Kategori
Geologi Dasar Petrologi

Pelapukan Batuan

A. Pengertian Pelapukan

  • Pelapukan adalah proses berubahnya batuan menjadi tanah (soil) baik oleh proses fisik atau mekanik (disintegrasi) maupun oleh proses kimia (decomposition). Proses decompositiondapat menyebabkan terjadinnya mineral-mineral baru. (Sawkins dkk, 1978: 346)
  • Pelapukan adalah proses alterasi dan fragsinasi batuan dan material tanah pada dan/atau dekat permukaan bumi yang disebabkan karena proses fisik, kimia dan biologi. Hasil dari pelapukan ini merupakan asal (source) dari batuan sedimen dan tanah (soil).

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan

Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pelapukan, yang diantaranya sebagai berikut ini:

  1. Keadaan cuaca dan iklim

Unsur dari cuaca dan iklim yang dapat mempengaruhi proses pelapukan adalah suhu, sinar matahari, curah hujan dan keadaan angin. Jika pada daerah beriklim panas dan lembab maka batuan akan cepat mengalami pelapukan dan pergantian suhu yang ekstem antara siang dan malam akan mempercepat proses pelapukan juga.

pelapukan

  1. Keadaan topografi

Keadaan topografi di suatu daerah dapat mempengaruhi terjadinya pelapukan, karena batuan yang terdapat pada lereng-lereng yang curam akan lebih mudah mengalami pelapukan jika dibandingkan dengan batuan yang terdapat di daerah datar.

  1. Keadaan dari struktur batuan

Keadaan struktur batuan merupakan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh batuan, misalnya sifat fisik yang dimiliki oleh batuan seperti warna sedangkan sifat kimianya seperti unsur yang terdapat pada batuan. Jadi sifat inilah yang dapat menyebabkan perbedaan daya tahan batuan terhadap proses pelapukan. Batuan yang mudah mengalami pelapukan misalnya seperti batuan sedimen dan yang susah mengalami pelapukan seperti batuan beku.

  1. Keadaan vegetasi

Keadaan dari vegetasi atau tumbuhan juga akan mempengaruhi proses cepat atau lambatnya proses pelapukan. Seperti akar pada tumbuhan tertentu yang dapat mencengkram dan menembus batuan sehingga dapat menghancrkan batuan.

C. Jenis-jenis Pelapukan

  1. PELAPUKAN MEKANIK

Pelapukan secara fisik umumnya disebut pelapukan fisika (physical weathering) atau dikatakn pula pelapukan mekanik (mechanical weathering). Pada proses pelapukan ini hanya terjadi perubahan fisik saja secara mekanik, tidak disertai perubahan kimia. Sehingga komposisi kimianya tetap yang berubah hanya sifat fisiknya saja.

Dari yang semula mempunyai bentuk tubuh batuan besar serta masif, hancur menjadi bentuk-bentuk lebih kecil, yang terjadi hanya disintegrasi saja, perubahan fisik batuan ini dapat diakibatkan oleh beberapa cara yaitu:

  • Rekahan-rekahan(sheeting joint)

           Perubahan secara fisik atau terurainnya batuan yang semula masif dapat terjadi akibat hilangnya tekanan dari beban lapisan diatasnya yang semula menimbunnya. Akibat lapisan penimbunan tererosi, maka beban yang menekan batuan akan hilang. Dengan hilangnya beban, maka batuan seolah-olah mendapat tekanan dari dalam, yang menjadikan rekahan-rekahan yang sejajar dengan permukaan. Kenampakannya seperti perlapisan, dan dinamakan kekar berlembar atau sheeting joint. Pengaruh hilangnya beban ini tidak terlalu tebal, pada umumnya tidak melebihi dari 50 meter, karena beban ini cukup berat sehingga kekar tidak berkembang lebih lanjut.

  • Tekanan Es (frost wedging)

        Pada suhu yang sangat rendah, melebihi titik beku, air akan membeku menjadi es. Air yang membeku mempunyai volume yang lebih besar sekitar 9 persen. Tekanan dari membesarnya volume ini dapat menghancurkan batuan. Pembekuan air yang terdapat didalam pori-pori dan rekahan batuan menekan dinding disekitarnya, dan dapat menghancurkan batuan. Pelapukan mekanik ini umumya terjadi didaerah pegunungan tinggi, atau daerah bermusim dingin. Penekanan dari pertambahan volume ini paling efektif pada suhu antara -5C sampai -15oC.

