak biasa dan lekatelierit merupakan mineral yang tergolong sangat jarang.

  1. Feldspar Group : merupakan mineral paling penting karena kelimpahannya sangat melimpah di permukaan bumi, terutama mudah ditemuai pada batuan vulkanik. terdiri dari dua sub-kelompok utama, yaitu feldspar potasium dan plagioklas.
  • Kelompok feldspar potasium mencakup polimorf ortoklas, mikroklin, dan sanidin, yang semuanya ditulis dengan rumus KAlSi3O8.

 

  • Kelompok plagioklas, dengan rumus kimia (Ca,Na)(AlSi)AlSi2O8.

Rumusan tersebut mencerminkan pergantian ion antara mineral albit (NaAlSi3O8) dan anortit (CaAl2Si2O8) yang menjadi cirri kelompok plagioklas. Sehingga komposisi plagioklas dinyatakan dalam proporsi anortit (%An), dimana komponen albit dinyatakan sebagai (100% – %An), menghasilkan enam varian plagioklas.

Yaitu           : Albite                                       Asam

                       Ologoklas

                       Andesin                                   Intermediet

                       Labradorit

                       Bitownit

                       Anortit                                     Basa

 

 

  1. Kelompok Feldspatoid : Sebagaimana feldspar, feldspatoid adalah tektosilikat pembawa aluminium. Namun feldspatoid memiliki kandungan silika lebih rendah dan kandungan aluminium lebih tinggi. Akibatnya, lebih banyak kation alkali (potasium, sodium, dan kalsium) yang diperlukan untuk menetralkan feldspatoid.

 

  • Identifikasi mineral :

Habit : Crystal commonly prismatic terminated by two sides of rhombohedral.

Cleavage and fracture : Generally none, concoidal.

Hardness : 7

Color : usually colorless or white

Streak : white

Luster : Vitreous in macrocrystalin, and waxy or dull in cryptocrystalin varieties.

Kuarsa dibagi atas 2 varietas, yaitu makrokristalin dan kriptokristalin:

Makrokristalin : milky quartz, amethyst, rose quartz, smoky quartz, citrine.

Kriptokristalin : Agate, jasper, karnelian, chert, tiger eye.

 

Muscovite and biotit :

Cristal system : monoclinic

Habit : usually in lameral ,asses or small flakes

Cleavage : 1 direction

Hardness : 2,5 (on cleavage), 4 (across cleavage)

Color : colorless or pale brown, gray (muscovite), dark green, brown, or black (biotite with iron content)

Streak : White

Luster : Vitreous sometimes pearly

 

opal

crystal system : none

hardness : 5.5-6.5

color : colorless, milky, also white, gray

streak : white

luster : vitreous or waxy