  • Pertumbuhan Kristal

Air tanah yang mengalir perlahan melalui rekahan-rekahan batuan dibawah permukaan mengandung ion-ion yang dapat mengendap sebagai garam dan terpisah dari larutannya. Pertumbuhan kristal-kristal garam ini menekan celah-celah atau rongga antara butir pada batuan, sehingga batuan tersebut dapat terdisintegrasi atau hancur. Gejala semacam ini sering terlihat didaerah gurun, dimana air tanah naik dan menguap dengan cepat.

kritalisasi

  • Pengaruh Suhu (thermal)

Berawal dari hukum fisika bahwa bila suatu bahan yang dipanaskan akan memuai dan mengkerut kembali apabila dingin, orang berpendapat demikian pula yang terjadi dalam pelapukan mekanik. Perbedaan suhu antara siang hari dan malam hari dapat menghancurkan batuan. Pada siang hari batuan mengalami panas, maka mineral-mineralnya akan memuai, dengan daya muaianya masing-masing yang tidak sama. Pada malam hari suhu turun dan mineral mengkerut kembali, sehingga ikatan antara butir atau mineral melemah dan lama-kelamaan terlepas. Bila tidak ada lagi ikatan antara mineral dalam batuan, maka hancurlah batuannya. Akan tetapi pada percobaan di laboratorium terhadap batuan di permukaan, perbedaan suhu antara siang dan malam tidak berpengaruh terhadap batuan. Sehingga faktor waktu dan perubahan suhu yang ekstrim secara periodiklah yang berperan.

  • Pengaruh tumbuhan

Benih tumbuhan yang hisup pada celah batuan makin lama makin besar menjadi pohon. Akarnya akan membesar, menekan dan menerobos batuan disekitarnya secara perlahan dan menghancurkan batuannya. Penghancuran batuan oleh akar tumbuhan ini tidak semata-mata oleh tekanan akar saja, tetapi ada unsur kimianya.

contoh pelapukan fisik

2. PELAPUKAN KIMIA

            Pelapukan kimia adalah ‘penghancuran’ batuan oleh pengubahan kimia terhadap mineral-mineral pembentuknya yang melibatkan beberapa reaksi penting antara unsur-unsur di atmosfir dan mineral-mineral pada kerak bumi. Dalam proses-proses ini, struktur dalam mineral semula terurai dan terbentuk mineral-mineral baru, dengan struktur kristal baru yang stabil diatas permukaan bumi. Reaksi yang demikian menyebabkan terjadinya perubahan besar terhadap komposisi kimia, sifat fisik batuan, sehingga dapat dikatakan proses dekomposisi.

Misalnya mineral-mineral yang terdapat dalam  batuan beku dan metamorf terbentuk pada kondisi suhu dan tekanan tinggi. Bila sampai di permukaan bumi, baik suhu maupun tekanannya jauh lebih rendah dari kondisi saat pembentukan. Untuk mencapai keseimbangan mineral tersebut terurai dan komponen komponennya membentuk mineral baru yang lebih stabil pada lingkungan atmosfir.

Mineral-mineral yang terbentuk pada awal pendinginan magma, pada suhu dan tekann tinggi, olivin dan kelompok feldspar misalnya, akan lebih mudah mengalami pelapukan dipermukaan, karena kondisinya jauh dibawah saat pembentukannya. Sedangkan mineral yang terbentuk paling akhir yaitu kuarsa, akan lebih tahan terhadap pelapukan karena kondisi pembentukannya hampir mirip dengan permukaan. Bila kita ingat Seri Reaksi Bowen, daya tahan mineral terhadap pelapukan adalah kebalikannya.

            Air mempunyai peran utama dalam pelapukan kimiawi, sedangkan peran utama dalam reaksi-reaksi kimia adalah sebagai medium transportasi unsur-unsur yang ada di atmosfir langsung ke mineral-mineral pada batuan dimana reaksi dapat berlangsung. Air juga memindahkan hasil pelapukan sehingga teringkap sebagai batuan segar. Kecepan dan derajat pelapukan kimia sangat dipengaruhi oleh banyaknya hujan. Proses-proses dekomposisi diantaranya adalah:

  1. Hidrolisa (hydrolysis)

Dekomposisi mineral yang disebabkan oleh ion hidrogen diperlihatkan pada contoh mineral Kalium feldspar. Ion H+ masuk kedalam Kalium feldspar KAlSi3O8 dan mengganti ion kalium yang keluar dari kristal dan terlarut. Air yang bercampur dengan sisa molekul alumunium silikat membentuk mineral lempung Kaolinit {Al4Si4O10(OH)8}

Hidrolisa K Feldspar :

KAlSi3O8 + 4H+ + 2H2O —–>  4K+ + Al4Si4O10(OH)8 + 8SiO2

Kaolinit adalh mineral lempung yang tidak terdapat pada batuan asal (original rock) dan terbentuk oleh reaksi kimia, dan termasuk regolith. Reaksi kimia dimana ion dalam mineral digantikan oleh ion-ion H+ dan OHdalam air, dinamakan proses hidrolisa, yang umum terjadi pada pelapukan kimia batuan.

  1. Oksidasi

Unsur besi (fe), umum dijumpai dalam mineral pembentuk batuan, termasuk biotit, augit dan hornblende. Apabila mineral ini mengalami pelapukan kimia, besi terlepas dan segera teroksidasi dari Fe2+ menjadi Fe3+ jika ada oksigen. Berlangsungnya oksidasi bersamaan dengan hidrasi menghasilkan goethit, mineral berwarna kekuning-kuningan.

4FeO + 2H2O + O2 ——> 4FeO.OH

Goethit jika mengalami proses dehidrasi, kehilangan H2O, menjadi hematit. Hematit (Fe2O3) berwarna merah bata.

Reaksi yang berlangsung adalah :

2FeO.OH ——> Fe2O3 + H2O

Intensitas warna-warna ini pada batuan yang lapuk dan tanah, dapat dipergunakan untuk mengetahui sudah berapa lama pelapukan berlangsung.

  1. Pencucian (leaching)

Proses lain yang umum dijumpai pada pelapukan kimiawi adalahleaching, merupakan kelanjutan “pengambilan” material yang dapat larut dalam batuan atau regolith oleh air. Oleh karena itu sering juga proses ini disebut sebagai proses pelarutan atau dissolution. Contohnya silika yang terlepas dari batuan oleh pelapukan kimia, sebagian tertinggal dalam regolith yang kaya akan lempung dan sebagian perlahan-lahan terlarut didalam air yang mengalir didalam tanah. Ion kalium yang terpisah dari batuan, juga terlepas sebagai larutan dalam air.

Air dikenal sebagai pelarut yang efektif dan universal, susunan molekulnya polar. Oleh sebab itu mampu melepaskan ikatan ion dalam mineral pada permukaan kontaknya. Beberapa jenis bataun ada yang dapat larut seutuhnya dan terbawa hanyut. Contohnya batu garam yang dapat larut seutuhnya. Gypsum dan batugamping yang mineral utamanya CaCo3juga dapat larut, terutama bila airnya kaya akan asam karbondioksida.

macam pelapukan kimia

3. PELAPUKAN BIOLOGIS

Pelapukan biologi atau sering pula disebut pelapukan organik adalah proses pelapukan batuan yang dilakukan oleh organisme melalui aktivitasnya di sekitar lingkungan batuan tersebut. Adapun organisme yang berperan dalam macam pelapukan ini bisa berupa hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, hingga manusia.

Proses pelapukan biologi melibatkan 2 cara, yaitu cara biokimia dan cara mekanis. Berikut ini adalah contoh pelapukan biologimelalui 2 cara tersebut.

  • Tumbuhnya lumut di permukaan batuan memungkinkan batuan mengalami degradasi. Lembabnya permukaan batuan akibat proses penyerapan akar serta tingginya pH di sekitar permukaan batuan tersebut akibat ekskresi sisa metabolisme lumut membuat permukaan batuan mengalami korosi.
  • Penetrasi akar tumbuhan ke dalam sela-sela batuan menekan batuan sehingga mengalami perpecahan.

Contoh Hasil Pelapukan biologis

contoh pelapukan biologis

macam pelapukan biologi

Sumber

http://www.berpendidikan.com/2015/06/pengertian-dan-macam-macam-pelapukan-dan-contohnya.html

http://www.softilmu.com/2014/07/pelapukan.html

http://www.ebiologi.com/2016/03/macam-macam-pelapukan-dan-contohnya.html

 

Kategori
Geologi Dasar Petrologi

Batuan Beku

BATUAN BEKU

Batuan beku (igneous rock), merupakan batuan yang membeku langsung dari proses pembekuan magma, baik di bawah permukaan bumi, maupun di permukaan bumi itu sendiri. Sedangkan magma sendiri merupakan batuan cair yang liat dan pijar, bersuhu dan tekanan tinggi, serta mengandung senyawa-senyawa silikat.

Cirri khas batuan beku adalah kenampakan yang kristalin, yaitu kenampakan suatu massa dari unit-unit kristal yang saling mengunci, kecuali gelas (glassy) yang memiki kenampakan non kristalin.

Sebelum masuk ke klasifikasi sebaiknya kita mempelajari beberapa hal terlebih dahulu seperti komposisi, tekstur, dan struktur dari batuan beku tersebut, agar nantinya lebih paham dengan dasar-dasar pengklasifikasian dari beberapa ahli seperti C.Fenton, Dr.Russell B.Travis, dan Hamblin.

  1. Komposisi

Ada delapan mineral yang umum di jumpai di batuan beku dan biasa disebut sebagai mineral batuan beku (igneous mineral). Mineral-mineral tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu:

  1. Mineral Asam = Felsic Minerals = Nonferromagnesian silicates

Mineral-mineral ini tersusun atas unsure silica dan alumina. Mineral ini berwarna cerah dan umumnya disebut mineral asam (felsik), kecuali plagioklas Ca. Mineral-mineral tersebut adalah:

  1. Kuarts
  2. Muskovit
  3. Feldspar Ortoklas
  4. Feldspar Plagioklas
  1. Mineral Basa = Mafic Minerals = Ferromanesian minerals

Mineral-mineral yang tersusun oleh unsure-unsur besi, magnesium dan kalsium, berwarna gelap dan biasa disebut mineral basa (mafik). Mineral-mineral tersebut adalah:

  1. Biotit
  2. Olivine
  3. Piroksin
  4. Hornblende
  5. Tekstur

Tekstur adalah kenampakan batuan yang berkaitan dengan ukuran, bentuk dan susunan butir mineral dalam batuan.

Derajat pengkristalan meliputi :

  1. Holokristalin (semua kristal)
  2. Hiokristalin (kristal dengan gelas volkanik)
  3. Holohialin ( semua gelas volkanik)

Bentuk kristal diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Euhedral : bentuk dan batas kristal baik.
  1. Subhedral : bentuk sdang, batas kristal ada yang baik ada yang jelek.
  1. Anhedral : bentuk dan batas kristal jelek.

Ukuran butir (menurut William dalam Williams dkk, 1954 : 32) :

  1. Halus : <>
  2. Sedang : 1 – 5 mm
  3. Kasar : 5 – 30 mm
  4. Sangat Kasar : > 30 mm

Tekstur batuan beku yang umum adalah :

  1. Phaneritic Granular

Bila butir mineral dapat dilihat dengan mata telanjang.

  1. Aphanitic

Bila butiran-butiran mineral sangat halus sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

  1. Porphyritic, dibedakan menjadi dua :
  1. Phaneroporphyritic (porphyritic-phaneritic)

Bila butiran-butiran mineral yang besar (mineral sulung atau fenokris) dikelilingi oleh mineral-mineral (masa dasar) yang butirnya berukuran lebih kecil yang mana dapat dilihat dengan mata telanjang.

  1. Porphyroaphanitic (porphyritic-aphanitic)

Bila butiran-butiran mineral sulung (fenokris) dikelilingi oleh masa dasar yang aphanitic.

  1. Gelas (glassy)

Bila batuan beku semata-mata tersusun oleh mineral gelas.

  1. Fragmental

Bila batuan beku tersusun oleh fragmen-fragmen bauan beku hasil letusan (erupsi) gunungapi.

  1. Struktur

Sturuktur adalah kenampakan hubungan antar bagian batuan yang berbeda.

Macam-macam struktur :

  1. Masif

Bila batuan pejal tanpa retakan maupun lubang-lubang gas.

  1. Jointing

Bila batuan nampak mempunyai retakan.

  1. Vesikuler

Bila batuan menpunyai lubang-lubang gas.

Ada beberapa macam, yaitu :

  • Skoriaan (scoriaceous), bila lubang banyak dan tidak saling berhubungan umumnya dijumpai pada batuan beku basah.
  • Pumisan (pumiceous), bila lubang sangat banyak dan saling berhubungan, umumnya dijumpai pada batuan beku asam.
  • Aliran (flow), bila da kesan orientasi sejajar baik oleh kristal-kristal maupun oleh lubang-lubang gas.
  • Amigdaloidal, bila lubang-lubang gas pada batuan beku terisi oleh mineraineral sekuder ( terbentuk setelah pembekuan magma).
  1. Klasifikasi Batuan Beku
  2. Klasifikasi Batuan Beku Menurut Fenton

Menurut buku “The Rock Book” karangan Fenton, Fenton membagi jenis-jenis batuan beku berdasarkan beberapa hal, diantaranya:

  1. Warna dan Komposisi Mineral Dominan

Berdasarkan warna dan komposisi mineral dominant, Fenton membagi menjadi 2 yaitu:

  1. Berwarna Terang

Yang mana mengandung beberapa mineral iron-magnesian. Masih dibagi lagi menjadi 3 bagian yaitu ortoklas dominant, ortoklas dan plagioklas hamper setara, dan plagioklas dominant.

  1. Berwarna Gelap

Yang mana banyak mengandung mineral iron-magnesian. Masih dibagi lagi menjadi 2 bagian yaitu ada plagioklas dan tidak ada plagioklas.

  1. Tekstur dan Letak Kedalaman Saat Batuan Membeku

Berdasarkan tekstur dan letak kedalaman, Fenton membagi jenis batuan menjadi lima bagian:

  1. Butiran Kasar (Coarse Grained)

Mineral penyusun batuan ini kebanayakan dapat terlihat dengan mata telanjang. Batuan jenis ini terbentuk didalam (intrusive). Batuan jenis ini memilki 2 jenis tekstur yaitu porfiritik dan bukan porfiritik.

  1. Butiran Padat atau Butiran Halus (Dense or Very Fine Grained)

Berbeda dengan Coarse-Grained, mineral pada jenis batuan ini cenderung sulit terlihat oleh mata telanjang, karena begitu kecil dan halusnya. Batuan jenis ini rata-rata membeku di permukaan bumi (ekstrusif). Ada juga yang membeku didalam, tetapi tetap dekat permukaan (intrusive near surface). Batuan jenis ini juga memiliki 2 jenis tekstur yaitu porfiritik dan bukan porfiritik.

  1. Berbentuk Gelas (Glass, wholly or in part)

Batuan ini memiliki bentuk gelas pada seluruh bagiannya atau hanya pada beberapa bagian saja.

  1. Ekstrusive

Batuan jenis ini membeku di luar permukaan bumi. Fenton meninjau batuan ini dari segi letak pembekuan batu tersebut. Batuan jenis ini pasti porfiritik

  1. Berfragmen (Fragmental)

Bentuk lapisan pada batuan ini memiliki fragmen-fragmen. Batuan jenis ini membeku di permukaan bumi (ekstrusif).

Contoh Penamaan Batuan Beku Menurut Klasifikasi Fenton

 

  1. Nama Batuan : Riolit
  2. Deskripsi Batuan :
  3. Warna : berwarna terang (sedikit Fe dan Mg).
  4. Komposisi : dominan ortoklas, khususnya kuarsa.
  5. Tekstur : teksturnya porfiroafanitik. Yaitu tekstur yang memiliki fenokris (mineral sulung) dan ground mass (massa dasar), namun massa dasar itu sendiri tidak tampak oleh mata, sehingga tidak dapat di deskripsikan
  6. Kesimpulan dan Gambar Batuan

Dari table diatas dapat disimpulkan bahwa batuan ini disebut Batu Riolit.

 

  1. Nama Batuan : Basalt
  2. Deskripsi Batuan :
  3. Warna : berwarna gelap (banyak Fe dan Mg).
  4. Komposisi : dominan plagioklas
  5. Tekstur : teksturnya ialah afanitik (not porphyritic). Sehingga mineral-mineral dalam batuan ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
  6. Kesimpulan dan Gambar Batuan

Dari table diatas dapat disimpulkan bahwa batuan ini disebut Batu Basalt.

 

Kelebihan dan Kekurangan

  1. Kelebihan

Sistem klasifikasi Fenton dapat menampilkan lebih banyak jenis batuan dan lebih spesifik dibanding klasifikasi Hamblin. Tabel yang dibuat Fenton dirasa paling simple dan mudah untuk dipelajari karena tidak serumit table yang dibuat oleh Russell. Keunggulan lainnya, Fenton juga menampilkan pembagian batuan berdasarkan letak pembentukannya. Sehinnga klasifikasi inilah yang cocok untuk kegiatan lapangan, karena mudah dipahami.

  1. Kekurangan

Dalam klasifikasi yang dibuatnya, Fenton tidak dapat menampilkan indeks warna seperti klasifikasi Russell. Selain itu Fenton hanya menuliskan kandungan mineral sebuah batuan secara garis besar saja, sehingga ada kemungkinan kandungan mineral penting lainnya yang menyusun sebuah batuan tidak tersebutkan. Fenton juga belum bisa membagi batuan berdasarkan ukuran mineral, hanya porfiritk dan non porfirtik, tidak seperti klasifikasi Russsell yang telah membagi ke paneritik, porfiritik, dan afanitik. Dan kesimpulannya ialah, klasifikasi Fenton masih umum (belum spesifik) dan hanya mengandalkan kemampuan mata telanjang untuk membedakan batuan.

  1. Klasifikasi batuan beku menurut Hamblin dan Howard

Hamblin dan Howard mengidentifikasi batuan berdasarkan komposisi mineral yang terkandung didalam batuan tersebut. Selain komposisi mineral, Hamblin dan Howard juga membagi batuan dengan melihat tekstur dan dimana batuan itu terbentuk. Dengan kata lain, Klasifikasi Hamblin menekankan pada komposisi mineral yang terkandung dalam batuan dan tekstur dari batuan tersebut.

Komposisi sangat menentukan jenis batuan, beberapa langkah menentukan komposisi menurut Hamblin & Howard ialah sebagai berikut:

  1. Menentukan persentasi dari mineral yang gelap

(a) Acidic (asam) : sedikit mineral gelap, kebanyakan terang (abu-abu).

(b) Intermediate : hampir 50% mineral yang gelap (abu-abu tua).

(c) Basic (basa) : lebih dari 70% mineral yang gelap(gelap-hitam)

  1. Mentukan persentasi perkiraan dan tipe feldspar

(a) Feldspar merahmuda tergolong potassium-feldspar

(b) Feldspar putih/abu-abu mungkin tergolong potasium-feldspar / plagioklas.

(c) Jika feldspar memiliki garis putih melintang, jelas merupakan plagioklas.

  1. Mentukan persentasi perkiraan quartz

(a) 10-40% termasuk keluarga granite-rhyolite

(b) Kurang dari 10% termasuk keluarga diorite-andesite

(c) Tak ada termasuk keluarga gabbro-basalt.

Tekstur batuan yang dibuat Hamblin dan Howard adalah sebagai berikut :

– Faneritik : mempunyai ukuran mineral yang relatif sama dan bisa

dilihat dengan mata telanjang.

– Porfiritik-Faneritik : mempunyai mineral yang berukuran besar (fenokris)

dan kecil (massa dasar) dimana keduanya bisa dilihat

dengan mata telanjang.

– Afanitik : mineral-mineral penyusunnya berbentuk butiran halus

dan tidak dapat lagi dilihat dengan mata telanjang dan

harus menggunakan mikroskop.

– Porfiritik-Afanitik : sama dengan porfiritik faneritik Hanya disini massa

dasar batuan berbentuk butiran yang tak dapat dilihat

dengan mata telanjang.

– Kaca : berstruktur gelas

– Fragmen : batuan ini berasal dari hasil ledakan gunungapi (dapat

merupakan campuran antara mineral dan batuan). Fragmen ini biasa disebut piroklas.

Contoh Penamaan Batuan Beku Menurut Klasifikasi Hamblin-Howard

 

Sebuah batuan bertekstur faneritik. Mengandung 25% mineral olivine, 50% piroksen, dan 25% plagioklas. Batuan ini tergolong dalamjenis batuan intrusif. Sesuai dengan tabel klasifikasi yang dibuat Hamblin dan Howard maka batuan ini bernama Gabbro.

Sebuah batuan memiliki struktur mikrokristalin. Tergolong dalam batuan ekstrusif yang dekat dengan permukaan bumi. Mineral ini berwarna putih, abu-abu, dan merah muda. Mineral ini setidaknya mengandung sedikit fenokris berupa feldspar atau kuarsa sekitar 2-10%. Selain itu kandungan plagioklas didalamnya biasanya 0-33% dan biotite sekitar 10-33%. Sesuai dengan tabel yang dibuat Hamblin dan Howard maka batuan ini bernama batuan Riolit.

 

Kelebihan dan Kekurangan

  1. Kelebihan

Tabel klasifikasi yang dibuat Hamblin dan Howard begitu sederhana,

sehingga memudahkan penentuan nama batuan dengan komposisi yang telah tercantum dalam tabel tersebut.

  1. Kekurangan

Tabel yang terlalu sederhana yang disajikan Hamblin dan Howard membuat masalah warna tidak disajikan dalam tabel tersebut. Yang kedua, tabel yang dibuat oleh Hamblin dan Howard tidak dapat memuat semua batuan. Dan yang terakhir, batuan peperti Tuff, Obsidian, dan Breksi belum dikelompokkan sehingga masuk kedalam kelas khusus.

  1. Klasifikasi Batuan Beku Menurut Russell B. Travis

Pada tahun 1955, Russell B. Travis membuat sebuah klasifikasi batuan beku. Klasifikasi ini merupakan terdetil dibanding klasifikasi lainnya. Tekstur adalah fitur paling mencolok dari batuan beku, dan karena tekstur merupakan salah satu dasar pengklasifikasian batuan beku, maka penting bagi kita untuk memahami definisi dari berbagai tekstur tersebut.

  1. Derajat pengkristalan
  2. Holokristalin : semuanya kristal
  3. Hipokristalin : kristal dan gelas vulkanik
  4. Holohialin : semua gelas vulkanik
  5. Ukuran butir
  6. Phaneritic : terlihat dengan mata telanjang.

– Kasar : diameter lebih dari 5mm.

– Sedang : diameter antara 1-5mm.

– Halus : diameter kurang dari 1mm.

  1. Aphanitic : tidak terlihat dengan mata telanjang.

– Mikrokristalin : masing-masing terlihat dengan mikroskop.

– Kriptokristalin : terdiri dari butir-butir yang tak terlihat dengan mikroskop,tetapi bentuknya kristalin.

Glassy : sebagian besar terdiri dari struktur seperti

kaca/mengkilap.

  1. Hubungan Antar Butir
  2. Granular : terdiri dari butir-butir equidimensional / dengan

dimensi yang sama.

  1. Equigranular : terdiri dari butir-butir dengan ukuran yang hampir

sama.

  1. Granitic : hypidiomorphicgranular.
  2. Porphyritic : terdiri dari butiran-butiran dengan satu atau lebih

ukuran, dengan groundmass yang lebih halus.

  1. Diabasic : terdiri dari piroksen anhedral (atau amphibole),

terletak di antara plagioklas yang tak teridentifikasi.

  1. Ophitic : terdiri dari plagioklas laths yang mendekati piroksen.
  2. Pegmatitic : terdiri dari butir2 yang memperlihatkan kisaran

ukuran yang luas, tetapi jelas lebih besar dari batuan- batuan sebelumnya.

  1. Aplitic : allotrimorphic-granular, sugary (berbutir halus).
  2. Derajat Penampakan Kristal dalam Bentuk Butir (bentuk kristal)
  3. Yang mewakili dalam bentuk butir:

Euhedral (idiomorphic, automorphic) : bentuk dan batas kristal baik

Subhedral : hanya sebagian yang dibatasi permukaan kristal (bentuk sedang,batasnya ada yang baik ada yang jelek)

Anhedral (xenomorphic) : tak dibatasi permukaan kristal.

  1. Yang mewakili tekstur batuan beku

– Panidiomorphic : terutama terdiri dari butir-butir euhedral.

– Hypidiomorphic : campuran antara anhedral dan subhedral dan atau euhedral.

– Allotriomorphic : terutama terdiri dari butir-butir anhedral.

  1. Beberapa Tekstur Batuan Vulkanis yang Umum
  2. Vesicular : mempunyai lubang-lubang tubular
  3. Amygdaloidal : memiliki amygdule (pengisi lubang-lubang yang

terdiri dari secondary mineral / accessory mineral)

  1. Pumiceous : berlubang-lubang banyak, halus, dan tubular.

(banyak terdapat di batuan vulkanis silika)

  1. Scoriaceous : berlubang-lubang banyak, kasar, dan spherical (banyak terdapat di batuan vulkanis dasar)
  2. Spherulitic : dengan unsur/material kristalin (spherulites).

Menurut Russell B. Travis selain dengan melihat teksturnya, komposisi batuan seperti mineral utama, mineral tambahan khas menjadi factor untuk menentukan batuan secara detil. Selain itu, Russell memberikan indeks warna bagi masing-masing batuan, yang mana menjadi nilai lebih bagi pengklasifikasian batuan oleh Russell tersebut.

Contoh Penamaan Batuan Beku menurut Klasifikasi Russell B.

  1. Nama Batuan : Granit
  2. Deskripsi :

1) Komposisi Mineral

– Potash feldspar > 2/3 feldpsar total

– Kuarsa > 10 %

– Mineral utama : hornblende, biotit, piroksen, muskovit.

– Mineral tambahan : sodic amphiboles, aegirine, cancrinite, sodalit, tourmaline.

2) Index Warna = 10

3) Tekstur

Granit memiliki tekstur Equigranular. Mineral-mineral yang terkandung di dalamnya dapat dilihat langsung oleh mata.

 

 

 

  1. Nama Batuan : Diorit
  2. Deskripsi :

1) Komposisi Mineral

– Plagioklas > 2/3 feldspar total

– Potash feldspar <>

– Sodic plagioklas

– Kuarsa <>

– Mineral utama : hornblende, biotit.

– Mineral tambahan : sodic amphiboles, piroksen, feldspatoid.

2) Index Warna = 25

3) Tekstur

Diorit memiliki tekstur Equigranular sehingga mineral-mineral yang terkandung di dalamnya dapat dilihat langsung oleh mata.

 

Kelebihan dan Kekurangan

  1. Kelebihan

Kelebihan yang dimiliki klasifikasi batuan beku yang dibuat Russell B. Travis adalah penyajian klasifikasi yang dibuat secara lengkap dan detail untuk setiap batuan. Ditambah lagi apabila kita melihat tabel yang dibuat Russell B. Travis sebuah batuan dapat dijelaskan secara rinci. Russell B. Travis juga membagi komposisi mineral penyusun menjadi 2 yaitu mineral primer dan sekunder. Selain itu Russell B. Travis membuat rincian warna yang lebih jelas karena dia mencantumkan nomor indeks warna dari setiap batuan sehingga hal ini akan lebih memperjelas kita saat mempelajari warna dari mineral penyusun batuan beku.

  1. Kekurangan

Kekurangan yang dimiliki Russell adalah penyajian tabel yang terlalu detil dan lengkap kadangkala membuat tabel ini sulit untuk dipelajari apalagi untuk diingat. Padahal kita ketahui bahwa kita harus cepat dapat menyimpulkan nama sebuah batuan saat kita menemukan sebuah batu yang ada dilapangan tanpa harus menunggu waktu yang lebih lama.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Skinner, Brian. 1979. Rocks and Rock Minerals. Canada: John Wiley and Sons.
  • Soetoto, Ir. 2001. Geologi Dasar. Yogyakarta: Unpublished.
  • Travis B.R. 1955. The Rock Book. Quarterly of The Colorado School of Mines.
  • Fenton. 1940. The Rock Book. New York: Doubleday Company, inc.
  • Hamblin, W.K, Howard, J.D. 1964. Physical Geology 3rd Editon. Minnesota: Burgess Publishing Company.